Membuka silaturahmi memang gak salah. Tapi itu bisa mengganggu, saat orang yang ingin kamu kenal nggak tertarik untuk balik mengenalmu. Sayangnya, kadang kita nggak sadar kalau sebenarnya dia sedang nggak mau diganggu.

Soalnya dia sopan. Meskipun terganggu, dia gak akan terus terang.

Nah, sebelum semuanya terlanjur serba salah, ada baiknya kamu peka dengan semua gelagatnya. Karena kalau dia tidak bisa berterus terang dengan ketidaknyamanannya, sudah pasti dia akan memberikan tanda yang harus kamu baca sendiri.

Jika kamu merasa bukan cenanyang yang bisa tepat membaca tanda, Hipwee akan menunjukkan kepada kamu beberapa tanda itu. Simak yuk!

Saat kamu mencoba menghampiri, dia sibuk dengan gadget sendiri. (Cuma sesekali melihat ke arahmu. Itupun sambil membisu.)

Main handphone~ via www.instagram.com

Advertisement

Kamu tahu dia sempat melihat kearahmu, tapi setelah itu dia langsung menyibukkan diri dengan gadgetnya. Lalu saat kamu menyapanya, dia seperti sedikit kaget seolah tidak mengetahui kedatanganmu. PS: dia bukannya gak ngelihat kalau kamu ada. Dia cuma pura-pura.

Pas kamu menyapa pun, dia cuma bakal menanggapi dingin.

Kamu: “Hai, lagi ngapain?”

Dia: “Dilihatnya lagi ngapain?” dengan lirikan yang setajam silet.

Chat dan SMS yang kamu kirimkan jarang banget dapat balasan. Apalagi kalau cuma tanya kabar.

Ih. Ganggu. via huffpost.com

Menurut dia pesan teks dari kamu nggak terlalu penting, jadi pengabaian adalah sikap yang pasti dipilihnya. Kalaupun dia membalas pesan, pastinya sesingkat mungkin dan hanya sekedar menjawab pertanyaan. Setidaknya, menurut dia dengan menjawab seperlunya, kamu akan memutus kesempatan untuk berbincang lebih lanjut.

Tapi sayangnya ada di antara kamu yang terlalu ngeyel untuk terus mengirim pesan dengan sederet pertanyaan lain. Mungkin juga kamu dengan percaya diri justru bertanya, kenapa pesanmu jarang dibalas. Tanpa kamu tahu, dia hanya membiarkan chat atau sms kamu berlalu seperti angin dengan menghapus pesanmu tanpa meliriknya sedikitpun.

Dia memang gak akan terus terang kalau kamu mengganggu. Tapi kalau dia gak begitu menanggapi basa-basimu, kamu harusnya sudah tahu.

Karena sesuatu yang basa-basi biasanya memang berujung menjadi benar-benar basi, maka dia menentukan sikap untuk tidak menanggapinya. Dan karena, dia cukup tak enak hati untuk berterus terang kalau kehadiranmu mengganggu. Sudah seharusnya kamu peka dan sadar diri untuk berhenti mengganggunya.

Kecuali kalau memang kamu kulit badak yang kalau hanya dicubit saja tidak akan pernah merasa. Atau memang kamu benar-benar pejuang tangguh yang nggak akan pernah menyerah untuk menarik perhatiannya.

Saat kamu bertanya hal yang pribadi, dia menolak memberi jawaban. Iya lah, kamu ‘kan hitungannya bukan teman.

“Eh, kamu kenapa putus sama pacar kamu? atau jangan-jangan kamu diputusin sepihak ya?”

Sesungguhnya pertanyaan bersifat pribadi seperti itu hanya akan membuat dia semakin malas. Bisa juga seketika dia akan berdoa agar mahkluk seperti kamu musnah dari bumi. Memangya kamu siapa? teman saja bukan, sok kenal sok dekat ‘deh.

Bukannya ketawa, dia justru kesal saat kamu coba melucu. “Apaan sih?” mungkin timpalnya begitu

Mungkin niatmu untuk melucu baik, kamu ingin menghiburnya. Tapi apa boleh buat kalau ternyata bercandaan kamu justru berakhir dengan garing, dan dia justru menanggapinya dengan perasaan yang kurang senang.

Kamu: *mengutarakan suatu joke yang menurutmu lucu*

Dia:” Apaan sih? Nggak lucu ‘deh.”

Kalau dia lebih sabar, mungkin dia hanya akan menanggapi dengan senyum kecut yang dipaksa manis.

Coba deh kamu ngaca. Apakah kamu Fedi Nuril atau Laudya Chintya Bella? Kalau bukan, mungkin sebenarnya kamu gak begitu menarik di matanya

Waktu kalian terlibat dalam sebuah obrolan yang tak setimpal-kamu yang lebih aktif berbicara, sedangkan dia hanya diam seperti patung-dia lebih sering melirik kanan kiri. Karena saat itu, sebenarnya dia berharap menemukan sesuatu hal yang lebih menarik untuk dilihat, ketimbang kamu didepannya yang sudah seperti pedagang jamu.

Kamu: “Eh, kamu lihat apa sih dari tadi?”

Dia: “Hah, iya kenapa?”

Nah kan, suara kamu cuma masuk kuping kanan lalu keluar lagi dari kuping kiri, begitu pula sebaliknya.

Udah, bukan cuma dia ‘kan yang bisa kamu jadiin teman? Lebih baik sekarang mundur teratur. Daripada nanti, tambah bikin malu diri sendiri

Masih banyak ikan di laut, kenapa harus ngeyel ingin berteman atau mendekati dia. Kalau memang urat malu kamu sudah putus ya silakan saja terus mendekatinya, dengan konsekuensi kamu harus siap menelan segala kepahitan sikapnya. Namun, jika kamu masih sadar diri, kamu sudah pasti tahu kapan saatnya harus mundur teratur, sebelum kamu benar-benar malu karena ulah sendiri.

Kira-kira orang yang sedang kamu dekati ada yang memberi tanda seperti di atas? kalau nggak ada syukur. Kalau ada, ya kamu harus ikhlas berhenti mendekatinya. Puk puk, udah ya…