Saking pemberaninya orang Indonesia, sineas lokal nggak pernah akan kapok menyajikan tayangan horor di layar lebar. Kali ini RANS Films mencoba menyabet Rudi Soedjarwo dengan harapan film horor yang dibintangi aktor 'millenial' ini bakal laris manis. Sayangnya, untuk sebuah karya layar lebar, film ini lebih kepada sebuah tayangan dengan genre membingungkan. Jika hanya dengan elemen jumpscare mampu menggeneralisasikan tontonan jadi horor, maka film 13 The Haunted saya nyatakan bergenre horor. *applause*

4/10
RATING

Sajian film seram memang menyenangkan dan menantang. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar ‘percaya nggak percaya’ dengan hantu selalu dibuat tertarik dengan bukti-bukti samar yang bisa memberi makan rasa penasaran mereka akan hantu. Secara sederhana, hantu bisa ‘dijual’ di negara kita. Konten berbau seram, reality show paranormal, hingga vlog YouTube penampakan di kuburan pun jadi jajanan laris manis dalam gelaran dunia hiburan.

Berawal dari menjamurnya konten mistis dari para pembuat konten di YouTube (sebut saja YouTuber, ini hal yang umum), produser Raffi Ahmad melihat fenomena ini sebagai peluang. Targetnya adalah anak muda yang kebanyakan punya idola dari dunia maya, seperti YouTuber, selebgram (ini juga istilah yang dimaklumi), dan sedang bingung cari film yang pas buat kencanSingkatnya film 13 The Haunted hanya bisa saya simpulkan sebagai film komersil. Tentu saya punya alasan, maka simaklah uraian Hipwee Review berikut.

Motivasi yang cukup mengejutkan bagi sekumpulan remaja kaya raya yang bisa sewa sportboat buat liburan: eksistensi dan balas dendam ke mantan

Belum ketahuan siapa pemeran utamanya, hmmm… via www.inibaru.id

Advertisement

Film ini diawali dengan keceriaan remaja pada umumnya, kumpul bareng teman, nongkrong, dengan dibumbui lika-liku hubungan cinta monyet. Rama, (Al Ghazali) bermaksud untuk bisa ‘menyaingi’ mantan dan pacar barunya yang sukses membuat konten horor di YouTube. Mereka pun kemudian membuat konten yang sama dan terobsesi menaikkan views atau penonton. Meski bermaksud menggambarkan kehidupan milenial yang akrab dengan media sosial, namun 13 The Haunted justru menyakitkan untuk ditonton remaja dengan segudang masalah lain. Ketimbang memilih motivasi demi eksistensi, bukankah lebih baik jika melihat sebuah fenomena media sosial dari sisi yang berbeda dan tetunya bisa dipertanggungjawabkan?

Demi berburu konten seram, geng Rama pada akhirnya harus berkunjung ke sebuah pulau misterius menggunakan yacht yang entah dari mana. Nggak diceritakan latar belakang keluarga dan bagaimana posisi mereka dalam hal finansial. Karena sewa sportboat (atau punya sendiri) dan liburan ke pulau terpencil bukanlah sesuatu yang representatif bagi remaja kekinian.

Jika film ini dikategorikan sebagai horor, elemen jumpscare adalah satu-satunya hal yang ada. Seram, mengganggu, dan menakutkan, jadi urutan ke sekian~

Akting yang belum sempurna dan drama yang kurang mengena. via instagram.com

Sementara industri film horor sibuk meracik formula bagaimana agar tayangan bisa sangat ‘mengganggu’ penonton, 13 The Haunted justru sangat ketinggalan dengan hanya membawa elemen jumpscare yang kadang juga nggak ngagetin. Makeup hantu yang justru jadi lucu, lokasi rumah yang nggak seram, hingga tokoh misterius, gagal jadi elemen yang membuat penonton menjerit dan tutup telinga. Awalnya saya kira Fauzi Baadila yang diceritakan nggak bisa bicara itu bakal jadi sebuah pegas yang membawa elemen kejutan di akhir cerita. Sayangnya, karakter Fauzi yang sudah lumayan tersebut belum ketahuan urgensinya.

Dibanding menyebutnya plot hole, film 13 The Haunted menampilkan banyak plot error yang kurang masuk akal satu sama lain. Tapi jangan sedih, ada sekuel yang mungkin bisa menjawab semuanya, mungkin …

Berarti Al Ghazali yang mengendarai. Ya, nggak? via www.kaskus.co.id

Advertisement

Hingga sekarang, belum ada yang tahu siapa yang mengendarai boat sampai pulau seram di film 13 The Haunted. Hingga sekarang juga belum ada yang tahu, bagaimana Rama dkk menghalau hantu di adegan-adegan terakhir ketika adik Rama terkunci di kamar 13. Mengapa setelah tahu ada kejadian aneh, mereka nggak segera pulang di pagi harinya? Atau sesimpel pertanyaan; apa urgensi Chef Juna diajak main film? Hmm ….

Adegan yang tampak diulur dan guyonan yang kurang membantu sebenarnya bisa disederhanakan. Namun, kalau film ini dituturkan sesederhana premis: anak-anak muda yang liburan di pulau setan, maka durasinya saya rasa nggak akan ada satu jam. Konflik yang sebenarnya kurang menggigit akhirnya membuat film ini akan dikategorikan jadi horor KFC (horor yang banyak tampilan paha-dadanya a.k.a horor seksi—andai Valerie Thomas ditampilkan lebih sering lagi). Tapi bersyukurlah film ini muncul ke permukaan tanpa gimik. Ditunggu saja sekuelnya, Guys.

Pada akhirnya, kita memang insan yang sedang belajar. Belajar membuat karya atau belajar mengomersilkan karya, itu hak masing-masing orang. Namun sebenarnya, menyajikan tayangan berkelas, penuh makna, dan bisa jadi rujukan pembelajaran untuk kritik sosial selalu lebih baik di mata semua orang. RANS Film memang bukan pertama kali ini memberikan suguhan horor ke layar lebar, tapi tampaknya belum juga ada kemajuan berarti hingga kini. Tapi nggak apalah, dukung dan nonton film Indonesia bisa membuat sineas kita menyadari kalau industri ini butuh diperbaiki. Semangat!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya