Eksklusif! Serba-Serbi Film “Tilik” Langsung dari Penuturan Sutradaranya, Wahyu Agung Prasetyo

Wawancara sutradara film Tilik

Film pendek “Tilik” sukses menjadi buah bibir selama sepekan. Di YouTube sendiri jumlah penontonnya sudah mencapai 16 juta lebih. Angka yang cukup besar jika dibandingkan konten-konten lain yang beredar di platform tersebut. Barangkali baru kali ini film pendek jadi pembicaraan seheboh ini.

Advertisement

Viralnya film “Tilik” membawa berkat kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya. Wajah-wajah pemain, sutradara, dan produsernya sekarang ada di mana-mana menghiasi layar kaca. Lantas apa sih yang membuat film ini spesial? Kenapa bisa viral? Gimana prosesnya? Kebetulan Miscur Hipwee semalam berkesempatan untuk mewawancarai Wahyu Agung Prasetyo, sutradara “Tilik”. Begini serba-serbi film “Tilik” berdasarkan penuturan sang sutradara.

Kak Agung gimana kabarnya?

Alhamdulillah, dikasih kesehatan oleh Yang Maha Pencipta.

Semalem katanya live Tonight Show?

Iya, live Tonight Show, sebentar doang. Yang banyak pemainnya, kita-kita (filmmaker) sebentar doang.

Advertisement

Gimana perasaannya film “Tilik” viral di mana-mana?

Seneng bercampur speechless. Masih nggak nyangka ternyata film “Tilik” bisa begini. Sebenarnya bisa dibilang kami cukup beruntung, di Indonesia sendiri film pendek banyak banget, dan bagus-bagus banget. Nano-nano rasanya.

Ide awal film “Tilik” itu dari mana sih?

Ide awal film “Tilik” diadaptasi dari fenomena aslinya, tradisi tilikan. Di desa Bantul kalau ada yang sakit melebihi tiga hari atau (ketika) yang sakit orang yang penting, mereka akan berbondong-bondong menjenguk, meniliki-nya. Ceritanya diadaptasi dari tradisi itu, lalu kita transfer jadi medium audio visual.

Ada cerita seru nggak waktu syuting?

Ibu-ibu nggak mau naik elf, malah milih truk via www.goodnewsfromindonesia.id

Advertisement

Hampir semua seru syutingnya. Tapi mungkin yang paling berkesan dan memorable banget, ibu-ibu yang extras atau figuran, mereka, kan, disediakan mobil elf buat transportasi, tapi mereka lebih memilih untuk naik truk, mereka mabuk kalau naik elf, itu memorable, lucu banget. Kita udah nyiapin mobil gitu ternyata mobillnya nggak kepake gara-gara orangnya mabuk.

Kesulitan syuting di truk itu apa sih?

Kesulitannya sebenarnya di teknis audio, kamera, sama alam. Audio jelas kita syuting di atas truk, suaranya menggema. Kalau kita nonton hasilnya, suaranya bisa sebersih itu, orang-orang di balik layanya luar biasa banget.

Terus kamera juga. Pertama kalinya kita pakai kamera profesional standar bioskop, jadi kesulitan sendiri secara teknis buat kami karena setiap ganti shot membutuhkan waktu kurang lebih sekitar setengah jam.

Ketiga faktor alam, cuaca. Selama 4 hari kita syuting kita sempet dapat hujan. Kendala yang nggak bisa kita pastikan. Bagaimana lagi kalau semesta sudah berbicara seperti itu.

Ada kesulitan nggak buat casting pemain?

Sejujurnya nggak ada. Ketika dapat 4 pemeran ini sebenernya kami sudah tahu track record mereka ketika mereka bermain di film lain sebelumnya, baik film pendek, panjang, ataupun FTV. Jadi ketika naskah masuk ke tanganku sama tangan Elen (produser) kita diskusi langsung cepet, oh, nanti yang main ini-ini-ini.

Justru yang lama prosesnya memutuskan yang jadi figuran. Itu orang-orang desa (peran figuran) baru pertama kali main film, sama Mas Gotrek yang jadi supir truk. Mas Gotrek kebetulan nggak pernah main film, cuma mereka punya modal background (pertunjukan) Ketoprak, jadi memang di desanya ada pentas tahunan ketoprak. Itu yang melandasi kami percaya sama mereka kalau mereka bisa. Menurut kami terbukti bisa.

Ide karakter bu Tejo muncul dari mana?

Bu Tejo. via www.solopos.com

Karakter bu Tejo muncul dari penulisnya, Bagus Sumartono. Aku menajamkan apa yang ada di naskah dan akan ku-translate ke bahasa audio visual dari bentuk tulisan. Selalu ada orang kayak bu Tejo dalam hidupku, dari kecil hingga dewasa. Itu jadi pengalaman empiris yang aku tuangkan ke dalam bentuk karakter. Sosok bu Tejo pasti ada di sekitar kita, di mana pun.

Nemu mas Gotrek di mana?

Mas Gotrek itu ditemukan ketika aku sama Elen observasi ke desa untuk lihat tilikan. Kebetulan yang nyupir truk ini mas Gotrek.

Dialog “suamiku udah nggak atahiyat” itu muncul dari mana, Mas? 😀

Itu munculnya dari mas Bagus Sumartono, penulisnya. Itu, kan, sebenarnya bercandaan orang lama. Orang tua bercandaannya kayak gitu, bercanda yang sarkas. Itu menarik, aku ketika baca itu langsung relate, oh, iya, ada becandaan kayak gini.

Film ini, kan, udah lama sebenarnya, kenapa baru sekarang rilis?

Film diproduksi tahun 2018, baru dikeluar di YouTube sekarang. Sebenarnya 2 tahun belakangan kita distribusinya di festival film, pemutaran alternatif, gitu-gitu, kan. Dua tahun kemarin banyak festival yang nggak bisa meloloskan film kami dengan alasan durasi kepanjangan. Akhirnya kami memutuskan rilis di YouTube bisa jangkauan penontonnya luas dan masif. Dan kenapa tanggal 17? Sebagai simbol kemerdekaan atas bikin karya sama distribusi karyanya.

Ada yang bilang film ini melanggengkan stereotip kalau orang kampung tukang gosip?

Kami nggak nyangka film pendek “Tilik” bisa jadi diskusi seluas ini. Justru kami bangga film ini bisa jadi bahan diskusi yang banyak, dari berbagai prespektif. Kami sangat open sama kritik, bahkan semalem di Tonight Show kami bertegur sapa sama mas Hikmat Darmawan, orang yang mengkritik kita di Twitter. Ya, fine-fine aja. Kritikan itu apresiasi, orang mau interpretasi seperti apa itu hak mereka. Next-nya justru mendewasakan kita dalam bikin film.

Ada rencana bikin film “Tilik 2”?

Sampai sejauh ini aku belum bisa konfirmasi apa pun. Semoga ada kabar baik ke depan. Tapi nggak menutup kemungkinan apa pun itu nanti yang terjadi. Jadi aku belum bisa menjawab dalam waktu dekat ini. Kita lihat nanti ke depannya.

Menurut Kak Agung arti film seperti apa?

Film itu buatku dunia. Duniaku. Film ngajarin aku banyak hal. Aku bernapas juga di dunia itu, menurutku itu sebuah dunia dalam dunia. Jadi segitunya film buatku, melebihi apa pun.

Begitulah hasil wawancara Miscur dengan Wahyu Agung Prasetyo, sutradara yang telah hampir 10 tahun malang melintang di dunia perfilman. Pertanyaan-pertanyaan itu nggak cuma dari Miscur, tetapi juga warganet yang ikutan komen. Karena keterbatasan ruang, nggak semua jawaban terlampir di sini. Buat kamu yang masih penasaran versi lengkapnya, silakan simak wawancara IG Live Miscur Hipwee di sini.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Fiksionis senin-kamis. Pembaca di kamar mandi.

CLOSE