Sebuah hubungan idealnya dibangun berdua. Kamu dan dia, tanpa ada salah satu yang merasa lebih berkuasa. Setiap masalah yang datang dikompromikan bersama, bukannya diputuskan salah satu saja lalu yang lain harus sepakat meski terpaksa.

Jika yang dirasakan dalam hubungan justru sebaliknya, mungkin salah satu dari kalian memang cenderung dominan. Apakah pasanganmu adalah cowok yang dominan, atau justru kamulah yang sebenarnya paling mendominasi dalam hubungan?

Lewat artikel ini, Hipwee ingin mengajak kamu buat lebih mengenali diri sendiri. Supaya hubungan nggak terlanjur berantakan, cek dulu deh kamu cewek yang dominan atau bukan…

1. Pasanganmu bukan lagi anak kecil, tapi apa yang dia lakukan selalu bikin kamu khawatir

dia bukan anak kecil lagi via www.rascunhosdeestilo.com.br

Sikap selalu khawatir adalah tanda yang paling kentara. Kamu mengkhawatirkan segala sesuatu yang dilakukan pasanganmu. Mulai dari hal sepele seperti kebiasaannya begadang, hingga hal serius misalnya soal kuliah atau pekerjaan.

Advertisement

“Sayang, uang bulananmu udah abis ya? Jajan apa aja sih?”

“Skripsi belum kelar juga, awas lho sampai DO…”

“Jangan kebanyakan begadang deh, makin kurus kamu.”

Kekhawatiranmu bisa jadi awalnya muncul karena rasa sayang. Kamu peduli, merasa perlu memberi dia perhatian. Tapi saat khawatirmu mulai berlebihan, kamu cenderung dominan. Kamu ingin mengatur bahkan memaksakan apa yang menurutmu benar.

2. Kalian hidup sebagai dua individu. Sayangnya segala yang pasanganmu kerjakan, kamu merasa harus tahu

segala yang dia lakukan, kamu harus tahu via dylandsara.com

Saat masih pacaran atau bahkan setelah menikah nantinya, kalian tetaplah dua individu berbeda. Sepakat bersama bukan berarti kehilangan hak atas hal-hal pribadi. Ada hal yang baiknya dibagi, tapi ada juga yang selayaknya memang disimpan sendiri.

Kalau kamu selalu kepo atau merasa ingin tahu apa yang dia kerjakan, bisa jadi kamu memang dominan. Keingintahuanmu yang berlebihan pastilah bakal bikin dia nggak nyaman. Apalagi jika setiap ketemuan, kamu hobi menginterogasi tentang apa-apa saja yang dia kerjakan saat nggak sama kamu.

3. Kamu merasa punya tanggung jawab berlebihan, sedangkan dia sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan

rasa tanggung jawabmu berlebihan via dylandsara.com

“Kamu besok ada kuliah pagi ‘kan, ya?”

“Iya. Jam 7 euy.”

“Besok aku telpon jam 6 deh, sekalian aku jemput aja deng. Takut kamu nggak bangun, Beb.”

Iya, itu memang bentuk rasa pedulimu sama dia. Kamu nggak mau dia telat atau bolos kuliah gara-gara bangun kesiangan. Kamu sekadar pengen memastikan kalau dia melakukan hal yang benar. Tapi, coba pikirkan lagi apakah pasanganmu segitu cerobohnya sama kebutuhan sendiri? Apa iya dia nggak punya rasa tanggung jawab pada diri sendiri?

Pasanganmu sudah dewasa kok. Dia bisa pasang alarm atau tidur lebih awal biar nggak telat bangun. Justru dari hal-hal kecil inilah rasa tanggung jawabnya bakal terus terpupuk hingga kelak dia bertanggung jawab atas dirimu sebagai pasangannya. Jangan sampai rasa tanggung jawab yang berlebihan malah bikin kamu posesif dan banyak mengatur dia.

4. Kamu mati-matian berusaha agar hubungan tetap baik-baik saja. Padahal, berantem atau ribut-ribut kecil malah bikin kalian makin cinta.

berusaha supaya semua baik-baik saja via www.pillowfights.gr

Selama ini, kamulah yang berjuang supaya hubungan kalian tetap baik-baik saja. Kamu berusaha mengendalikan suasana supaya tetap adem ayem, tanpa berantem atau ribut-ribut kecil seperti pasangan lain pada umumnya.

Sayangnya, kamu lupa kalau usahamu justru bikin hubungan kalian nggak berjalan natural. Kamu nggak sadar bahwa berantem atau ribut-ribut kecil itulah yang akan membuat kalian semakin saling mengenal. Berada dalam situasi yang menguras emosi misalnya saat bertengkar malah bisa menambah kadar rasa sayang.

5. Selalu ingin memberikan yang terbaik buat pasangan, sayangnya yang kamu lakukan justru bikin hubungan berantakan

memberikan yang terbaik? via dylandsara.com

Semua memang berawal dari rasa sayang. Rasa peduli dan perhatian buat seseorang yang penting dalam hidupmu. Berusaha memberikan yang terbaik untuk pasangan sih sah-sah saja, tapi pastikan kamu tahu porsinya.

Bagaimana pun, pasanganmu punya hak penuh atas dirinya sendiri. Biarkan dia memutuskan apa yang jadi kesukaannya dan menentukan arah hidupnya. Yang pasti, yang terbaik menurutmu belum tentu yang terbaik buat dia. Kalau kamu pernah mengucapkan kalimat ini, tandanya kamu yang mendominasi,

“Aku ngelakuin ini buat kamu kok. Ini tuh buat kebaikan kamu sendiri…”

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me