Lalalala… Yeeyyeyeye.. Lalala-yeye.. Laalaa?

Yeyeye!

Lalala Yeyeyeye! Yeyeyeye! Lalalaala!

Di jaman sekarang, profesi kian beragam. Polisi, dokter, guru, atau bahkan presiden, mungkin udah jadi profesi yang selalu terdengar sebagai sebuah cita-cita di masa kanak-kanak kita. Seiring berjalannya waktu, semakin kita dewasa, muncul profesi-profesi lain yang tak terduga dan tak terpikirkan. Siapa kira menjadi penonton sebuah acara juga adalah sebuah profesi? Kendati sejumlah pihak mencibir, tapi pada kenyataannya masih banyak orang yang setia menjadikan kegiatan menonton sebuah acara konser musik sebagai profesinya. Bahkan, banyak juga dari penonton bayaran ini yang merupakan lulusan sarjana.

Belakangan, profesi penonton bayaran di acara musik pagi hari mulai ramai diperbincangkan lantaran terungkap bahwasanya pendapatannya tergolong besar untuk profesi yang seolah tidak menuntut kepiawaian atau capaian akademis khusus. Weits, tapi apa benar menjadi penonton bayaran semudah dan seasyik itu?

Di antara profesi konvensional seperti dokter, guru, atau polisi, perkenalkan profesi unik, yakni penonton bayaran!

Penonton bayaran. via m.lakeybanget.com

Penonton bayaran adalah sekumpulan orang yang meramaikan sebuah acara musik dengan sorak sorai dan tepuk tangan mereka. Mungkin banyak dari kamu yang sudah familiar dengan profesi ini. Penonton bayaran ini identik dengan dandanan necis, bahkan sebagian orang berpandangan dandanan mereka norak atau alay. Namun, jangan sekalipun meremehkan profesi yang satu ini karena geliat profesi ini kian berkembang.

Kamu yang bekerja kantoran 8 jam sehari mungkin bakal gemas dengan mereka yang menjadi penonton bayaran. Kerja yang santai dan dibarengi dengan penghasilan yang terbilang lumayan.

Advertisement

Ritme kerja yang santai dan penghasilan yang lumayan. via m.tempo.co

Ritme kerja penonton bayaran bisa dikatakan santai. Tugas para penonton bayaran yang pertama adalah hadir tepat waktu di sebuah acara. Setelah itu menjadi pemandu sorak sepanjang acara televisi tersebut berlangsung. Bertepuk tangan, tertawa lepas, joget, dan bersorak-sorai adalah aktivitas yang wajib penonton bayaran lakukan. Konser musik di televisi dirasa hambar tanpa kehadiran penonton bayaran. Hal tersebut menjadi tanda bahwa betapa besar peran penonton bayaran dalam sebuah acara.

Kamu yang bekerja kantoran sedikitnya mungkin memendam rasa iri jika melihat tuntutan kerja penonton bayaran yang rileks dengan bayaran menggiurkan. Rata-rata penonton bayaran mengantongi Rp 20.000 – Rp 50.000 di setiap lokasi acara (jam kerja paling lama 2 jam). Beberapa dari mereka ada yang mendapat bayaran lebih dari itu, hingga Rp 200.000 per acara. Bahkan jika diakumulasikan, pada bulan tertentu seperti bulan Ramadan, mereka bisa mendapat penghasilan Rp 6-8 jutaan/bulan. Bandingkan dengan pekerja kantoran fresh graduate yang mendapat penghasilan Rp 2,5 – 3 juta per bulan dengan jam kerja minimal 8 jam sehari. Lumayan ya perbedaannya?

Menjadi penonton bayaran berarti kamu punya kesempatan untuk bertemu artis dan penyanyi tenar. Kayaknya asyik ya?

Senengnya bisa ketemu Raffi tiap hari di D*shy*t. via www.kapanlagi.com

Sukanya menjadi penonton bayaran adalah kamu punya banyak kesempatan untuk bertemu selebriti yang tengah naik daun. Misalnya band termahsyur sekelas Noah, Slank, atau penyanyi setenar Raisa dan Isyana Sarasvati. Setidaknya kamu punya kesempatan untuk berfoto bareng artis idolamu yang kebetulan menjadi pengisi acara di acara tersebut. Atau buat kamu yang menjadi penonton bayaran di D*hsy*t, nikmati kesempatan untuk melihat langsung sosok Raffi Ahmad yang fenomenal.

Muncul di TV adalah hal sederhana yang menyenangkan bagi sebagian orang. Bagi penonton bayaran di acara musik pagi hari, hasrat itu jelas terpuaskan.

Cieee muncul di TV… via m.lakeybanget.com

Selain punya kesempatan bisa bertemu selebriti ternama, bisa muncul di televisi secara rutin juga adalah hal yang ditawarkan dari menjadi penonton bayaran. Karena bagi sebagian orang, bisa sering muncul di televisi adalah hal sederhana yang membahagiakan.

Namun selayaknya profesi lain, penonton bayaran nggak selamanya bahagia. Duka selalu ada. Cibiran orang misalnya.

Padahal banyak dari mereka yang sukses dari profesi ini, sebut saja Elly Sugigi sang koordinator penonton bayaran yang punya penghasilan yang lumayan. via www.harianindo.com

Belum lagi penghasilan yang lumayan itu biasanya mudah habis untuk makan sehari-hari dan membeli make up serta baju. Karena menjadi penonton bayaran dituntut untuk berpenampilan necis.

Hal yang tidak mengenakkan dari menyandang status penonton bayaran adalah banyaknya pihak yang belum bisa menerima kenyataan adanya profesi ini.  Tak sedikit orang yang memandang sebelah mata terhadap profesi ini. Lebih-lebih, profesi ini sering dijadikan representasi dari label alay yang populer di kalangan anak muda. Cibiran dan olokan mesti sehari-hari dihadapi.

Belum lagi penghasilan yang lumayan itu biasanya rentan ludes untuk makan sehari-hari dan membeli make up serta baju. Pada akhirnya ini tergantung lagi pada manajemen keuangan pribadi individunya sendiri sih. Akan tetapi perlu digarisbawahi juga bahwa selaku profesi yang bekerja di depan kamera, penonton bayaran pun dituntut untuk merawat penampilan. Dan itu tak pernah murah.

Bahkan tak sedikit yang terganjal restu orangtuanya, hingga melakoni profesi ini diam-diam.

Banyak dari penonton bayaran yang melakoni profesinya diam-diam. via basrulkidal.wordpress.com

“Ada yang pernah lihat terus tanya, ‘Ngapain kamu seperti itu? Kamu kan kuliah, cari kerja lain saja’,” ucap Yeyen, seorang sarjana lulusan sebuah universitas di Pekanbaru, Riau.

Yeyen via entertainment.kompas.com.

Tak sedikit juga dari mereka yang mencari nafkah melalui profesi ini tak kunjung mendapat restu dari orangtua. Adalah konsekuensi tatkala keluarga dan kerabat mereka memandang sebelah mata terhadap profesi ini. Sesuai persepsi yang beredar, penonton bayaran dianggap sebagai profesi yang memalukan.

Faktanya, realitas yang dialami penonton bayaran lebih pelik dari aktivitas kerjanya. Sekilas seperti tanpa tantangan. Sekedar butuh dandanan mencolok, muka tebal, plus keluwesan dan kedisiplinan dalam mengikuti koreografi, lalu pundi-pundi mengucur begitu saja. Nah, ternyata ada situasi-situasi yang mesti dihadapi di luar itu. Belum lagi profesi ini sangat bergantung dengan keberlangsungan acara-acara musik pagi hari yang agaknya cepat atau lambat akan menemui masa surutnya. Jadi ada banyak pertimbangan nih sebelum kamu terjerat ke bujuk rayu profesi tersebut. 🙂