4 Pelajaran Hidup yang Bisa Dipetik dari Pejuang Wi-Fi Gratisan. Anak Kos Harusnya Paham sih

Pejuang Wi-Fi gratisan

Nggak semua orang beruntung rumah atau kosnya dilengkapi Wi-Fi. Nggak banyak juga yang punya bujet kuota setiap bulannya. Misalnya anak kos, daripada beli kuota mending buat makan dong. Keterbatasan ini akhirnya membuat mereka berpikir, bagaimana cara untuk mendapatkan akses internet tanpa harus mengeluarkan uang. Maka, tercetuslah ide mencari koneksi internet gratisan. Sasarannya banyak, mulai dari sekolahan, kampus, taman kota, dan lain-lain.

Advertisement

Sebagian dari kamu pasti pernah menjadi pejuang Wi-Fi gratisan. Adakalanya muncul perasaan malu dan takut ketahuan teman. Namun kamu tetap berpegang teguh pada pendirian โ€œngapain malu, toh, pakai baju?โ€. Alasan lain tentu saja kepepet. Buat yang belum tahu, sebenarnya banyak pelajaran hidup yang didapat saat menjadi pejuang Wi-Fi gratisan lo. Inilah 4 pelajaran hidup itu.

1. Menjadi pejuang Wi-Fi mengajarkan kita soal kerja keras. Kalau mau dapat sesuatu, ya, harus mau berjuang

Paling enak rumah temen sih, tapi ortunya galak. via hariannusantara.com

Orang yang mencibir pejuang Wi-Fi biasanya hidup berkecukupan. Kalau ngomongin mahasiswa, mereka ada pada tipe yang uang bulanannya banyak. Mereka nggak mencari Wi-Fi karena memang ibu kos telah memfasilitasi atau mampu beli sendiri. Beda cerita sama kita yang serba pas-pasan.

Dari perjalanan mencari Wi-Fi yang penuh lika-liku, kita seperti diingatkan pada nasihat ayah, โ€œKalau mau dapat sesuatu, kamu harus berjuang.โ€ Mau ngerjain tugas, harus ke kampus dulu. Mau download film harus cari posisi yang tepat agar sinyalnya kuat. ๐Ÿ˜€

Advertisement

2. Mondar-mandir cari sinyal yang kelihatannya ngeselin, bagi pejuang Wi-Fi gratisan ini jadi ajang latihan kesabaran

Mondar mandir cari sinyal. via d1maz.blogspot.com

Kualitas koneksi bergantung pada sinyal. Ketika pergi ke suatu tempat yang terdapat koneksi internet, kamu mesti tahu di mana titik sinyal paling kuat. Maka jangan mengeluh kalau mesti mondar-mandir. Nggak ada kenikmatan yang bisa diraih dengan instan. Bagi pejuang Wi-Fi, mondar-mandir cari sinyal sudah bukan lagi gangguan, melainkan tantangan yang mesti ditempuh untuk melatih kesabaran diri. Hidupnya filosofis sekali, ya! ๐Ÿ˜€

3. Di tempat free akses Wi-Fi kamu bisa dapat teman baru. Di sinilah kamu akan merasa bahwa hidup patut disyukuri ๐Ÿ˜€

Dapet temen. via ikaddanu.blogspot.com

Bukan cuma kamu doang yang mengharap pada Wi-Fi gratisan. Kamu akan temukan di lokasi free akses orang-orang dengan motif yang sama. Mondar-mandir cari sinyal, bawa terminal, bawa camilan. Awalnya kamu akan cuek-cuekan dengan mereka, lama-lama kamu jadi kenal dan akrab karena sering ketemu di lokasi. Di situlah kamu akan sadar bahwa hidup susah bukan cuma kamu doang yang mengalami. Akhirnya kamu bisa menerima dan menghayati nasibmu~

4. Menjadi pejuang Wi-Fi mendorong kita untuk belajar IT. Nggak semua tempat itu punya Wi-Fi gratis, ada yang mesti bobol dulu ๐Ÿ˜€

Advertisement

Asal jangan jadi hacker aja! via jagad.id

Berkutat dengan sinyal hampir tiap hari bikin pejuang Wi-Fi sedikit tahu tentang IT. Terutama soal membobol password Wi-Fi. Awalnya mereka googling, lalu mempraktikannya sendiri. Nggak sampai di situ, ada kesenangan sendiri setelah mereka berhasil. Kesenangan ini yang mendorong mereka untuk belajar hal-hal lain tentang dunia IT. Mulai dari cara download dan pasang VPN, antivirus, software laptop, sampai dunia peretasan. Nah, khusus yang terakhir, jangan ditiru, ya! Itu kriminal.

Koneksi internet kini menjadi kebutuhan penting manusia. Terutama anak kos yang punya banyak kebutuhan informasi, dari materi kuliah, lowongan pekerjaan, sampai konten hiburan. Jangan pernah malu menjadi pejuang Wi-Fi gratisan selama memang koneksinya disediakan gratis. Sebagaimana makanan yang disediakan pemilik rumah saat bertamu, kalau nggak disikat, ya, mubazir.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Fiksionis senin-kamis. Pembaca di kamar mandi.

CLOSE