Ephemeral #1 – Lost and Found

Ephemeral chapter 1

Pertengkaran dengan suami, Oliver, membuat Ivy nekat pergi dari rumah membawa bayinya yang belum 2 tahun. Sayangnya, paspor dan dokumen pentingnya masih ditahan oleh Oliver. Apa yang bisa dilakukan oleh pengangguran tanpa identitas diri dan hanya punya 200 dolar sepertinya di kota megapolitan New York ini?
***

“Dadda … Dadda ….”

Mommy. Bilang lagi, Mommy,” kata Ivy pada anaknya yang belum genap dua tahun sambil mengisi piring anak itu dengan sobekan-sobekan kecil pancake. “Dadda tidak ada di sini. Hanya ada kita berdua,” kata Ivy lagi.

Suara keras laki-laki yang tertawa mengejutkan Ivy. Dia menyangka itu suara besar itu suara suaminya. Ternyata bukan. Suara itu milik lelaki bertubuh besar dengan berewok lebat dan pakaian kemeja kumal berlapis rompi pekerja. Tidak biasanya pekerja seperti dia makan di restoran seperti ini, sekalipun harga di restoran ini jauh lebih murah dari restoran besar lainnya. Biasanya mereka makan di kedai murah yang banyak di pinggir jalan atau untuk yang beruntung memiliki keluarga, bisa membawa bekal penuh cinta dari istri mereka. Pasti kali ini ada keberuntungan yang sedang mereka rayakan.

Keberuntungan.

Satu hal ini tidak bisa dimiliki Ivy. Dulu, dia pikir dia begitu beruntung saat bertemu dengan Oliver di tengah kekacauan pikirannya tentang cinta. Penuh dia berharap Oliver merupakan jawaban dari doa-doanya. Hingga ketika hari itu datang, dia masih berpikir Oliver lelaki yang membuatnya jadi perempuan paling beruntung sedunia seperti yang dikatakan oleh semua orang di pesta itu. Sayangnya, seperti berlalunya pesta itu, berlalu pula keberuntungan Ivy. 

Kini, dia berada di salah satu restoran murah di Downtown New York yang tentu saja harganya jauh lebih mahal daripada warung makan di Jakarta. Di depannya ada piring makanan yang sudah habis dan piring anaknya yang masih tersisa separuh potong pancake. Dia menghitung dengan cermat uang yang dimilikinya, mencoba memikirkan bagaimana cara bertahan hingga berhasil mendapat pekerjaan.

“Aku harus ketemu sama Tobias hari ini juga,” katanya sambil memegangi kepala yang mulai terasa pusing. Uangnya bahkan tidak sampai dua ratus dolar. Apa yang bisa dia lakukan dengan uang itu di Manhattan, megapolitan di Amerika dengan biaya hidup tinggi?

Sebenarnya, bertemu dengan ayah mertuanya itu merupakan opsi terakhir yang ingin dilakukannya di dunia ini. Hubungan Oliver dan orang tuanya sangat tidak baik, bahkan pernikahan mereka tidak atas restu orang tua Oliver. Ivy masih ingat betapa terkejutnya Tobias dan istrinya ketika Oliver membawanya menemui mereka.

Jam sepuluh lewat. Ivy menarik napas dalam-dalam, lalu meminum air putih dalam gelasnya sampai habis. Setelah ini dia punya kesempatan untuk mengisi air putihnya di taman kota. Ada keran air minum yang bisa dipakai pengunjung di sana. Namun, untuk sampai ke sana Ivy harus menggendong Delilah sejauh tiga blok. 

‘Sebuah perjuangan yang bagus untuk memulai karir sebagai gelandangan di New York,’ batinnya sambil menyelipkan uang di bawah piring untuk membayar makanannya dan tips. 

Ivy berdiri memegang baby stroller anaknya. Dia memberikan anaknya biskuit untuk dikunyah sepanjang jalan. Rockwood Building tempat mertuanya bekerja hanya satu blok dari Hannah Dining ini. Dia akan berjalan kaki menuju tempat itu. Tenang saja, dia sudah memakai sepatu sneakers yang bagus dan sudah terbiasa lari pagi setiap harinya. Saat inilah dia harus menunjukkan kemampuannya setelah latihan-latihan itu.

Oliver biasa menyebutnya gadis dengan kelincahan yang menakjubkan. Sejak pertama melihat, Oliver selalu menatapnya dengan mata cokelat gelap kecilnya yang terkagum-kagum.

“Kamu gadis paling menyenangkan yang pernah kutemui,” kata Oliver, satu kalimat yang membuat Ivy menerima lamaran lelaki itu dan mempersilakannya menyeberangi samudra untuk meminangnya. 

Namun, itu dulu, saat hidup masih lebih baik padanya. Kini, dia hanya perempuan yang berusaha untuk mempertahankan hidupnya. Ivy sudah bertekad untuk tidak mengalami hidup yang sama buruknya dengan hidup orang lain juga hidup kedua orang tuanya. Setiap langkah yang dia ambil merupakan bentuk perlawanan terhadap takdir yang menunggunya. 

“Aku perempuan bebas dan bahagia. Aku perempuan yang tidak membiarkan siapa pun menginjakku. Aku tidak akan membiarkan dia membuatku terpuruk, tidak peduli seberapa cintanya aku padanya,” bisik Ivy dalam setiap langkahnya, menguatkan diri sendiri untuk terus berjalan menemui Tobias Glass. Walau sangat ingin pulang sambil menangis, dia tetap melanjutkan langkah.

Gedung Rockwood Building yang terletak di daerah paling ramai dan paling terkenal di Manhattan itu nampak megah dengan warna hitam dan emas yang selama bertahun-tahun menjadi warna kebanggaan Rockwood. Banyak orang, termasuk Ivy, begitu ingin menjadi bagian dari perusahaan terbesar di Amerika itu, Rockwood Corps yang telah menjadi monster bisnis Amerika, berdampingan dengan Rockefeller. 

ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

Perusahaan yang bergerak di bidang perbankan itu menjadi pusat kebencian Oliver. Lelaki itu berpikir bahwa perusahaan itu yang mencuri ayahnya, membuat masa kecilnya yatim. Setiap melihat gedung itu, Oliver selalu membuang muka atau meludah sekali ke tanah. Ivy berusaha untuk tidak memberikan komentar atau mengungkapkan kekagumannya pada bisnis Rockwood seperti yang dipelajarinya di bangku perkuliahan dulu. Dia sendiri mengerti rasanya menjadi yatim walau orang tuanya masih lengkap.

“Aku ingin bertemu Tobias Glass. Aku Ivy Glass, menantunya. Aku tidak punya janji dengannya, tapi kurasa dia akan menerimaku,” kata Ivy pada resepsionis dengan suara yang berusaha dilembut-lembutkannya. 

Perempuan itu melihat pada Delilah yang masih mengunyah biskuitnya. Setelah mengembuskan napas panjang, perempuan itu menelepon Tobias.

Ivy melihat sekeliling gedung itu. Perasaan khawatir yang sejak tadi mengerumuni batinnya mulai terasa lagi. Dia sangat ingin berteriak dan berlari ke sana kemari sambil mendorong anaknya. Tidak satu pun yang dikenalnya di tempat itu. Tidak satu pun orang yang tersenyum padanya. Semua orang dengan pakaian bagus itu berjalan melewatinya, seolah dia tidak ada. Mereka semua tidak memedulikannya.

‘Apa yang kuharapkan? Mereka memang tidak mengenalku. Di sini semua orang tidak mengenalku. Tempat ini jauh berbeda dengan Jakarta. Aku sendirian di sini. Aku tidak punya siapa-siapa selain diri sendiri.’ 

Perempuan dua puluh lima tahun itu berpikir dia akan merasa lebih baik setelah mengatakan hal ini. Ternyata tidak. Dia malah semakin merasa terpuruk. Dia merasa semakin panik.

“Mrs. Glass?” panggil resepsionis itu. Ivy tetap melihat ke lobi besar yang memisahkannya dengan pintu masuk kaca ganda hitam gedung itu. “Mrs. Glass?” ulang resepsionis itu, tapi Ivy tetap tidak peduli. 

Perempuan itu berdeham untuk memanggil dengan lebih keras. “Mrs. Glass!”

Ivy terlonjak. Dia geragapan. Matanya tidak fokus melihat resepsionis yang melihatnya bingung. Setelah berpegang pada meja resepsionis dingin dan menarik napas dalam-dalam, Ivy baru bisa memikirkan di mana dia saat ini. Dia mengatur napas dan berusaha menjelaskan masalahnya. 

“Aku … terkena serangan panik … kurasa,” katanya dengan suara pelan bernada tidak yakin. Dia memang tidak yakin dengan yang dilakukannya, bahkan dia tidak yakin pada diri sendiri.

Resepsionis itu tersenyum tidak nyaman. Dia tidak mengerti serangan panik. Dia hanya mengerti perempuan di depannya telah membuat paginya jadi lebih tidak menyenangkan. 

“Mr. Glass memintamu naik ke lantai sembilan. Dia menunggumu di sana. Jika kamu tidak tahu di mana letak lift, kusarankan kamu melihat tanda panah yang memandu pengunjung baru. Sebelumnya, kamu bisa mengisi data ini dan memakai badge tamu ini. Jika kamu tersesat di dalam sana, gunakan telepon umum terdekat. Kami akan memandumu.”

“Terima kasih,” kata Ivy sambil menarik buku tamu dan menuliskan namanya dengan jari-jari gemetar.

Setelah perjuangannya melawan semua rasa tidak nyaman ini, Ivy benar-benar berharap mendapat sambutan baik. Paling tidak, Tobias menerima cucu yang waktu itu katanya mirip sekali dengan Oliver. Sayangnya, keberuntungan memang sedang tidak ingin dekat-dekat dengan Ivy. 

Tobias menerimanya hanya untuk berkata, “Apa pun yang ingin kamu katakan, jangan pernah katakan padaku. Sejak pertama melihatnya memperkenalkanmu, aku tahu kalau kamu hanya akan menemuiku jika membutuhkan bantuanku. Tidak, Ivy. Tidak akan kuberikan apa pun untukmu.”

ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

Ivy melihat lelaki itu bingung. Dia ingin sekali berkata, “Aku tidak menginginkan apa pun. Aku hanya ingin kamu membantuku meminta dokumen-dokumenku agar aku bisa pulang dan meminta cerai dari anakmu. Aku tidak menginginkan sepeser pun uangmu kalau kamu tidak mau memberikannya.” 

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis yang telah menghasilkan lebih dari 30 judul karya ini masih berusaha menjadi orang baik. Kalau bertemu dengannya di media sosial, jangan lupa tepuk bahunya dan ingatkan kalau dia juga butuh pelukan.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi