“Wahahaha Iso ae koen, Cuk!”
“Lu apaan sih cak-cuk, cak-cuk. Gue gak ngarti!”

Pernah ngobrol sama wong Jawa Timur? Khususnya mereka-mereka yang berasal dari Suroboyo dan sekitarnya? Tentu kamu merasa ada yang berbeda dari dengan mereka. Entah cara mereka melakukan sesuatu, cara bicaranya, jalan pikirannya dan masih banyak lagi pembeda antara arek sekitaran Suroboyo dan orang Indonesia yang berasal dari daerah lainnya.

Advertisement

Sebagai arek Suroboyo dan sekitarnya, kamu harus bangga!

Arek Suroboyo itu terkenal tegas. Mereka gak akan pernah mundur kalau memang benar

Suroboyo ancen tegas!

Suroboyo ancen tegas! via jakartagreater.com

Mungkin karena kehidupan di Surabaya yang memang terkesan keras. Dengan banyaknya warga Surabaya yang semakin menambah persaingan kehidupan, sudah wajar jika arek Suroboyo dituntut untuk selalu bertindak tegas. Apalagi hawa Surabaya yang memang panas. Semakin membumbui watak tegas yang ada pada diri arek-arek Suroboyo.

Ketegasan tersebut tercermin dari cara arek-arek Suroboyo mengambil tindakan. Sejak era penjajahan, orasi Bung Tomo hingga sekarang, ketegasan arek Suroboyo selalu terlihat. Gak percaya? Datang saja ke Surabaya. Dari mulai cara bicara hingga tindakan, arek Suroboyo itu tegas! Hehe

Meski arek Suroboyo terkenal tegas, tapi pas ngelawak dijamin bakal sukses bikin ngakak

SRIMULAT :D

SRIMULAT 😀 via indohub.com

Advertisement

“Orang Surabaya tuh keras-keras, ya”
“Eits jangan salah, arek Suroboyo itu humoris, lho.”

Kenal sama Kartolo? atau grup Srimulat? Mereka itu arek Jawa Timur, lho. Ojo salah, grup lawak yang terkenal seantero nusantara tersebut lahir di Suroboyo, cak. Mereka sukses mengocok perut warga Indonesia dengan lawakan khasnya. Meskipun lawakan khas Surabaya itu terdengar kasar dengan adanya kecenderungan omongan yang ceplas-ceplos, tapi emang begitu wataknya arek-arek Surabaya!

Tentunya kalau bicara bahasa, logat Jawa arek Suroboyo jelas terdengar beda dengan Jawa lainnya. Medhok Suroboyo terasa kental ditelinga

Beda loh Jawanya

Beda loh Jawanya via %20iwan-hafidz.blogspot.com

“Nandi? Tak nteni ngarep Mall Malioboro. Aku gawe jaket ireng”
(Dimana? Kutungu depan Mall Malioboro. Aku pake jaket hitam)
“Hah? Kowe nggawe jaket?! Ngapain?!”
(Hah? Kamu bikin jaket?! Ngapain?!)

Kamu arek Suroboyoan yang pernah ngobrol sama cah-cah Jogja dan sekitarnya pasti pernah mengalami miss komunikasi seperti itu. Karena memang ada beberapa kata yang punya beda makna di Jawa Timur dan Jogja, padahal sama-sama memakai bahasa Jawa, loh, mereka. Itulah kenapa sering banget ada salah tangkap ketika kamu dan temenmu asal Jogja kalau pas bicara.

Selain beda urusan kata, medhok Surabaya juga terdengar beda dengan Jawa bagian lainnya. Medhok Surabaya terkesar tegas dan cenderung kasar. Dimana kamu harus memaklumi jika diejek sebagai salah satu bentuk canda. Bahkan candaan yang menurut beberapa orang terkesan kasar saja bisa jadi malah dipandang guyonan belaka oleh arek Surabaya. Hehe

Kamu yang arek Suroboyo kalau ngomong memang identik dengan Hyperbola. Tambahan huruf U jadi buktinya

Suroboyo iku Uuaapik!

Suroboyo iku Uuaapik! via www.kaskus.co.id

“Ris, aku mari ndelok film uuuaaaaapik!”
“Mosok? Somo pemeran wedok e?”
“Laudya Cinthya Bella, cuk”
“Owalah, arek seng uaaaayu iku?”
“Iyo laaah”

Cobalah bicara dengan mereka yang arek Suroboyo dan sekitarnya. Niscaya kamu akan mengetahui kenyataannya. Entah atas dasar apa atau siapa yang memulai dulunya, tapi tambahan U dalam beberapa kata menjadi pelengkap yang terasa puas untuk diucap. Padahal bisa aja sih arek Suroboyo ini cuman bilang, “apik” atau “ayu” atau “endel” secara biasa. Tapi rasanya kurang puas kalau tanpa ada tambahan U diawalnya.

Bagi arek Suroboyo, akhir kata juga perlu ditambah huruf A. Itu yang bikin luapan emosi jadi sempurna

Suroboyo gak lengkap tanpa ngomong Matamu a

Suroboyo gak lengkap tanpa ngomong Matamu a via hendrahezy.blogdetik.com

“Koen gak mangan lapo, Dul? Poso a?”
“Iyo, cuk. Poso iki aku.”
“koen poso ben oleh wangsit gawe togel yo? Haha”
“Matamu a! Koen paleng seng poso niat e ngunu”
“Ndasmu a!”

Nah, lega kan kalau ada tambahan A di akhir katanya. Bukan berarti harus ada tambahan A di setiap akhir kata. Tapi biasanya akhiran A ini dipakai jika kamu ingin meluapkan emosi kekesalan yang sifatnya sementara. Memang sih arek-arek Suroboyo gak selalu menggunakan akhiran A setiap saat. Tapi demi kepuasan luapan emosi, akhiran A ini tetap setia diucapkan kok!

Kamu bukan arek Suroboyo jika gak kenal Jancuk. Suroboyo tanpa Jancuk bagaikan sayur tanpa garam; kurang greget, cuk!

Satu kata berjuta makna

Satu kata berjuta makna via strumhumming.tumblr.com

“Lek koen gak melok kandakno mbokmu, lho?”
“Gundulmu a, cuk! Ojok gowo-gowo mbokku, he!”
“Lha salahmu kate gak melok, cuk!”
“Duaaancok! Iyo-iyo. Melok aku, cuk”

Bagai sayur tanpa garam. Bagai langit tanpa awan. Bagai malam tanpa bintang. Arek Suroboyo yang gak kenal Jancuk itu belum sah mengaku arek Suroboyo. Tak peduli di Jawa Timur atau bahkan di kota rantauan, Jancukmu akan selalu setia kamu ucapkan. Jancuk tak melulu berarti emosi, Jancuk juga bisa berarti persahabanmu telah sampai pada tingkat dimana kamu tak saling sakit hati. Jancuk memang satu kata berjuta makna. Cocok lah untuk merepresentasi arek Surabaya!

Meski sering dibilang kasar, arek Suroboyo sebenarnya punya hati yang lembut. Terbukti dari waktaknya yang tetap selalu berusaha keras untuk membantu

Gotong royong bu Risma dengan warga Surabaya

Gotong royong bu Risma dengan warga Surabaya via www.youtube.com

Ini adalah poin yang gak boleh kita lupakan dari arek-arek Suroboyo. Memang sedari dulu arek Suroboyo identiknya adalah dengan hal-hal yang berbau ketegasan dan wataknya yang keras. Tak bisa dipungkiri juga memang jika dilihat dari cara bicara, meskipun sama-sama Jawa, arek Suroboyo memang yang paling kasar.

Tapi jangan salah. Meski sering dinilai kasar, arek Suroboyo justru punya sifat suka menolong yang kuat. Rasa solidaritas yang terjalin antar warga Surabaya adalah buktinya. Kamu bisa lihat betapa suksesnya program-program walikota Surabaya. Juga bisa dilihat dari seabgreg penghargaan yang diterima oleh Surabaya. Tak mungkin kan semua itu diraih tanpa bantuan gotong-royong warganya.

Nah, itu tadi beberapa ciri darimu wahai arek Suroboyo dan sekitarnya. Kamu punya ciri khas yang membedakanmu dari warga Indonesia lainnya. Berbanggalah! 😀

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya