'Ayat-Ayat Cinta 2' bolehlah ditonton sebagai dakwah, tapi tidak sebagai film yang baik

3/10
RATING

.

Bila kamu sempat bertanya-tanya kenapa dalam satu dasawarsa terakhir ini menjadi lazim di bioskop adanya film-film asmara dengan konteks islam yang kuat, posternya memasang paras wanita berjilbab (kadang bercadar), berjudul seputar “surga” atau “cinta”, lalu kisahnya meminjam set luar negeri, maka ada pengaruh Ayat-Ayat Cinta di sana.

Advertisement

Lebih dari film. Bila kamu juga sempat bertanya-tanya kenapa dalam satu dasawarsa terakhir ini di Indonesia mulai lebih jamak wanita muslim mengenakan kerudung, silih berganti muncul mode busana muslim terbaru, banyak ulama seleb naik daun, lalu atribut islam merebak di layar kaca dan tempat hiburan–remaja millenial pasti merasakan transisinya–sedikit banyak juga ada pengaruh Ayat-Ayat Cinta di sana.

Kita bisa membaca fenomena ini lewat konsep pos-islamisasi, yakni gejala bertemunya kebutuhan menjadi religius dan modern sekaligus bagi masyarakat islam di berbagai wilayah. Gejala ini muncul di masyarakat Indonesia pasca 90-an, dan kian melanda di pertengahan dekade 2000-an.

Film Ayat-Ayat Cinta yang fenomenal usai rilis di tahun 2008 berhasil menangkap semangat pos-islamisasi itu, sekaligus mempromosikan nilai-nilai di dalamnya ke jutaan penonton. Menurut Ariel Heryanto dalam buku Identitas dan Kenikmatan, film yang diangkat dari novel milik Habiburrahman El Shirazy ini menampilkan representasi kawula muda muslim yang selain mengejar ketakwaan juga mengangankan pendidikan, gengsi, dan kecanggihan budaya. “Pertama kalinya di layar lebar, mereka menemukan representasi diri mereka, atau setidaknya citra seseorang yang mereka idamkan atau dambakan,” yakni sosok yang saleh tapi tetap mengusung gaya hidup modern.

Advertisement

Film-film islam sebelum era reformasi (terutama di era Orde Baru) cenderung membawa topik persoalan umat islam yang lebih komunal dengan iklim sosial politik sarat konflik. Pokoknya, memperjuangkan islam dalam lingkup kepentingan kaum. Lantas, menurut kritikus film kawakan bernama Eric Sasono, film islam masa kini beralih membawakan kisah yang berorientasi pada kepentingan pribadi, seperti mengejar pendidikan tinggi dan kesuksesan karier, atau meniti bahtera rumah tangga (biasanya poligami) yang sakinah, mawadah, dan barokah.

Apapun, Ayat-Ayat Cinta–bersama baik-buruknya–berhasil menjadi potret wacana ideal dari pos-islamisme itu. Tokoh Fahri misalnya, walau tergolong alim, tapi digambarkan punya penampilan yang necis, pergaulannya cukup terbuka dan toleran, bisa gelagapan jika menghadapi masalah asmara, dan beberapa kali mencoba mengimbangi gaya hidup modern.

Nah, sekuelnya, Ayat-Ayat Cinta 2 tentu tak melewatkan formula ampuh yang kurang lebih sama. Sayangnya, kali ini, film tersebut–beserta novelnya jua–terlalu jauh meninggalkan penontonnya.

[SPOILER]

Ayat-Ayat Cinta 2 berniat memperbincangkan topik yang lebih besar, sayangnya tokoh Fahri tidak mewakili islam. Ia mewakili dirinya sendiri

Doakan Istri saya, Aisyah via www.famous.id

Di film sekuel ini, Fahri (Fedi Nuril) digambarkan lebih SWAG modern. Ia tinggal di Eropa (Skotlandia) dengan harta melimpah, berpendidikan tinggi dan bekerja sebagai pengajar di universitas bergengsi, rupawan plus modis, cukup konsumtif, dan sehari-hari digoda wanita cantik. Ini karakter yang tepat untuk bablas menjadi playboy, rutin ke Alexis, hobi balapan liar, lalu mati kebanyakan junk food

Eh tapi ini Fahri lho. Kendati suka kemewahan seperti Fredrich Yunadi, tapi tentu saja ia tidak seketika membela koruptor menanggalkan iman dan religiositasnya. Bahkan, kepeduliannya terhadap lingkungan sosial sudah di luar nalar orang zaman sekarang yang melihat kantin kejujuran sama dengan makan gratis.

Tokoh Fahri menjadi seakan tiada cela. Memang tidak ada yang salah menjadi orang berwatak luhur yang baiknya tidak ketulungan, tapi adalah konsekuensi jika karakternya menjadi kurang membumi dan sukar terhubung dengan penonton. Apalagi, beberapa tindakan mulianya juga difasilitasi oleh kemampuan finansial yang abnormal. Jika perlu, dia bisa membeli Meikarta untuk menampung seluruh fakir miskin di Skotlandia.

Masih mending jikalau karakter ajaib seperti itu dipakai untuk membicarakan konflik personal sebatas perkara poligami di Ayat-Ayat Cinta. Masalahnya, Ayat-Ayat Cinta 2 membawa isu yang lebih besar, yakni soal bagaimana umat islam seyogianya menyikapi perundungan sosial akibat perang Israel-Palestina, stigma teroris, dan gejala islamophobia. Kisahnya ingin membicarakan isu universal tapi karakter yang dipakai sangat eksklusif. 

Tak sadar dengan titik lemahnya, Ayat-Ayat Cinta 2 malah bergantung begitu saja pada tokoh Fahri yang wagu itu untuk menyisipkan nilai-nilai keislaman. Sejumlah adegan menunjukan bagaimana Fahri melakukan kebaikan di antara penentangan dari karakter lain yang sesama islam. Ini menimbulkan tanya, umat islam sesuai realitas masa kini adalah Fahri atau justru malah mayoritas yang ditentang olehnya? Fahri di film ini tidak mewakili islam. Ia mewakili dirinya sendiri.

Padahal Ayat-Ayat Cinta 2 punya banyak adegan yang sebenarnya berpotensi diisi dengan dialog yang lebih dalam perihal seluk beluk ajaran islam. Sayangnya, selalu berakhir dangkal karena sudah terburu-buru diseret masuk ke kepentingan kisah drama asmaranya, seperti di adegan diskusi tentang posisi kaum perempuan dalam islam di kelas perkuliahan yang diampu Fahri .

Adegan tergagal lain–menjurus absurd–adalah adegan debat ilmiah bertajuk (semacam) “Konflik Timur Tengah Palestina dan Israel”. Persiapan Fahri untuk mengisi acara itu adalah begadang semalaman ditemani referensi literatur bertumpuk-tumpuk, tapi yang keluar dari mulutnya di mimbar hanya beberapa potong kalimat mutiara, yang intinya “mencintai lebih baik daripada membenci”. SERIUS? Mana ilmiahnya??? Debat bumi datar-bumi bulat jauh lebih ilmiah. Padahal sebagai dosen filologi yang keilmuannya adalah seputar kajian bahasa di sumber sejarah tertulis, Fahri seharusnya bisa melihat konflik-konflik itu dari segi historis atau apalah… Lha bapak saya tidak pernah sekolah jauh-jauh, tapi juga tahu kalau “mencintai lebih baik daripada membenci”.

Apa yang menimpa Aisyah membuat Ayat-Ayat Cinta 2 juga bermasalah dalam mengemukakan cara pandangnya terhadap perempuan

Awas kena Celup via id.bookmyshow.com

Seperti film pertamanya, Ayat-Ayat Cinta 2 tampak berhasrat menunjukan bahwa kaum perempuan dalam islam tak diposisikan terbengkalai seperti beberapa anggapan di luar sana. Lagi-lagi ini berakhir kontradiktif.

Coba kita lihat kisah Aisyah (Dewi Sandra) di film ini. Meski awalnya nekat menjaga kehormatan dengan mencacati sendiri vagina dan paras ayunya, namun ia akhirnya berulang kali mengatakan bahwa wanita tanpa itu semua tidak lagi ada harganya. Perspektif pemuliaan wanita tereduksi di titik itu. Memang secara psikologis, lumrah bagi wanita untuk hancur mentalnya dan berpikir demikian dalam kondisi demikian–ditambah punya suami berbakat poligami. Namun, ternyata itu bukan klaim dari tokoh Aisyah saja, melainkan juga klaim filmnya secara utuh. Film ini justru menyepakati pandangan patriarki dengan solusi yang menggegerkan dunia persilatan: transfer wajah.

“Fahri kembali punya istri cantik” adalah ending bahagia di film ini. Dan keputusan melakukan transfer wajah itu sangat instan dan cepat, tanpa ada proses pertimbangan-pertimbangan. Seolah-olah kesempurnaan fisik–tanpa perlu ada perdebatan–adalah kebutuhan primer bagi seorang perempuan untuk menjadi bahagia dan membahagiakan. Keadaan diperburuk ketika Guntur Soehardjanto selaku sutradara memvisualisasikan proses transfer wajah itu seolah ia sedang menyutradarai film Star Wars. 

Fahri memang baik hati terhadap semua orang, tapi langkah-langkah yang ia ambil terhadap Aisyah–yang tidak dicari ketika hilang dan tidak dikenali padahal tinggal serumah–patut dipertanyakan. Transisi dari fasenya kalut kehilangan hingga keputusannya untuk mengikhlaskan, lalu bersenang-senang dengan wanita lain tidak disampaikan dengan baik. Dalam kasus Fahri, ikhlas dan brengsek itu beda tipis.

Sudah sembrono begitu, ketika sadar, istrinya seketika menjadi cantik dengan wajah wanita lain….

Kok wuenak sekali hidupmu, Nak.

Belum kelar! Simak lanjutan review Ayat-Ayat Cinta 2 dengan klik Laman Selanjutnya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya