The Blacklust – Chapter 2

the blacklust indah hanaco chapter 2

Membuat Maudy Radeva tertarik itu mudah, tetapi membuat Maudy percaya adalah another level. Pengalaman pahit di masa lalu membuat Maudy menjadi sosok yang tangguh, jeli, dan sedikit paranoid. Lantas, apa yang sudah Kelvin lakukan untuk memikat hatinya?
***

Siapa bilang cinta sejati itu tidak ada? Siapa bilang orang-orang mendekatinya hanya karena Maudy Radeva memiliki uang?

Hadiah dari Kelvin itu benar-benar mengejutkan. Bukan karena lelaki itu membelikan benda yang mahal. Sebab, Kelvin pasti tahu bahwa Maudy tak terlalu menyukai hal semacam itu. Prinsipnya, sesuatu yang terlalu mahal bukanlah hadiah, melainkan suap. 

Maudy menyukai kado ulang tahun pernikahan mereka yang pertama itu karena sangat spesial. Kelvin bahkan menyempatkan diri untuk merancang perhiasan di sela-sela kesibukannya yang menumpuk. Artinya, Maudy mendapatkan benda yang cuma ada satu di dunia ini. Apalagi, desain yang dibuat suami perempuan itu sangat unik sekaligus cantik. 

“Terima kasih ya, Sayang. Aku tak punya stok kata-kata untuk menggambarkan perasaanku dengan tepat,” gumam Maudy dengan perasaan haru yang membuat matanya terasa panas. Bahkan dia pun sampai kehilangan kata-kata, tak menemukan kalimat menyanjung lain untuk mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Kelvin.

Maudy tak asing dengan cinta. Dia pernah beberapa kali merasai seperti apa terikat asmara dengan seseorang. Salah satunya adalah dengan Kelvin, yang berakhir dengan pernikahan yang melimpahinya dengan kebahagiaan selama setahun penuh. Namun, Maudy juga cukup mengenal seperti apa patah hati dan perasaan dikhianati yang begitu dibencinya. 

Bukan cuma sekali atau dua kali Maudy jatuh cinta pada orang yang salah. Pria-pria yang hanya ingin memanfaatkan koneksi atau hartanya yang melimpah. Berasal dari keluarga yang sukses secara finansial dan pernah beberapa kali dimanfaatkan dengan sengaja, membuat Maudy mudah mencurigai niat seseorang. Bahkan, bisa dibilang dia adalah orang yang paranoid kendati berada di level rendah. Apa boleh buat, semua itu karena situasi dan pengalaman yang sudah memberi pelajaran berharga.

“Jangan suka menyamaratakan semua orang, Dy. Kalau kamu punya pengalaman buruk terkait masalah komitmen, bukan berarti semua orang adalah pengkhianat,” nasihat ibunya, Rania, salah satu manusia paling praktis yang pernah dikenal Maudy. Ibunya adalah antitesis dari kaum hawa pada umumnya, tak pernah memperturutkan emosi. “Tak ada gunanya menderita trauma karena cuma akan menjauhkan dirimu sendiri dari kebahagiaan.”

“Aku pun tak ingin merasakan trauma, Ma. Tapi sesuatu yang begitu buruk kadang tak bisa lepas dari ingatan begitu saja. Dan sudah pasti memicu reaksi yang kadang sulit untuk  dikendalikan,” Maudy membela diri. “Salah satunya, apa yang Mama sebut trauma itu. Aku tak bisa tetap bersantai andai menghadapi situasi yang mirip dengan pengalaman buruk di masa lalu. Jadi, ini benar-benar bukan keinginanku.”

Ayah Maudy, Ivan, memiliki bisnis konstruksi yang sukses dan masih terus berjalan hingga kini. Sementara ibunya membangun jaringan supermarket premium yang tersebar di sembilan kota besar di Pulau Jawa. Bagaimana dengan Maudy? Sejak SMP dia sudah mencoba merintis usaha sendiri yang semuanya dimulai dari rumah. Mulai dari berjualan kaktus, bronis, hingga makanan beku.  Tak ada satu pun yang berhasil. Namun paling tidak, Maudy mulai belajar menjalankan usaha. 

Kala itu, orangtuanya sudah menapaki kesuksesan finansial masing-masing. Akan tetapi, mereka tak memberikan kemudahan untuk Maudy, seperti cerita-cerita di novel romantis. Dia harus bekerja keras untuk memulai usahanya sendiri. Berbeda dengan kedua kakaknya yang lebih suka fokus pada pendidikan.

“Jalan pintas itu tidak akan membuatmu sukses,” kata Ivan suatu ketika. Jika Rania adalah manusia paling praktis di dunia, ayah Maudy adalah sosok yang sangat realistis. “Kendati itu berupa posisi bagus di perusahaan milik orangtua sendiri. Hal semacam itu tidak akan membuat kalian belajar banyak kecuali bahwa kesuksesan itu diturunkan dari orangtua. Padahal, nyatanya kan tidak. Tiap orang harus bekerja keras. Tiap orang juga punya mimpi sendiri. Anak-anak tak seharusnya menjalani mimpi dari ayah atau ibunya.”

“Aku tahu apa yang Papa maksud,” sahut Maudy, berusaha untuk tak menganggap bahwa dirinya adalah anak malang karena terlahir dari orangtua yang idealis dan teguh memegang prinsip.

“Papa dan Mama akan membiayai semua kebutuhan kalian yang berkaitan dengan pendidikan. Kami akan mengusahakan yang terbaik. Tapi, kami tidak akan pernah memberi jabatan atau posisi tertentu kecuali kalian sudah membuktikan memang pantas untuk itu.”

Kakak sulung Maudy, Ariana, buka mulut untuk memberi respons. “Itulah sebabnya aku akan bekerja di perusahaan yang tak ada kaitannya dengan Papa atau Mama. Aku tak mau selamanya cuma dianggap memanfaatkan hubungan darah di antara kita. Pasti rasanya menyakitkan karena eksistensi kita sama sekali tak dianggap.”

“Betul!” dukung ayahnya. “Terima kasih karena sudah memahami Mama dan Papa,” kata Ivan, setengah bergurau. 

“Terpaksa. Karena kami tak punya pilihan lain,” balas Ariana sembari mencebik.

“Betul. Karena anak-anak tak bisa memilih orang tuanya,” imbuh Maudy. 

Ruang keluarga itu dipenuhi tawa setelahnya. Meski Maudy dan kedua saudaranya menilai bahwa Rania dan Ivan adalah orang-orang yang streng, dia bahagia terlahir di keluarga itu. Semua yang dimiliki Maudy itu yang membentuknya hingga menjadi perempuan tangguh. Perempuan itu tumbuh menjadi orang yang menghargai kerja keras dan kegigihan.

Keluarga Maudy | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

Kedua hal itulah yang ditemukannya pada sosok Kelvin. Lelaki yang tahun ini berusia tiga puluh tahun, lebih muda dibanding sang istri. Mereka berselisih usia sebanyak lima tahun. Namun, Maudy dan Kelvin tak melihat hal itu sebagai masalah berarti. Saling kenal sejak empat tahun silam, awalnya Kelvin bekerja di bagian produksi. Lelaki itu bekerja di pabrik Bag to Bag yang berada di Bogor. 

Maudy dan Kelvin bertukar pandang pertama kali saat perempuan itu melakukan inspeksi mendadak di pabrik pembuatan tas miliknya. Usaha yang dirintis Maudy sejak sebelas tahun silam itu menunjukkan grafik peningkatan yang serius sekaligus signifikan. Kelvin awalnya tak tahu bahwa Maudy adalah pendiri dan pemilik perusahaan tempatnya bekerja.

Tak ada cinta pada pandangan pertama karena Maudy tak memercayai hal-hal semacam itu. Namun, seriring berjalannya waktu dan kerapnya mereka bersua setelah Kelvin mendapat promosi dan pindah ke kantor pusat di Jakarta, semuanya pun berubah. Meski tertarik pada Kelvin, Maudy tak berani melakukan apa pun. Dia berusaha menjaga agar hubungan mereka tetap bersifat profesional. Bukan apa-apa, itu karena dia sudah memiliki pengalaman pahit. Bisa menebak cerita dramatisnya?

Maudy sudah pernah membangun keluarga sendiri sembilan tahun yang lalu. Tepatnya saat dia masih berusia 26 tahun. Kala itu, kekasih satu tahunnya yang bernama Irving, mengajak menikah. Irving lebih tua dua tahun dan sedang membangun karier sebagai pengacara. Lelaki itu bekerja di salah satu kantor hukum terkenal di ibu kota. 

“Aku memang bukan berasal dari keluarga konglomerat. tapi aku yakin akan mampu memberimu hidup yang layak, Dy,” aku Irving. “Makanya aku ingin kita menikah. Kita sudah mandiri secara finansial. Selain itu, dari sisi usia, kamu dan aku sudah cukup umur,” bujuk Irving dengan nada gurau yang terdengar jelas di suaranya. 

“Kamu ingin menikah denganku? Yakin? Apa ini tidak terlalu cepat, Ving?” tanya Maudy. Dia tak bisa menyembunyikan kebahagiaan, tapi Maudy tetap berusaha berpikir logis. “Kita baru pacaran kurang dari satu tahun, lho!”

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Indah Hanaco adalah penulis 53 buah novel. Indah sangat suka menulis novel bertema romance dengan isu kesehatan mental atau kekerasan yang dialami perempuan. Info tentang karya-karya Indah bisa dicek di akun Instagram @indah_hanaco.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi