“Kapan nikah?”

Di usiamu yang sekarang, mungkin pertanyaan itu sudah khatam kamu dengar. Punya pekerjaan tetap dan sudah mampu hidup mandiri ibarat syarat-syarat yang sudah bisa kamu penuhi. Lalu, tunggu apa lagi? Jika memang sudah punya pasangan, mengapa tak disegerakan?

Advertisement

Tapi nyatanya, menikah memang tak sekadar butuh hal-hal remeh itu. Niat, kesiapan mental, dan kedewasaan juga justru jadi bekal yang lebih penting. Keputusan untuk menikah tak bisa diambil dengan gegabah, maka 8 pertanyaan inilah yang harus kamu jawab terlebih dahulu agar tak salah langkah.

1. Jujurlah tentang apa yang membuatmu memilihnya. Apakah kamu benar-benar cinta, atau justru sekadar tergila-gila?

cinta yang bukan sekadar tergila-gila

cinta yang bukan sekadar tergila-gila via dylandsara.com

Dengan dia yang saat ini ada di sisi, kamu mungkin merasa sudah cukup mencintai. Bersamanya kamu merasa cocok, bahagia, dan tak kurang apa-apa. Tapi coba sejenak tanyakan pada dirimu sendiri,

“Apakah kamu sungguh-sungguh mencintai? Apa yang membuatmu yakin bahwa dia adalah cintamu yang sejati?”

Advertisement

Jika perasaanmu untuknya memang benar-benar kuat, kamu tentu tak akan bingung untuk menjawabnya. Tapi sebaliknya, jika rasamu hanya sekadar perasaan tergila-gila, kamu pasti akan kesulitan menjawabnya. Menikah sepatutnya hanya sekali, pastikah kamu tak salah memilih teman hidupmu nanti.

2. Menikah itu soal pilihan seumur hidup sekali. Siapkah kamu bertahan dengan dia dalam susah dan senang yang kalian lewati?

melewati susah senang bersama

melewati susah senang bersama via www.sincerelykinsey.com

Kehidupan pernikahan juga bukan perkara yang mudah. Meski bahagia bisa bersama, pastilah ada masalah atau kesulitan yang harus kalian rasakan juga. Dan di saat-saat terburuk nantinya, apakah kamu akan sanggup bertahan di sisinya? Sesulit apapun masalah yang dihadapi, akankah kamu tetap bertahan bersama dia?

3. Jodoh ada masa berlakunya, sedangkan cinta pasti ada pasang surutnya. Maukah kamu berusaha memperjuangkan dia?

maukah memperjuangkan dia?

maukah memperjuangkan dia? via dylandsara.com

Cinta adalah kata kerja yang harus dibuktikan dengan usaha dan bukan sekadar kata-kata. Jika kamu dan dia saling mencintai, tentu kalian tak akan putus berusaha demi bisa bersama. Berusaha memahami karakter pasangan, memaklumi kekurangan, atau memaafkan kesalahan misalnya.

Tanpa usaha-usaha itu, hubungan kalian tentu tak akan bertahan lama. Pasti mudah goyah karena tak mau sama-sama memperjuangkan pasangannnya. Lihatlah dirimu sendiri, perjuangan atau perngorbanan macam apa yang sudah kalian lakukan selama ini? Dan setelah menikah nanti, akankah semangat itu pun akan masih tetap membara?

4. Setelah menikah, kamu dan dia pasti akan sesekali berdebat. Tapi setujukah kamu untuk selalu berdebat dengan kepala hangat?

berdebat dengan kepala hangat

berdebat dengan kepala hangat via howheasked.com

Kamu dan dia adalah dua individu berbeda. Sewajarnya kalian punya pola pikir atau cara pandang yang berbeda terhadap sesuatu hal. Sah-sah saja ketika akhirnya perbedaan itu menimbulkan perdebatan di antara kalian. Namun, maukah kamu mengendalikan hati dan emosi pribadi? Bisakah kamu berdebat dengannya tanpa harus saling menyakiti?

5. Menikah bukan tentang kalian berdua saja. Ada keluarga bahkan anak-anak yang harus diurus berdua.

menikah bukan tentang kita berdua saja

menikah bukan tentang kita berdua saja via genius.com

Jika saat pacaran kalian menjalani hubungan berdua saja, menikah justru jauh berbeda. Menikah berarti menyatukan dua keluarga menjadi satu. Tugas kalian pula untuk menjaga keharmonisan hubungan keduanya. Butuh kerja sama antara kamu dan dia agar bisa mewujudkan hubungan yang baik dalam keluarga.

Selain itu, kelak akan ada anggota-anggota keluarga yang baru. Ada anak-anak kalian yang kelak lahir dan harus diurus berdua. Itulah mengapa kalian selayaknya bisa jadi rekan satu tim yang solid. Dimana kalian harus bekerja sama demi sebuah kehidupan rumah tangga yang bahagia.

6. Bosan adalah perasaan yang manusiawi. Jika rasa bosan itu datang, akankah kamu bertahan dan bukannya pergi?

bosan bukan berarti kita selesai

bosan bukan berarti kita selesai via dylandsara.com

Bohong jika sepasang suami istri mengaku sama sekali tak pernah merasa bosan. Entah bosan pada pasangan atau kehidupan pernikahan yang dijalani selama bertahun-tahun. Namun, bosan berarti kamu berhak meninggalkan pasangan dan mencari selainnya lagi. Sebagai individu dewasa, kamu tentu sudah mengerti bahwa perasaan itu seharusnya dikalahkan dan bukannya diikuti.

7. Menikah tak lantas membuatmu kehilangan jati diri. Akankah kamu tetap berjuang demi renjana dan mimpi-mimpi?

masihkan berjuang demi mimpimu?

masihkan berjuang demi mimpimu? via dylandsara.com

Ada yang berpendapat bahwa status “sudah menikah” akan membuat banyak pintu tertutup untukmu, khususnya dalam hal pekerjaan dan kesempatan. tapi hal itu tentu tak sepenuhnya benar. Apakah menikah akan menutup kesempatan-kesempatan yang datang? Hal itu tentu tergantung pada dirimu sendiri.

Yup! Selama kamu masih punya niat yang kuat untuk berjuang demi karir dan mimpi-mimpimu, tentu tak ada hal yang mustahil. Banyak orang bisa sukses setelah menikah, bahkan lebih sukses daripada sebelum menikah. Semua tergantung pada niat, usaha, dan kegigihanmu sendiri.

8. Bukan perkara siapa yang meninggalkan atau ditinggalkan. Jika kelak dirinya pergi, sanggupkah kamu untuk tetap bertahan?

hidup harus dilanjutkan

hidup harus dilanjutkan via dylandsara.com

Di dunia ini tak ada hal yang pasti. Tak ada jaminan bahwa kalian akan hidup berdua selamanya. Entah apa alasannya, mungkin saja dia akhirnya pergi meninggalkanmu. Jika sudah waktunya, bisa jadi memang dia yang harus meninggalkan dunia lebih dahulu. Dan ketika hal itu benar-benar terjadi, sanggupkah kamu melanjutkan hidupmu sendiri? Sekalipun hidup harus dijalani tanpa dia – seseorang yang sangat kamu cintai?

Sudahkah kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan di artikel ini? Dan sudah siapkah kamu melangkah ke hubungan yang lebih serius lagi? 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya