5 Alasan Kenapa Menurutku Jakarta Bukan Kota yang Tepat untuk Cari Jodoh

Cari Jodoh Jakarta

Pernah suatu hari yang masih dalam suasana lebaran, salah satu anggota keluarga bertanya: “Kan di Jakarta banyak orang. Dari mana-mana pada di sana. Masa sih nggak ada yang nyantol satu aja gitu?”. Jujur saja pertanyaan itu cukup telak bagiku. Aku pun jadi ikut bertanya-tanya. Hampir sepuluh tahun di Jakarta, bertemu dengan orang dari berbagai wilayah di Indonesia, tapi kenapa masih susah menemukan sosok yang tepat untuk sebuah hubungan serius?

Advertisement

Lalu berhari-hari kuhabiskan untuk memikirkan perkara ini. Aku mengingat lagi apa yang kulakukan selama di ibukota. Apa yang kulakukan di akhir pekan, bagaimana perjalananku sehari-hari, dan apa saja yang kurasakan selama di sana. Lalu aku tiba di satu kesimpulan. Setidaknya untukku, Jakarta memang bukan tempat yang tepat untuk mencari jodoh. Well, hal ini mungkin saja nggak berlaku untuk orang lain. Tapi setelah kurenungi, inilah beberapa hal yang membuat jodohku terhalang kota Jakarta. Terdengar seperti mencari kambing hitam, ya?

Hidup di Jakarta itu serba cepat dengan tuntutan yang berat. Terbiasa terburu-buru mengejar mimpi, membuatku sering lupa untuk mencari pendamping hidup juga

Rutinitas melelahkan via unsplash.com

Sudah lama aku menginsyafi bahwa di Jakarta, waktu begitu cepat berlalu. Aku sempat curiga, satu hari nggak lagi berlangsung selama 24 jam. Baru juga bangun tidur, tiba-tiba sudah pukul 10.00 saja. Mungkin itu karena di Jakarta segalanya serba terburu-buru.

Berangkat subuh buta demi bisa tiba di kantor tepat waktu. Menyelesaikan setumpuk pekerjaan supaya nggak harus membawa lemburan. Lalu, pulang ke rumah dengan sisa-sisa tenaga. Semua kesibukan itu membuatku seperti lupa waktu. Tahun demi tahun berlalu, lalu aku baru sadar bahwa, “Oh ya, aku kan harus mencari jodoh juga”.

Advertisement

Akhir pekan seharusnya menjadi hari untuk bergaul dengan dunia luar. Tapi kelelahan yang ditimbun Senin-Jumat terasa mustahil untuk mencari teman kencan

weekend terlalu lelah untuk ke mana-mana via www.pexels.com

Bagaimana dengan akhir pekan? Begitu tanya seseorang. Coba dong, manfaatkan waktu libur untuk get a life dan berhenti memikirkan pekerjaan. Nongkrong sama teman-teman atau ikut berbagai kegiatan, siapa tahu ketemu seseorang.

Aku memang nggak memikirkan soal pekerjaan di akhir pekan (kecuali momen-momen spesial). Sayangnya, tubuhku juga sudah terlalu lelah dan malas untuk memikirkan hal-hal lainnya. Jangankan ikut komunitas atau organisasi, pergi ke warteg untuk mencari sarapan saja rasanya seperti enggan mengkhianati kasur yang sudah begitu memberikan kenyamanan. Bagaimana caranya bisa bertemu dengan seseorang?

Apalagi sekarang semuanya bisa delivery. Semakin minim kesempatan untuk bertemu orang selain soal kerjaan

Advertisement

semuanya bisa delivery via unsplash.com

Banyak yang bilang hidup di Jakarta itu sulit. Ya, memang. Tapi di sisi lain, Jakarta juga menawarkan kemudahan dalam bentuk lain. Misalnya, di kampung halaman aku harus ke pasar dan memasak untuk makan. Atau setidaknya pergi ke warung yang jaraknya 1-2 kilometer. Di Jakarta, semuanya bisa delivery dan online.

Mulai dari makanan, baju, buku, makeup, telur, galon, hingga laundry. Aku hanya perlu klik-klik di smartphone dan menunggu di rumah, tanpa harus ke mana-mana untuk melakukan banyak hal. Tanpa sadar, hal ini membuat interaksiku dengan orang semakin berkurang. Lama-lama aku pun sadar, ah, ternyata kesepian juga meski selama ini selalu mengaku baik-baik saja.

Kota yang besar ini membangun rasa waspada. Bila diajak kenalan dengan orang asing di tempat umum, rasa curiga langsung membumbung tinggi

di Jakarta jadi parnoan (Photo by Rangga Cahya Nugraha) via unsplash.com

Tapi bagaimana dengan angkutan-angkutan umum? Seperti kisah-kisah romantis dalam film atau novel. Berawal dari selalu menaiki KRL dari stasiun yang sama di jam yang sama, lalu saling tertarik satu sama lain. Atau ketika nggak sengaja bertemu di transjakarta, lalu saling tukar akun Instagram dan kemudian hubungan semakin dalam. Ah, itu semua hanya ada di film dan drama.

Bukannya berprasangka buruk kepada orang lain, sih, tapi, tumpukan berita-berita kriminal dan kejahatan di Jakarta memaksaku menjadi sosok yang curigaan. Jadi, ketika bertemu dengan orang yang sedikit terlalu baik di tempat umum, alarm di kepalaku mulai berbunyi. Kira-kira orang ini punya niat terselubung nggak, ya? Kira-kira orang ini mau mencopet apa menghipnotis, ya? Dengan sikap seperti ini, bagaimana caranya aku bisa mengalami kisah cinta unyu ala film dan novel cinta-cintaan?

Di kota yang sesibuk ini, butuh skill istimewa untuk bisa mengejar cita-cita seturut dengan asmara. Pada akhirnya, seleksi alam terjadi dengan begitu saja

kisah cinta pun butuh trik (Photo by afidzpratama) via unsplash.com

Punya pacar pun bukan berarti perjuangan kelar. Sama-sama sibuk, sama-sama lelah, perlu cara khusus untuk tetap bisa meluangkan waktu untuk tetap bertemu. Mungkin dengan cara makan siang bareng colongan minimal seminggu sekali. Atau bisa juga memilih naik angkutan umum yang sama dan janjian di stasiun sepulang kerja. Semua itu tentu perlu cara dan hanya diperuntukkan bagi orang-orang istimewa. Bila nggak cukup termotivasi untuk melakukan itu semua, seleksi alam akan berlaku begitu saja.

Hmm, ternyata hidup di Jakarta memang sesulit itu, ya? Tapi nggak bisa disangkal, Jakarta tetaplah kota yang menyenangkan untuk beberapa hal. Soal jodoh yang nggak kunjung datang itu, bisa jadi memang aku saja yang kurang gencar mencari. Kan memang jodoh nggak bisa datang begitu saja saat aku rebahan selama Sabtu dan Minggu sambil nungguin petugas delivery.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE