Mengambil keputusan untuk menikah jadi salah satu hal sulit yang tak hanya berlaku bagi kamu atau dia, tapi juga hampir semua orang. Sebab menikah bukan hanya perihal ijab kabul dan pesta resepsi setelahnya. Menikah itu persoalan mempersatukan dua keluarga dan membangun satu keluarga kecil yang baru. Menikah juga persoalan menjaga kenyaman serta ikatan yang ada.

Makanya keputusan menikah buat kamu atau dia bukan hanya karena sudah masuk umur, paksaan orang tua, mencari aman agar tak ditanya-tanya lagi, atau soal kewajiban belaka. Sebelum kamu menemukan alasan-alasan ini untuk menikah, lebih baik jangan pasang harapan yang terlalu tinggi tentang sebuah pesta pernikahan. Keriuhan yang terjadi dalam pesta pernikahan hanyalah awal dari segalanya. Setelahnya kamu akan dihadapkan pada kenyataan hidup sebenarnya.

1. Kalian menikah karena sama-sama yakin, jika kehidupan bersama pasangan halal menawaran kebahagian yang tak semu.

Yakin yang halal itu lebih membahagiakan via www.logancoleblog.com

Kamu dan dia memang bahagia dengan masa-masa pacaran ini. Ya, meski sesekali kalian bertengkar karena salah paham atau perbedaan pendapat. Tapi akhir-akhir ini, kalian sama-sama berpikir tentang bahagia yang sesungguhnya, yang tak hanya menjalin hubungan pacaran saja dengan segala keterbatasan hal yang bisa kalian lakukan berdua. Kamu dan dia mulai berpikir bagaimana kalau membangun rumah tangga, tinggal berdua, saling melengkapi dalam “semua hal”, berusaha dan berkembang bersama, mempunyai dan merawat anak.

Hal-hal itu dipikiran kalian masing-masing sangat menyenangkan untuk dibayangkan, lalu bagaimana kalau menjadi kenyataan?

2. Persoalan materi tak pernah terlewat untuk dipikirkan. Sesayang apapun kamu dengan pasangan, menikah tak cukup dengan hanya bermodal kata cinta.

Advertisement

Menikah tak cukup modal cinta via www.logancoleblog.com

Memang tak perlu menunggu kamu menjadi miliarder untuk bisa mengambil keputusan menikah. Tapi bukan berarti kamu yang sama sekali belum bermodal apa-apa juga bisa memutuskan untuk segera menikah. Semuanya harus dimulai dalam porsi yang pas, tidak kurang namun tidak perlu berlebihan.

Menikah memang soal mengedepankan perasaan saling nyaman, namun bukan berarti melupakan kemapanan. Kamu tetap harus memiliki modal materi yang meski tak perlu berlebihan, tapi setidaknya cukup memulai kehidupan berumah tangga. Rencana harus dipikirkan secara matang, bukan hanya mengandalkan kata “jalani saja, toh sudah ada jalannya,”. Jalan menuju kebahagiaan tak akan pernah ada jika kamu tak merintisnya sejak sekarang.

3. Kenyamanan yang datang bukan hanya dari lamanya hubungan. Tapi juga dari selarasnya pandangan dan pemikiran.

Ada keselarasan pandangan via www.logancoleblog.com

Meski nggak selalu punya pendapat yang sama, kalian tetap punya pandangan dan tujuan hidup yang sama. Lagipula perbedaan pendapat yang ada ini justru membuat kalian belajar untuk lebih memahami keinginan pasangan. Perbedaan pendapat juga bisa memberi banyak pilihan dalam menyikapi atau mengambil keputusan bersama. Intinya, kamu dan dia sudah tak pernah ragu atau khawatir dengan adanya perbedaan pendapat.

Beda kepala, kan sudah pasti beda pemikiran. Yang terpenting, kalian selalu mencari cara untuk menyatukan perbedaan. Asalkan kalian tidak menemukan kenyamanan hanya karena lamanya hubungan. Karena hubungan pacaran yang lama berjalan tak menjamin kecocokan bisa terus berjalan.

4. Kamu dan dia telah sama-sama cukup bermain-main. Kalian merasa sudah waktunya berhenti.

Sudah waktunya berhenti via www.logancoleblog.com

Fase keseriusan setiap orang memang tak pernah bisa disamakan. Ada yang masuk umur 25 tahun sudah siap menikah, namun ada pula yang belum menemukan urgensi untuk segera melangkah ke pelaminan. Ketika kamu dan dia sudah sepaham untuk sama-sama berhenti, mungkin ini waktu yang tepat untuk segera menyegerakan.

5. Setiap hubungan udah pasti akan ada masalah, tapi buat kamu dan dia setidaknya menikah lebih membuat kalian tenang menghadapi semuanya.

tenang menghadapi segala rintangan via www.logancoleblog.com

Mau di hubungan pacaran, pernikahan, pertemanan, bahkan keluarga sendiri, yang namanya masalah sudah pasti akan selalu datang. Dan semua itu kembali lagi ke diri kalian masing-masing untuk menyikapinya. Tapi setidaknya, saat kalian sudah memutuskan hidup bersama, semua masalah yang datang bisa dihadapi bersama-sama. Pastinya membuat kalian sama-sama tenang untuk bisa saling menguatkan.

6. Pada akhirnya keputusan menikah harus diambil saat kamu dan dia sudah siap bersama tanpa jeda, bukan hanya karena sudah masuk umurnya

kita nikah bukan karena siapa-siapa dan apa-apa via www.logancoleblog.com

Memutuskan menikah berarti kamu harus siap melewati hari dengan orang yang sama setiap harinya. Menikah mengharuskanmu melewati hari tanpa jeda bersama orang yang sama sampai akhir hayat. Bahkan kamu harus tetap bertahan, meski kebosanan melanda. Tapi bukankah disitu esensi sebuah pernikahan. Mau tetap mendampingi dalam apapun kondisi.

Bukan hanya karena kamu atau dia sudah (dirasa) masuk umurnya, dan seharusnya menyegerakan untuk menikah. Tak ada hitungan pasti yang mewajibkan seseorang memutuskan menikah di umur tertentu. Asal masih masuk dalam jalurnya, keputusan terbesar dalam hidupmu ini tetap ada di tanganmu.

Pernikahan bukan cuma soal menentukan venue atau memilih gaun pernikahan yang cantik. Di balik seremonial yang hingar bingar, ada tantangan yang lebih berat setelahnya. Jika sampai sekarang alasan ini belum sekalipun terbesit di pikiranmu, lebih baik urungkan kembali rencanamu untuk menikah. Karena menikah bukanlah solusi dari segala masalah.