Pertemuan kita adalah anugerah bagiku. Saat menatapmu, terasa ada yang istimewa dalam dirimu. Barangkali sepasang matamu yang begitu indah, atau cara berbicaramu yang terdengar renyah. Aku langsung terpesona. Hari demi hari kulewatkan untuk mengenal dirimu. Ternyata kau adalah orang yang baik dan perhatian.

Hubungan kita pun makin dekat, apalagi kerap menghabiskan waktu bersama. Perasaanku makin tak terbendung.

Advertisement

Ingin rasanya kusampaikan perasaanku padamu. Sebab aku ingin memilikimu, lebih dari sekadar temanku. Namun bagaimanakah caranya? Aku malu jika harus berterus terang. Bagaimana jika kau menolakku? Bisa-bisa hubungan kita rusak selamanya. Namun jika aku tak lekas bergerak, siapa tahu akan ada orang lain yang mendahului. Situasi ini betul-betul menciptakan dilema.

Jika aku “menembak” dirimu, belum tentu perasaan ini diterima. Bagaimana jika kau menolakku dan hubungan kita jadi canggung selamanya?

Bersyukur pernah mengenalmu via unsplash.com

Satu-satunya cara untuk memilikimu adalah dengan mengutarakan perasaanku. Aku ingin sekali melakukannya, tapi terlalu takut. Aku takut seandainya kau menolak. Aku takut seandainya hubungan kita rusak. Aku takut seandainya kehilangan dirimu. Terlalu banyak kecemasan yang berkecamuk di dalam kepala. Semakin kutimbang langkahku, justru semakin bimbang dan ragu.

Sementara itu, waktu terus berjalan. Kau dekat dengan orang-orang lain. Rasanya aku cemburu. Ingin kurebut perhatianmu agar hanya berfokus pada diriku. Tapi aku bisa apa? Aku bukanlah siapa-siapamu. Bukan kekasihmu, bukan pula pacarmu. Hubungan kita tak punya status.

Barangkali lebih baik aku diam saja dan menyimpan perasaan ini selamanya. Jadi setidaknya kita terus berteman seperti biasa. Tapi bagaimana jika menyesal pada akhirnya?

Takut kehilanganmu via unsplash.com

Advertisement

Rasa takut untuk “menembak” dirimu membuat hatiku ciut. Barangkali lebih baik jika aku diam saja dan menyimpan perasaan ini rapat-rapat. Tak perlu ada yang tahu, terutama dirimu. Jadi hubungan kita tetap baik-baik saja. Barangkali tak perlu jadi pacar, cukup jadi teman. Toh selama ini aku sudah bahagia dengan cara mencintaimu dalam diam.

Namun bagaimana jika pada akhirnya aku menyesal? Bagaimana jika kau pacaran dengan orang lain dan aku tak sanggup menghadapinya? Bisakah aku ikut bahagia untukmu? Entahlah. Aku takut jika akhirnya menyesal karena tak pernah jujur. Penyesalan itu mungkin akan menghantuiku seumur hidup.

Dilema ini sungguh menyiksaku. Entah apa pilihanku di masa depan. Yang jelas, aku ingin menikmati kebersamaan kita saat ini, detik demi detiknya

Semoga kita bisa selalu bersama via unsplash.com

Sampai kini aku belum sanggup memutuskan. Jika memilih untuk mengutarakan perasaan, ada risiko kau akan menolakku. Namun jika aku menyimpan perasaan dalam diam, takutnya suatu saat akan menyesal. Sungguh pelik situasi ini. Menurutmu, aku harus bagaimana?

Yang jelas aku ingin menimati kebersamaan kita saat ini. Menikmati saat-saat kita duduk bersama dan mengobrol. Menatap sepasang matamu yang indah, juga senyumanmu yang begitu memesona. Rasanya kau tak pernah gagal membuatku jatuh cinta. Sementara ini, rasanya cukup dengan berada di sisimu saja.

Dear gebetan, maafkan aku yang belum bisa memutuskan. Semoga kelak aku punya cukup keberanian. Hingga saat itu tiba, tolong bersabar ya. Kita nikmati kebersamaan ini pelahan-lahan.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya