Sudahlah. Semuanya telah terjadi dan tak ada gunanya terus menyesali. Dia pergi dan dirimupun berhak menyelesaikan persoalan hati. Memang berat, tapi semuanya kepalang tanggung. Kembali padanya sama saja bunuh diri.

Ada banyak hal yang menunggu di depan sana. Dan tentu saja akan perlahan menjauh, ketika kau tak bergegas melaju secara penuh. Air mata mengandung hikmah, dan lara hati menyimpan berkah..

1. Sadarlah, waktumu melimpah ruah. Kini, kesendirian membuatmu mengalami proses pendewasaan diri yang “mewah”.

Mengejar matahari, sendiri.

Mengejar matahari, sendiri. via www.magic4walls.com

Advertisement

Kenapa mewah? Karena tak semua orang punya kesempatan mendewasa sepertimu

Dengan ini, kamu seakan disiram waktu yang begitu banyak. Memang, awalnya yang terasa adalah kekosongan. Sebab waktu yang lengang itu adalah ruang rindu antara kalian berdua. Kini, hanya berisi kenangan yang keluar masuk serampangan. Inilah yang sebenarnya membuatmu kelabakan mengelola emosi, sebab dirimu dikuasai memori. Cobalah berpikiran jernih, waktu yang seperti itu bisa kamu isi dengan hari ini, yang paling saat ini, bukan memori pada sosok yang telah pergi. Ketika kamu berhasil melakukannya, maka banyak keajaiban terjadi dalam diri. Hal-hal yang tak terpikirkan untuk dilakoni, dapat kamu lakukan untuk semata-mata mengisi hari-hari. Mulai dari situlah kamu mulai menata langkah menantang kekekalan.

2. Skripsimu tak terbengkalai. Kamu bisa segera menyelesaikan demi sempurnanya nilai.

Bergegas menatap batas

Bergegas menatap batas via scarysmoke.com

Salah satu hikmah yang kamu dapatkan soal waktu adalah perhatian pada skripsi yang terbengkalai sejak dahulu. Kini, curahan pikiranmu dapat kamu taruh pada penyempurna gelar sarjanamu. Ya, pastinya berat, sebab kamu berusaha menangkal imaji soal yang telah lalu. Namun, cobalah kembali pada tujuan utama, bahwa masih banyak hal yang dapat kamu kerjakan. Dan mulai menyelesaikan skripsi adalah langkah utama untuk menyambut tantangan yang lain. Bukankah skripsi yang baik dapat membuat orangtuamu bangga memiliki dirimu? Cobalah untuk mengalihkan fokus perhatian. Jika sulit, ingat keluarga yang telah susah payah membuatmu menjadi pemenang.

3. Dari situ, kamu mulai bisa fokus pada apa yang kamu impikan. Mungkin, semesta menginginkan dirimu segera mewujudkannya.

Menangkap momentum

Menangkap momentum via ravenkarel.wordpress.com

Advertisement

Barangkali, ada kehendak kosmik yang menginginkanmu untuk segera menggapai apa yang kamu inginkan. Bukan lalu berprasangka bahwa mantanmu adalah penghambat impian. Namun mencoba mensyukuri bahwa saat ini adalah momen di mana kamu diberi kesempatan untuk fokus pada dirimu sendiri. Pandangan macam ini diperlukan agar kita tak terlalu jauh dibawa oleh dalamnya perasaan.

Sebab, jika tak berpikir demikian, maka hasrat dalam diri sulit dipanggil untuk diajak berlari. Sesekali, kita perlu menyadari apa yang sedang bergerak di sekitar diri. Perhatikanlah beberapa hal, misalnya keberuntungan yang awalnya tidak disadari. Mungkin itulah tanda bahwa ada energi lain yang menginginkamu untuk pergi darinya dan memulai langkah yang lain.

4. Ditambah lagi, kamu bisa berbuat banyak hal bersama teman-teman. Entah sekadar main-main atau membangun bisnis untuk masa depan.

Masih ada berjuta kebahagiaan

Masih ada berjuta kebahagiaan via favim.com

Jangan terus berpikir bahwa kamu tenggelam dalam kesendirian. Teman-teman masih ada di sekitar, hanya saja mereka ragu mengganggumu saat romantis dulu bersama pacarmu. Kini saatnya bagimu untuk mendatangi mereka untuk berbuat sesuatu. Barangkali juga, inilah yang diinginkan semesta. Dia menggiringmu untuk semakin dekat dengan teman-teman. Dari situlah semesta bekerja, mendorong kalian untuk membangun sesuatu yang berguna bagi masa depan. Ini bisa terasa dan terbaca sebagai tanda, andaikata kamu benar-benar memancarkan semangat optimis pada orang sekitar. Dan tentu saja, “memahami” apa yang sedang terjadi. Ingat, penderitaan adalah adik kandung kebahagiaan.

5. Mungkin, dia memang tak pantas. Dirimu lebih tepat untuk pribadi lain yang lebih berkualitas.

Ada yang lebih pantas

Ada yang lebih pantas via favim.com

Ada sebuah cerita. Seorang pria akan meminang seorang gadis dari desa seberang. Suatu pagi, berangkatlah keluarga pria menuju ke rumah gadis desa. Namun, sesampainya di rumah. Si gadis menolak, dengan alasan ada yang lebih baik telah datang padanya. Lelaki itu hanya diam dan menjawab.

“Tak masalah, kamu yang nantinya menyesal karena mencampakkan manusia yang benar-benar mencintaimu”

Kadang, kita terlalu rendah diri untuk mengakui bahwa kita benar-benar mencintai. Kita terlalu minder dan selalu berpandangan bahwa kita sedang kehilangan orang yang kita cintai. Padahal, sebaliknya, dialah yang kehilangan orang yang benar-benar mencintainya. Dengan demikian, sisihkanlah hatimu untuk hati lain yang lebih pantas dan berkualitas.

6. Inilah cara Tuhan untuk menggiringmu pada pendamping yang menunggu di depan sana. Mengumpat pada kondisi macam ini justru melangkahi kuasa-Nya.

Terbang saja

Terbang saja via love-dairy.tumblr.com

Sadarlah, sebagian dari peristiwa ini juga merupakan kehendak Tuhan. Kamu sedang diperlihatkan bahwa dia bukan jodohmu yang sebenarnya. Ada nyawa lain yang telah disiapkan oleh Yang Kuasa sebagai pendampingmu. Tingkahmu yang serba muram dan mengutuk keputusan adalah bentuk pemberontakan pada Yang Maha Kuasa. Ini bukan sikap yang baik untuk mensyukuri dan meyakini bahwa Tuhan punya rencana yang lebih menakjubkan daripada harapan manusia. Satu hal yang patut kamu lakukan adalah pantang meratap!

7. Tiada keputusan yang salah. Ini hanya membawamu pada pertemuan-pertemuan berikutnya; bukan soal menang dan kalah.

Betul, kamu pasti ingin berkata bahwa ini semua adalah bentuk kekecewaan yang paling sempurna atas sebuah keputusan. Dalam hati kecil berkata bahwa kamu telah melakukan sejuta kesalahan dengan melepaskannya begitu saja. Padahal ada sudut pandang lain yang menawarkan kebebasan. Ini bukan kesalahan, hanyalah penggiring ke pertemuan berikutnya. Tak perlu ragu, kamu akan dipertemukan oleh dia yang telah lama menunggu. Coba balik pemikiranmu, kalau tidak memutuskan untuk lepas dari penderitaan, apakah kamu dipertemukan oleh kemungkinan-kemungkinan lain?

8. Ke depan, tiada lagi yang dapat membuatmu meradang lara. Saat ini, dirimu lebih lepas menggapai asa.

Free as a bird!

Free as a bird! via steadybexin.tumblr.com

Tiada lagi rasa sakit; tiada lagi kekhawatiran; dan tiada lagi duka lara. Kini dirimu merasakan cinta yang membebaskan. Perasaan melepaskannya justru menyembuhkan dan mengangkatmu pada tingkat pembebasan yang tak terkira. Dia bebas menentukan kehendaknya; kamupun demikian. Untuk itu, tak ada lagi alasan untuk bertindak layaknya drama. Kini, dirimu adalah kehidupan yang sepenuhnya melaju menjemput asa. Jangan terus berpikiran bahwa hatimu dipenuhi kekosongan. Lagi-lagi, berpikirlah terbalik. Saat ini, hatimu justru penuh oleh mimpi-mimpi yang menunggu untuk terealisasi. Angkat dagu, kepalkan tangan, dan kencangkan tali sepatu. Bebaskanlah dirimu!

Kita kerap terbawa pada cinta semu yang tak mampu memberikan kedamaian. Namun, entah bagaimana, kita selalu terjebak untuk meratapinya tanpa akhir. Padahal, matahari tetap memancarkan sinar  dan tak lelah terbit bahkan ketika berkali-kali ditelan samudera. Itulah harapan; terus berputar, meskipun dirinya tahu bahwa didepan sana, banyak halangan yang tak terelakkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya