Film Abracadabra, Cerita Fantasi yang Mungkin Jarang Kamu Temui di Indonesia. Semoga Ada di Bioskop!

review film Abracadabra

8/10

Film Abracadabra ini mempunyai warna film yang unik, karakter fantasi yang memorable, dan layak dihargai atas inovasi, serta upayanya dalam memastikan keberagaman sinema di Indonesia tetap terjaga.

Di dunia ini banyak film fantasi Hollywood dengan segala blockbuster macam Harry Potter, Lord of The Ring, dan lain-lain. Begitu juga film-film surealis atau hyperrealist. Di Eropa ada nama-nama macam Luis Bunuel, Alejandro Jodorowsky, Andrey Tarkovsky, Federico Fellini, dan lain-lain. Di Indonesia saya catat ada film-film awal Edwin berkarya, Another Trip to the Moon buatan Ismail Basbeth, atau Sekala Niskala-nya Kamila Andini. Film Indonesia dengan cerita fantasi/surealis dengan visual yang begitu memikat, baru saya jumpai di film Abracadabra ini.

Advertisement

Film Abracadabra merupakan film pembukaan dalam JAFF (Jogja Asian Film Festival) 2019 yang diselenggarakan pada 19-23 November 2019 di Empire XXI/LPP Yogyakarta yang disutradarai oleh Faozan Rizal. Karena saya merasa film ini cukup berbeda dengan kebanyakan film di Indonesia, maka saya akan memberikan sedikit ulasan film yang diperankan oleh Reza Rahadian ini.

1. Saya mendapatkan dua ‘paket’ dalam film ini, yakni plot dan visual yang menawan!

Reza Rahadian via medcom.id

Biasanya, di film fantasi surealis, plot nggak dijadikan sebagai tujuan pencapaian, tapi berbeda dengan film Abracadabra. Bercerita tentang seorang pesulap bernama Lukman (Reza Rahadian) yang ingin pensiun dari dunia sulap. Di pertunjukannya yang terakhir, dia memasukkan seorang anak dan ibunya ke dalam kotak berukuran 1×1 meter. Ketika tutup kotak itu dibuka, anak dan ibu menghilang. Nahas, si pesulap nggak bisa mengembalikannya. Lantas seorang komisioner polisi berusaha menangkap pesulap itu atas tuduhan penculikan.

2. Pilihan-pilihan karakter dan adegan yang tertuang di film ini bisa disebut inovatif

Karakternya gokil! via twitter.com

Reza Rahadian selalu punya pesona di setiap filmnya. Menurut saya, dia berhasil memainkan pesulap yang frustasi dalam film ini. Penampilan Jajang C. Noer dan Dewi Irawan juga nggak terlupakan. Wardrobe dan tata riasnya pun jempolan. Si peramal kembar, harimau dengan CGI yang baik, serta setting dan warna yang sangat ikonik. Warna kuning di film ini memang unik. Pencapaian visual di film ini seperti membawa harapan baru bagi bentuk-bentuk estetika yang lebih beranekaragam di Indonesia ini.

Advertisement

3. Menonton film ini kita seperti dibawa ke dunia magis

Berasa ada dalam film. via twitter.com

Dunia dengan bentuk, warna, dan suara yang surealis. Kita dipertemukan dengan representasi Frida Kahlo, seorang surrealist painter dari Meksiko, bentuk-bentuk lukisan alam Caspar David Friedrich, dan lukisan yang sangat terkenal dari Leonardo Da Vinci tentang “Perjamuan Terakhir”. Pertanyaan awal saya simpel. Kenapa nggak ada bentuk representasi lukisan Indonesia? Kenapa bentuk-bentuk dunia sulap dan dunia surreal yang dipilih berasal dari tempat yang jauh? Apakah nggak ada bentuk-bentuk di Nusantara ini yang bisa diterjemahkan menjadi Mise en Scene barang satu pun di film ini? Seperti kiranya film surealis, rupanya penonton sendiri yang memang harus mencari jawaban-jawaban itu.

4. Sayangnya ada beberapa kelemahan yang mengganjal di hati dan pikiran

Banyak plot hole. via movreak.blogspot.com

Penggunaan plot yang cukup bisa dibaca, jelas mempunyai keuntungan. Penonton jadi mudah mengidentifikasi tujuan karakter utama. Kita jadi lebih berempati dengan si pesulap. Sisi gelapnya adalah, penonton jadi menagih jawaban-jawaban yang sepertinya kurang memuaskan. Cerita soal komisioner yang gagal jadi pesulap nggak terjelaskan dengan tuntas, kontribusi signifikan dari asosiasi sulap terhadap cerita Lukman dengan kotak miliknya jadi dipertanyakan. Humor-humor slapstick yang terasa nanggung dan nggak pas dengan konsep keseluruhan film.

Tapi lebih dari itu, kalau kadang kita sering mengeluh kenapa film Indonesia gitu-gitu aja, bisa jadi karena kita yang belum berusaha mencari bentuk tontonan lain. Platform ekshibisi bukan hanya bioskop yang gabung sama mal itu, melainkan berbagai festival film. keunggulan kita menonton di festival adalah nggak adanya sensor yang seringnya memasung kreativitas, bertemu dengan kultur dari negara lain, dan juga mendiskusikan hal-hal yang tabu. Karena merayakan keberagaman film Indonesia sama artinya respek terhadap realitas Indonesia yang beraneka ragam.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Senois.

CLOSE