Banyak orang di luar sana mengatakan jika syarat untuk menikahi seorang wanita adalah cinta. Dengan cinta, seolah kehidupan akan berjalan dengan mudahnya. Namun beda denganku. Perkara cinta jangan lagi dipertanyakan, karena untukmu melimpah selalu aku berikan.

Aku laki-laki, akan malu jika melamarmu hanya memiliki modal cinta dan kemudian berkata “Soal materi bisa dicari bersama-sama,”. Karena tentu saja orangtuamu tidak akan merelakan anak mereka dengan laki-laki yang hanya bermodal ucapan semata. Dan sebelum menemui mereka untuk meminta restu menikahimu, aku akan memperbaiki hidupku sejenak dengan jadi lelaki pekerja keras.

Jika bersedia menemani aku berjuang, coba pahami alasan-alasan ini, mengapa aku tak kunjung mempersuntingmu. Karena inginku setelah menikah denganmu, aku ingin kamu tetap bahagia, seperti saat masih dalam asuhan orangtua.

Aku sadar modal cinta tak akan cukup. Modal pendidikan tinggi akan jadi nilai lebih di mata orangtuamu

Supaya bisa ikut mendidik anak kita kelak via nouba.com.au

Jika perempuan perlu memiliki pendidikan yang baik sebelum memutuskan untuk menikah, apalagi laki-laki. Aku juga sebagai laki-laki, sangat perlu memiliki pendidikan yang tinggi untuk kemudian berani melamarmu, di depan kedua orangtuamu.

Advertisement

Kelak, kita akan menjadi orangtua juga, bukan? Kamu akan jadi madrasah pertama untuk anak-anak kita, dan aku akan jadi kepala sekolahnya. Yang bertanggungjawab dan bisa dipercaya untuk menjaga “madrasah” kita.

Dengan pendidikan yang tinggi, tentu akan jadi kebanggaan tersendiri untukku saat nanti kau perkenalkan dengan keluarga besar. Bukan untuk menyombongkan diri atau untuk menginjak-injak harga dirimu sebagai wanita, malah sebaliknya, dengan pendidikan tinggiku, aku juga ingin mengangkat derajatmu sebagai istri nanti.

Nantinya aku akan bertanggung jawab sebagai imam untukmu. Setidaknya berikan aku waktu untuk mempersiapkan diri

Aku sedang bersiap jadi imam untukmu via dylandsara.com

Berbahagialah karena memiliki ayah dan ibu yang begitu mencintaimu. Kebahagiaanmu jelas adalah prioritas bagi mereka. Mungkin jika sekarang aku datang untuk melamar, mereka juga tidak akan mempersulit jalanku, karena mereka tahu kita saling sayang.

Buatku, untuk bisa memenangkan hati orangtuamu butuh lebih sekadar rasa sayang untuk aku tunjukkan. Aku ingin meyakinkan mereka bahwa putri kesayangannya akan dibahagiakan dengan lelaki yang juga memiliki ketaatan beragama yang baik.

Aku memang tidak akan sebaik para pemuka agama negeri ini, tapi aku akan terus belajar untuk jadi imam yang bisa menuntunmu ke dalam sebuah keluarga yang baik lagi dan lagi. Setidaknya denganku nanti, soal beribadah kita tak lagi malas untuk menjalankannya.

Sebelum membangun rumah tangga, biarkan aku mengejar mimpi yang hingga saat ini belum terwujud

Sebelum menikah, biarkan aku mengejar mimpi via www.corydevenney.com

Sebelum meminangmu untuk jadi kawan hidupku, aku ingin membayar lunas mimpi-mimpi yang selama ini belum bisa aku capai. Impian yang sampai saat ini masih aku upayakan.

Buatku, membahagiakan orangtuaku kini belum terlaksana dengan baik. Dan bagaimana bisa aku menjanjikan kebahagiaan padamu padahal bertanggung jawab untuk diri sendiri dan keluarga aku belum mampu. Biarkan aku menuntaskan mimpi masa muda, memiliki pekerjaan yang selalu aku jadikan penyemangat untuk menuntaskan studi dan sebagai unjuk bakti untuk orangtuaku sendiri.

Karena cita-cita terbesar dalam hidupku adalah ingin melihat ayah dan ibuku bangga dan bisa menjadi tumpuan di hari senja mereka.

Bukannya aku tidak ingin segera berkomitmen. Setidaknya, tunggulah aku sampai memiliki pekerjaan yang bisa menghidupi kita

setidaknya sampai aku bisa menghidupimu via nouba.com.au

Aku tahu bahwa kamu akan bersedia menemani aku merintis karier. Orangtuamu pun tidak akan tinggal diam jika melihat anak dan menantunya kelak kesulitan dalam hal finansial. Tapi bagiku, memiliki pekerjaan yang baik dan bisa menghidupimu kelak adalah kewajiban.

Setelah menikah, aku tidak ingin lagi aku atau kamu bergantung pada belas kasih keluarga. Karena bagaimanapun, aku adalah kepala rumah tangga yang berkewajiban untuk membuat api kompor tetap menyala.

Tenanglah, aku tidak akan membiarkan kamu menungguku terlalu lama. Aku tidak akan memintamu menungguku memiliki rumah besar lengkap dengan mobil dan perabot mewah di dalamnya. Setidaknya, sabarkan hatimu sampai aku memiliki penghasilan yang bisa kita andalkan tiap bulannya.

Percayalah, kerja kerasku adalah tanda nyata mencintaimu. Karena tak akan aku biarkan putri kesayangan orangtuamu hidup kesulitan

kepercayaan orangtuamu tidak akan aku sia-siakan via nouba.com.au

Aku mungkin bukan pria yang romantis, atau bahkan humoris seperti keinginan wanita kebanyakan. Aku memang terlihat ambisius dalam bekerja, tapi semua kerja keras yang aku lakukan adalah bukti bahwa aku tidak akan membiarkan kamu kelak hidup kesusahan.

Aku akan membahagiakanmu, dengan cara tidak akan membiarkanmu merasakan pahitnya hidup bersamaku nanti.

Orangtuamu saja begitu mati-matian membahagiakan kamu, dan pantang bagiku mengajakmu hidup susah setelah bersamaku nanti. Tidak ada pembuktian lainnya yang ingin aku buktikan selain kepada ayah dan ibumu bahwa aku, bisa memperlakukan putri mereka layaknya seorang ratu.

Bukannya ingin mempermainkan perasaanmu dengan tak segera mengajak berkomitmen lebih lanjut. Karena buatku, menikahi seorang wanita tidak cukup memiliki cinta serta pengertian semata. Di pundakku nanti, akan ada tanggung jawab besar sebagai suami.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya