The Silent Romeo #8 – Akhir dan Awal

the silent romeo mooseboo

Luna tahu dirinya sudah melakukan kesalahan besar, wajar jika Nash begitu marah. Namun, akankah ada kesempatan kedua untuk Luna? Ataukah Luna dan Nash semata-mata hanya dua orang yang pernah berjumpa dan berpisah begitu saja?
***

Luna mengelap sisa keringat di pelipisnya sore itu. Padahal sudah ada lima buah pendingin ruangan dalam ballroom hotel bintang lima yang dia tempati saat ini. Namun, jumlah wartawan yang hampir menyentuh angka lima puluh orang, jelas membuat pendingin ruangan pun angkat tangan.

Dengan serius, Luna mendengarkan dan mencatat penjelasan dari beberapa petinggi BUMN di depannya pada laptop, terkait peluncuran aplikasi berbasis pertanian itu. Sampai tanpa terasa acara selama hampir dua jam itu pun selesai. 

“Mau langsung ketemu Pak Pri atau makan siang dulu?” tanya Adam, partner in crime baru Luna setelah dia berhasil pindah divisi tiga bulan lalu, sembari merapikan peralatan liputan mereka sore itu.

Hampir saja Luna lupa akan janjinya untuk mewawancarai seorang pemilik kafe yang bisnisnya terkait dengan kasus money laundry salah seorang pejabat. 

“Untung lo ingetin. Sekarang udah mau jam empat, nggak bakal keburu kalau balik dulu. Kita makan di sana aja deh. Mas Guntur udah kasih alamatnya, ‘kan?”

Adam mengiakan. Dia lantas mengirimkan alamat kafe kepada Luna. Ekspresi wajah Luna berubah aneh membaca alamat kafe itu. 

“Friday?” gumam Luna.

“Iya,” kata Adam dengan peralatan sudah tersampir di punggungnya. “Kata Mas Guntur kopi sama pastry di kafe ini terkenal enak.”

“Gue udah tahu,” kata Luna kemudian melangkah pergi meninggalkan Adam menuju tempat parkir.

“Mau makan di sana aja? Lumayan buat ganjel sebelum makan malam,” kata Adam lagi yang dibarengi anggukan oleh Luna.

Sepanjang perjalanan menuju kafe kepala ingatan Luna tidak pernah bisa tinggal diam. Apalagi jingga keemasan di atas kepalanya mengingatkan dia akan suasana kafe itu tiga bulan yang lalu, kala dia nekat berlari menuju kafe untuk meminta maaf kepada lelaki itu. Sebuah perjuangan berujung nihil karena acara pemotretan lelaki itu harus dihentikan akibat serbuan wartawan yang tiba-tiba setelah melihat berita yang Luna buat.

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mooseboo atau yang biasa dipanggil Acuy. Penggiat media digital yang menjadikan kegiatan menulis sebagai pelarian diri dari ganasnya deadline kantor dan berisiknya isi kepala. Untuk tahu lebih banyak karya-karya dari Mooseboo, kunjungi instagramnya di @Mooseboo_

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi