Nyuwun Pesugihan – Chapter 1

nyuwun pesugihan chapter 1

Aku menjelma seperti Tuhan. Atau … mungkin saja aku telah menjadi setan. Pasalnya, tiba-tiba saja aku bisa melihat diriku sendiri tengah membangunkan Risa di tengah malam buta. Diriku yang bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek hitam duduk di tepi ranjang sambil menggoyang-goyangkan tubuh biniku itu.

“Ris, Risa, bangun, Ris,” kata diriku.

Risa menggeliat seraya membuka matanya perlahan. “Memangnya sudah pukul berapa, Mas?” tanyanya dengan wajah yang tampak masih mengantuk. Dia begitu enggan menggerakkan tubuhnya untuk sekadar duduk.

“Sudah lewat pukul satu malam,” jawab diriku seraya turun dari ranjang. “Lekas kamu cuci muka, biar saya yang siapkan semuanya,” lanjutku yang kini sudah berjongkok.

Aku tidak tahu apa yang hendak dilakukan diriku dan Risa. Selain itu, aku masih bingung, bagaimanapandanganku bisa terlepas dari diriku dan menyaksikan itu semua seolah seolah dari mata orang ketiga?

Risa akhirnya bergerak perlahan sambil menguap. Dia turun dari ranjang, lalu melangkah ke ruang belakang. Aku tidak mendapati Rini—anakku yang berusia 7 tahun—yang biasa tidur bersamaku dan Risa. Sepertinya diriku yang tengah bersama Risa juga tidak memedulikan absennya Rini. Entah apa yang sudah terjadi.

Aku kembali mengalihkan pandangan ke arah diriku yang kini tengah menarik tampah dari kolong ranjang. Aku bisa melihat dengan jelas tampah itu berisi kembang tujuh rupa. Di bagian tengahnya ada baskom, tempat berdirinya sebatang lilin.

Bagaimana aku bisa menyaksikan diriku sendiri? | ilustrasi: hipwee via www.hipwee.com

Risa kembali dari kamar mandi. Meski wajahnya sudah dibasuh air, tetap saja rasa kantuk masih tergambar di wajahnya itu. Dia mengambil baskom berisi lilin, lalu menyimpan tampah berisi kembang tujuh rupa kembali ke kolong ranjang. Dia lantas duduk bersila di depan baskom. Dengan mulut berkomat-kamit dia menyalakan lilin menggunakan korek api. Entah apa yang dia gumamkan, mungkin sebuah mantra setan.

Aku melihat diriku membuka pintu lemari pakaian. Diriku mengambil jubah hitam dan mengenakannya. Lantas diriku berjongkok dengan mulut yang berkomat-kamit membaca mantra yang entah bagaimana bunyinya. Lalu, diriku bergerak dan memosisikan tubuh seperti bersujud. Seketika diriku berubah menjadi sejenis hewan ungulata—hewan berkuku atau hewan berkikil—berkaki empat, berbulu hitam kasar, berhidung lemper, dan bermoncong panjang.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis, novelis, script writer, ghost writer, editor. Traveler, bermusik.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi