Lazimnya, suara paling familiar di kantor media adalah gemeretak kibor komputer yang berkejar-kejaran dengan bunyi klik mouse. Namun, Sabtu (18/2) siang kemarin, kantor Hipwee lebih mirip tempat hiburan arcade games ala Timezone yang kebetulan ganti cat orange biar lebih imut. Ingar bingar musik dance “Bad Romance”-nya Lady Gaga dari Kinect XBox 360 beradu dengan teriak-teriakan heboh empat pria yang (mencoba) mengikuti tiap gerak gerik karakter di layar permainan Just Dance. Dua pria di antaranya bertubuh lebih atletis, kendati gerakan yang mereka peragakan terlalu tidak menentu untuk terlihat sebagai sebuah cabang olahraga. Sepasang pria berkaos kompak kuning cerah itu adalah Chicco Jerikho dan Maruli Tampubolon, sampai di sini kalian pasti tahu mereka bukan atlet.

Jarum jam menunjuk pukul 10.15, terlalu siang kelihatannya untuk senam pagi. Sejatinya kedatangan Chicco dan Maruli disertai beberapa kru perjalanan itu memang bukan demi buang keringat, melainkan mempromosikan film Buka’an 8. Sore harinya akan digelar Gala Premiere atau pemutaran perdana film tersebut di Jogja City Mall. Buka’an 8 adalah film pertama yang diproduseri oleh Chicco sekaligus film komedi pertama yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko.

Advertisement

Garis besar ceritanya simpel namun punya premis yang menarik hati. Tokoh utamanya, Alam (Chicco) adalah representasi generasi millenial yang sangat vokal dan aktif di media sosial. Film ini mengambil plot cerita satu malam di mana ia harus mengantarkan dan mendampingi istrinya, Mia (Lala Karmela) menjalani proses kelahiran anak pertama. Konflik muncul dari watak Alam sendiri yang tidak mendukung hasratnya memberikan yang terbaik bagi istrinya (kamar VIP contohnya). Tantangan bagi Alam ini diperkeruh dengan kedatangan mertuanya (diperankan oleh Sarah Sechan dan Tyo Pakusadewo) yang tentu intimidatif. Film ini tentang generasi millennial, perilaku media sosial, proses persalinan, dan restu mertua. Relate adalah istilah yang paling ditekankan Chicco untuk mewakili Buka’an 8.

Pasca sesi ngos-ngosan usai dan keringat akibat jebakan Kinect itu mengering, obrolan Hipwee dengan Chicco pun dimulai. Sementara itu Maruli yang berperan sebagai dokter di Buka’an 8 masih menikmati aktivitas ngasonya, untuk nanti bergabung di tengah obrolan. Simak!

img_01441

Seperti apa generasi millennial dari kacamata Chicco?

Advertisement

Chicco: Yah, sebenarnya generasi ini ada bagusnya sih. Tapi kalau tidak balance dengan kehidupan yang riil ya tidak baik. Akhirnya kita malah menyianyiakan apa yang ada di depan mata kita. Lebih mementingkan yang ada di dunia maya. Contohnya seperti karakter Alam yang saya mainkan ini. Istrinya lagi hamil, dan sudah di fase buka’an, tapi ada beberapa persoalan di luar yang sebenarnya bukan prioritas malah lebih diurusin. Akhirnya persoalan utama malah jadi kegeser.

Salah satu definisi menyebutkan generasi millenial adalah mereka yang lahir dari tahun 1980 sampai 2000-an. Artinya, Chicco sendiri (lahir 1984) tergolong di dalamnya. Tapi di luar parameter usia, seberapa berjarak Chicco dengan tokoh Alam?

Chicco: Sejujurnya di zaman sekarang, apalagi di profesi saya, butuh yang namanya gadget untuk mempromosikan film, atau melakukan hal lain yang menyangkut pekerjaan. Jadi untuk menghidupkan tokoh Alam itu sebenarnya tidak terlalu berjarak dengan saya. Karena saya benar-benar mengalami sendiri secara pribadi seperti apa generasi millennial itu. Tinggal menambahi detail-detailnya saja. Alam ini ‘kan juga tengah dalam fase seorang suami yang menghadapi kelahiran anak pertamanya. Nah, bagaimana cara saya menghidupkan tokoh Alam ini? Ya saya riset dari teman terdekat, meliputi Angga Dwimas Sasongko dan teman-teman yang lain.

Seperti apa riset yang dilakukan Chicco terkait peran suami yang tengah menanti proses persalinan sang istri?

Chicco: Karena saya belum pernah mengalaminya secara langsung, ya saya bertanya ke teman-teman yang pernah melewati fase itu, salah satunya Angga. Cerita ini lahir juga gara-gara Angga baru saja dikaruniai seorang anak. Dari hasil obrolan saya dengan Angga, kita memutuskan bikin film komedi. Saya ingin mencoba sesuatu yang baru, dan kebetulan ini juga film komedi pertama Angga. Akhirnya kita menemukan cerita tentang suami yang menunggu kelahiran anak pertama. Kebetulan saya melihat betapa paniknya Angga saat menunggu anak pertamanya lahir. Di satu sisi dia harus menunggu istrinya dan menyelesaikan urusan rumah sakit, di sisi lain dia juga mesti memikirkan film Surat Dari Praha.  Nah, itulah yang kita capture dan jadi bahan ngobrol ke Salman Aristo. Sebenarnya idenya spontan, ini film yang sangat personal buat saya, Angga, dan Mas Salman.

img_0126

Apa adegan paling emosional untuk Chicco di film ini?

Chicco: Yang paling emosional itu ketika melihat bayi keluar dari rahim istri saya (Mia). ‘Kan saya belum pernah melewati rasanya. Kalau saya tanya ke orang yang sudah pernah mengalaminya, mereka pasti bilang kalau itu adalah perasaan paling bahagia yang pernah mereka rasakan. Kebetulan saya juga suka dengan anak kecil, dan  di film ini kita syuting pakai bayi riil.

Apakah ada perspektif Chicco tentang rumah tangga atau aspek kehidupan lain yang berubah setelah melakukan proses syuting di film ini?

Chicco: Jelas. Pertama, saya jadi lebih mensyukuri hidup dan lebih sayang dengan orangtua, karena kemudian saya merasakan bagaimana susahnya menjadi seorang ibu. Begitupun jadi seorang bapak, yang harus memperjuangkan istri dan anaknya untuk selamat, serta mati-matian cari uang untuk membayar rumah sakit. Banyak juga yang lain, seperti dampak untuk millennial generation, yang mana saya alami juga. Jangan terlalu sibuk dengan dunia maya, harus bisa balance.

Nama lain seperti Reza Rahadian sudah banyak dikeluhkan karena dianggap terlalu sering tayang di layar lebar. Sebagai aktor yang belakangan juga sangat laku, apakah Chicco mempertimbangkan frekuensi tampil dalam memilih peran?

Chicco: Pertimbangannya lebih ke karakter yang akan saya mainkan. Soalnya saya juga tergolong baru jadi aktor di film, sehingga masih banyak peran yang harus saya jalani. Karena semakin banyak pengalaman akan membuat saya semakin matang. Akan ada semakin banyak data yang bisa saya pakai di dunia seni peran. Jadi kalau semisal ada tawaran peran yang tidak terlalu signifikan perbedaannya dengan karakter sebelumnya ya akan saya pertimbangkan dahulu.

Berarti bukan masalah frekuensinya ya?

Chicco: Bukan, saya lihat karakter peran dan ceritanya.

 

Selain sebagai hiburan, apa alasan orang harus menonton Buka’an 8?

Chicco: Alasannya adalah karena sebenarnya film ini relate dengan apa yang terjadi sekarang di sekitar kita. Soalnya film ini benar-benar mengalir senatural mungkin. Film ini menceritakan 24 jam dari waktu kontraksi sampa terjadinya kelahiran. Ini relate dengan pasangan yang baru menikah, atau yang sedang menanti kelahiran anaknya. Relate juga dengan suami yang ingin membuktikan bahwa ia adalah suami ideal yang bisa bertanggung jawab dengan rumah tangganya. Begitupun untuk pasangan yang ingin merebut restu…. nah, ini juga salah satu konflik di film ini.

[“Mau ngobrol dengan Maruli juga?” Chicco tiba-tiba menawari. “Boleh,” sahut saya. Ia lalu berteriak memanggil rekannya tersebut di meja seberang. Maruli lantas mendekat dengan membawa secangkir kopi, “Maaf ya, agak ngantuk. Kurang tidur.”]

img_0108

Selain lebih riuh dalam bicara, logat Batak yang khas dari aktor dan penyanyi ini ternyata bikin isi obrolan Hipwee lebih ramai dan kaya, klik Halaman Selanjutnya ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya