Kenapa Kisah Cintamu Gagal Melulu? Temukan Jawabannya dengan Lebih Mengenali Mentalmu

alasan gagal cinta

Ketika mengalami kegagalan cinta secara berulang, kita mungkin akan instrospeksi diri sambil bertanya-tanya hal salah apa yang selama ini dilakukan. Sayangnya, kamu mungkin nggak kunjung menemukan alasan di baliknya, padahal bisa jadi hal ini dipengaruhi oleh kondisi mentalmu dan dirimu sendiri nggak menyadarinya. Bukan hanya kondisi saat ini, tapi juga yang terjadi di masa 7 tahun pertama kehidupan kita. Bagaimana kita dicintai dan mencintai serta isu-isu yang belum selesai pada masa itu akan memengaruhi relasi romantis kita ketika dewasa.

Kamu mungkin bisa mulai bertanya, ada nggak sesuatu dalam diri yang akhirnya membuatmu ke-trigger isu-isu itu? Apa saja inner child yang belum terselesaikan yang membuat kita rasanya seperti membuka kotak pandora ketika masuk ke dalam sebuah relasi romantis ? Hal-hal itu yang membuat kita jadi nggak nyaman dalam relasi.

Untuk mengupas hal ini, ada beberapa contoh kasus terkait kegagalan cinta yang mungkin juga kamu alami selama ini. Simak yuk selengkapnya!

1. Sekencang apa pun menyatakan sudah move on, barangkali sesekali kamu masih teringat sang mantan. Apalagi, kalau hubungannya nggak begitu baik

Hubungan itu seperti gelombang air laut. Kadang kita merasa sudah move on, tapi perasaan itu muncul lagi. Mungkin pas PMS atau ada kondisi tertentu, tiba-tiba teringat lagi. Nggak apa-apa. Izinkan diri untuk merasakan, izinkan diri untuk sedih. Ibaratnya mirip kayak bisul yang mana dia butuh waktu untuk nanahnya keluar. Kulitnya nggak langsung mulus karena butuh waktu untuk pulih lagi. Pengalaman yang nggak enak pun butuh waktu untuk dipulihkan. Ini adalah grieving cycle yang sedang kamu alami.

Kamu mungkin akan sering merasa bahwa semuanya sudah bisa biasa saja, tapi kadang rasanya ingin kembali marah. Kondisi ini masih wajar asal durasinya 15-30 menit. Kalau sudah sampai 2 jam atau bahkan lebih dan berulang selama berhari-hari sampai memengaruhi kondisi mental, mungkin kamu perlu bantuan profesional.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mental Health Advocate | Child Psychologist | Adult & Parent-child Relationship Educator | Author's Book "Kamu Tak Harus Sempurna" & "Tak Ada Sekolah tuk Jadi Orang Tua"