Hatimu Memang Sedang Terluka. Lantas Kapan Aku Diizinkan untuk Menyembuhkannya?

menunggumu membuka hati

Belum lama ini aku membeli sebuah buku. Judulnya sangat panjang, Hanya Kamu Yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu. Kumpulan cerpen itu menceritakan tentang kisah-kisah orang dalam penantian. Membaca judulnya saja aku langsung teringat pada kisah kita. Tentang aku, yang menunggumu membuka hati.

Advertisement

Kata orang menunggu itu menyakitkan. Apalagi pada sesuatu yang tak jelas kapan akan datang. Namun entah mengapa, sudah sekian lama aku menunggumu, rasa bosan itu belum pernah singgah di hatiku. Sakit, memang iya. Tapi entah mengapa aku yakin bahwa suatu saat nanti kamu akan menyadarinya.

Hai kamu, yang masih termenung memikirkan luka. Lihat di sini ada aku yang siap menyembuhkan semua

Lihatlah ke arahku walau sebentar| Photo by Emma Frances Logan via unsplash.com

Dari sekian banyak orang di dunia ini, aku tak mengerti mengapa harus kepadamu aku menjatuhkan hati. Kamu, iya kamu, seseorang yang pernah terluka begitu dalam, dan sedang sibuk sendiri menyembuhkan lukamu. Padahal jika kamu mau sedikit saja membuka hatimu, lihatlah, aku ada di sini. Aku memang bukan siapa-siapa, tapi jika kamu mengizinkannya, aku bisa membantumu mengobati semua.

Advertisement

Luka itu memang menyakitkan. Barangkali menimbulkan trauma mendalam. Namun jangan lantas berpikir tak ada kebahagiaan yang bisa kamu dapatkan

Aku yakin bisa membuatmu kembali tersenyum | Photo by Matheus Ferrero via unsplash.com

Aku tahu sakit hatimu begitu besar. Masa lalu yang kejam itu sudah menorehkan luka yang terlalu dalam. Aku juga mengerti jika pengalaman buruk dan kegagalan di masa lalu membuatmu enggan memulai yang baru. Kamu takut disakiti lagi, ya, barangkali aku akan merasakan yang sama jika aku menjadi kamu. Namun mengapa kamu tak juga mengerti pada apa yang sudah kukatakan padamu berulang kali? Bahwa sakit hati di masa lalu tak berarti tak ada kebahagiaan yang bisa kamu rasakan lagi.

Aku tahu dia sangat berharga. Barangkali aku tak ada seujung kukunya. Namun tak bisakah kamu merelakan semua dan mulai melihatku di sini?

Advertisement

Aku siap menerima semua dirimu, termasuk masa lalumu | Photo by Matheus Ferrero via unsplash.com

Baiklah, baiklah. Aku tahu dia adalah orang yang begitu berharga bagimu. Dia adalah sosok langka, yang barangkali memang tak akan kamu dapatkan lagi untuk kali kedua. Aku? Ah, iya, aku memang bukan siapa-siapa. Aku sadar mungkin aku tak punya kualitas seujung kukunya. Tapi kapan kamu akan menyadari bahwa semua itu sudah berlalu? Dan bahwa di sini ada aku, yang meski bukan superman tapi mau mengusahakan apa saja agar kamu bahagia?

Kenangan yang kamu punya dengannya mungkin begitu sulitnya untuk dilupakan. Tapi tak bisakah kamu mulai membuka dirimu untuk mencipta kenangan baru?

Jangan tenggelam sendirian dalam memori, kita bisa buat yang baru | Photo by ian dooley via unsplash.com

Kenangan memang menyakitkan sayang. Entah indah atau buruk, semuanya sama menyakitkan, sebab kamu tahu bahwa itu semua sudah berlalu. Apa yang terjadi di masa lalu, mungkin sulit untuk diulang di masa kini. Kenangan yang sangat berarti itu sulit dilupakan, aku paham. Siapa yang mengatakan bahwa melupakan itu mudah? Tak ada. Tapi jika kamu mau mencoba, aku sudah menawarkan hatiku berkali-kali, agar kita bisa membuat kenangan baru, dan mengikis kenangan masa lalumu itu.

Kamu terlalu sibuk dengan lukamu, sehingga tak menyadari aku yang setia menunggu hatimu terbuka, sedari dulu…

Kamu terlalu sibuk dengan lukamu | Photo by Artur Nasyrov via unsplash.com

Terkadang kamu membuatku bingung. Saat kamu menutup hatimu rapat-rapat itu, apakah sebenarnya kamu sedang berharap dia akan kembali lagi? Ataukah kamu hanya tidak mau mengalami luka yang sama? Jika alasanmu yang pertama, aku hanya mengingatkan, bahwa barangkali yang kamu rindukan hanyalah kenangan, bukan dirinya. Tapi jika alasanmu adalah yang kedua, tidak bisakah kita mencoba? Kamu tahu sudah berapa lama aku menunggu. Mengamati dari jauh, padamu yang sibuk berkutat dengan luka. Barangkali bukan kebahagiaan yang bisa kunjanjikan selamanya, tapi aku bisa menjanjikan ketulusan.

Tak mengapa meski kini kamu hanya memiliki setengah hati. Dengan waktu dan kesempatan yang kamu beri, akan kucoba memulihkan segala luka hati

Yang kubutuhkan hanya kesempatan | Photo by Joe Yates via unsplash.com

Harus dengan apa lagi aku meyakinkanmu? Aku bahkan tak keberatan jika kamu hanya memiliki separuh hatimu untukku. Aku tak keberatan kamu masih terbayang-bayang pada masa lalumu. Aku tahu bahwa semua orang punya masa lalu. Sambil jalan, kita bisa melepaskan diri dari sana dan menjadi sosok yang lebih baik lagi. Tapi yang kubutuhkan hanya waktu dan kesempatan. Luka hati yang kamu alami itu, akan kucoba untuk sembuhkan jika kamu membiarkanku mencoba.

Sebab sayang, terkadang luka memang harus segera diobati. Agar kita tak terbiasa dengan keberadaannya

Kamu harus mulai mengobati luka | Photo by Anika Huizinga via unsplash.com

Aku mengerti bagaimana sakitnya setelah kamu berusaha sekian lama untuk menyelematkan hubunganmu dengannya tapi tak ada hasilnya. Aku tahu rasanya saat kamu sudah mempertaruhkan segalanya tapi ternyata hasilnya tak seperti yang kamu harapkan. Aku tahu juga bagaimana rasanya saat kamu begitu mencintai seseorang tapi pada akhirnya kamu harus kehilangan. Aku tahu luka itu. Maka biarkan aku mengobatinya. Jangan sampai kamu justru terbiasa hidup dengan luka-luka itu karena memeliharanya terlalu lama. Aku dan kamu, kita, mungkin bisa mengobatinya.

Ingatkah kamu pada lagu Coldplay yang dulu diputar di kafe saat kali pertama kita bertemu? Katanya “You’ll never know if you never try”. Ya sayang, aku sudah menunggu di sini terlalu lama. Kamu tidak akan tahu apakah aku bisa menyembuhkan lukamu atau tidak jika kamu tidak mencoba. Aku memang tidak bisa menjanjikan apa-apa, tapi dengan segala penantianku ini, tidak bisakah kamu berikan aku satu kesempatan? Lalu mari kita cari tahu rencana apa yang Tuhan tuliskan untuk kita.

Dari aku,

…yang sudah menunggumu sekian lama.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE