The Silent Romeo #3 – Transaksi Penting

the silent romeo mooseboo

Kepalang tanggung mengetahui rahasia terbesar Nash, Luna mencoba peruntungan untuk membuat transaksi yang menguntungkan. Akankah Nash bersedia untuk pertama kalinya tampil untuk interview dalam bentuk video? Atau lagi-lagi, Luna gagal menggapai cita-citanya?
***

Berkali-kali Luna menelan ludahnya kasar tatkala dia harus berhadapan langsung dengan Nash disebuah co-working space di bilangan Kuningan. Dia masih belum paham alasan Dimas membawanya ke tempat private berukuran sedang ini usai mengobati lukanya di klinik tadi. 

Ringisan Luna lolos ketika nyeri pada lututnya terasa menyiksa. Dia menggeram sebal. Sebal akan keteledoran dan kesialannya minggu ini. Namun, tingkahnya seketika kikuk kala dia sadar bola mata Nash tengah mengamati dia dalam diamnya. Wajah lelaki itu tak lagi panik apalagi kesal seperti satu jam yang lalu. Bahkan dari auranya Luna yakin Nash pasti tengah menyimpan gondok kepadanya.

Tiba-tiba Dimas muncul dari balik pintu ruang meeting yang mereka sewa. Sambil membawa tiga gelas kopi, dia berjalan tergesa lalu duduk di hadapan Luna. Dari ekspresinya, pria bertubuh gempal itu tampak tidak senang dengan kehadiran Luna.

“Lo wartawan?” tanya Dimas tanpa basa-basi. 

Luna mengangguk takut-takut. Matanya bergerak mencari keberadaan CCTV di langit-langit. Setidaknya dia masih memiliki bukti jikalau dua orang pria ini berani macam-macam dengannya. 

“Kalian ini nggak ada takut-takutnya, ya. Udah gue bilangin, Nash itu cuma mau fokus ke model dan nggak akan mau ikut wawancara nggak jelas kalian,” kata Dimas tajam menyerahkan kopi pada Luna dan Nash. “Kalau kepo sama profesi Nash, bisa tanya ke gue. Masih aja ngeyel.”

The Silent Romeo #3 - Transaksi Penting

Dimas mulai marah-marah | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

Luna menarik napas dalam-dalam selagi menahan gelisah yang semakin lama membuat kepalanya mau pecah. 

Namun, tak berbeda jauh dengan Luna, Nash juga nyatanya menyimpan gundah. Dia terlihat memandangi Luna dan perlahan menepuk bahu kiri manajernya. Kedua tangan Nash kemudian bergerak membentuk isyarat. Seakan paham maksud dari Nash, Dimas menggeram dan menepuk jidatnya.

“Di-a u-dah ta-hu?” tanya Dimas menatap Nash dengan kalimat yang seolah sengaja diperjelas. 

Nash mengangguk pelan.

“Nash… Nash…. bertahun-tahun gue berusaha bantuin lo buat nutupin ini semua. Sekarang dengan gampangnya lo malah bongkar. Di depan wartawan lagi,” gerutu Dimas lesu. 

Sementara Nash mengangkat kedua tangannya sambil mengatakan apa di depan Dimas.

“Enggak usah tahu,” sahut Dimas sebal kepada Nash. Dia pun menatap Luna tajam. “Ya udah, sekarang kita main simpel aja. Kamu minta apa untuk nggak bongkar masalah ini ke publik?”

Luna melongo, mata perempuan itu mengerjap cepat. Seolah gagal paham dengan maksud Dimas barusan.

“Mbak, Mbak. Kalau lagi diajak ngomong jangan bengong. Buruan jawab!” bentak Dimas sampai-sampai tubuh Luna menyembul saking kagetnya.

Nash menyentuh pundak Dimas dan menggeleng pelan. Perlahan dia mengetikkan sesuatu di ponselnya.

“Kamu butuh apa dari saya? Wawancara? Tentang apa?”

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mooseboo atau yang biasa dipanggil Acuy. Penggiat media digital yang menjadikan kegiatan menulis sebagai pelarian diri dari ganasnya deadline kantor dan berisiknya isi kepala. Untuk tahu lebih banyak karya-karya dari Mooseboo, kunjungi instagramnya di @Mooseboo_

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi