Jangan Terlalu Banyak Berharap Padaku. Toh Belum Tentu Aku Akan Jadi Pendamping Hidupmu

banyak berharap

Siang ini aku terdiam saat duduk bersamamu. Seharusnya aku melempar senyum dan berbicara banyak topik padamu, tapi tidak untuk kali ini. Mungkin karena aku tak merasa senyaman biasanya. Berkali-kali kau mencoba mengutarakan kalimat yang sejak awal kubilang tak aku suka.

Advertisement

Dengarkanlah: jangan terlalu banyak berharap pada saat ini. Kita memang saling menyukai, tapi apakah harus terburu-buru dengan semua urusan ini?

Kamu salah satu manusia paling baik yang pernah kutemui. Namun, tak semudah itu untuk menetapkan hati

Pertemuan pertama kita. Photo by Josh Felise on Unsplash via unsplash.com

Sejak pertama bertemu denganmu, tak bisa kusangkal kalau kamu adalah sosok yang begitu menawan. Saking menawannya, berapa banyak orang yang tak pernah tergoda? Kawan-kawanku adalah sederet manusia yang ada di dalamnya. Lain halnya dengan mereka, mungkin aku jadi segelintir saja yang menganggapmu biasa. Tak sedikit pun aku bergeming melihatmu.

Tapi semua jadi berbeda ketika kita dituntut banyak berkomunikasi dan bekerjasama. Awalnya agak aneh dengan sikapmu yang terkesan begitu membanggakan penampilan. Yah, kuanggap saja itu adalah lelucon. Jika tidak, mungkin aku sudah bosan harus bekerjasama denganmu terus. Tapi kuakui engkau memang menawan. Bahkan yang mungkin tidak diketahui banyak orang, kamu juga jago soal membuatku terjebak kenyamanan.

Advertisement

Tak bisa dimungkiri aku memang menyukaimu. Tapi bukankah tak ada yang kujanjikan padamu?

Memangnya aku menjanjikan apa? Photo by Courtney Kammers on Unsplash via unsplash.com

Kebersamaan yang terus-menerus telah menumbuhkan sedikit rasa simpati padamu. Mungkin kamu pun telah menyadarinya. Tak jauh berbeda denganku, kamu merasa nyaman di dekapanku. Berbagai topik tak segan kita kupas bersama siang dan malam. Yah, orang lain yang sirik pada hubungan kita bisa saja menyebut kita saling mencintai dan sedang menjalin kasih. Namun aku hanya biasa saja. Aku belum menyebutmu sebagai kekasihku, apalagi menerapkan begitu banyak target. Aku berharap kita bisa mengalir saja.

Sayangnya tidak demikian yang bergelayut di pikiranmu. Tak mengherankan jika kamu sering menuntutku ini dan itu. Bahkan untuk masa depanku, kamu turut mengatur jalan yang kupilih. Alasannya kamu tak sanggup hidup jauh dariku. Soal masa depan, aku rasa kita tak bisa sejalan. Masalahnya, prinsipku kuat. Siapa lagi yang mampu menjamin diriku sendiri selain aku?

Advertisement

Ketika orang lain menyangka betapa beruntungnya aku mendapatkan hatimu, justru sebaliknya yang aku rasa. Mulai saja kamu memperlakukan aku dengan berlebihan. Saat jauh, apapun harus aku laporkan padamu. Padahal aku bukan lagi anak kecil yang akan hilang saat terbentang jarak dengan induknya. Tingkahmu juga mulai menunjukkan seakan-akan memiliki diriku sepenuhnya. Entah itu memamerkanku di depan kawan-kawanmu atau hampir saja membawaku ke orang tuamu. Aduh, tidak secepat itu.

Lebih sedihnya lagi, pergaulanku semakin terbatasi. Setiap detik dan waktuku hanya boleh dihabiskan denganmu saja. Yakin dengan begini kamu bisa membuatku bahagia?

Aku bukan orang yang suka mengobral janji. Jadi, tolong jangan memelihara terlalu banyak mimpi

Tanpa menetapkan target ini itu, aku yakin semuanya bisa lebih indah. Photo by John Schnobrich on Unsplash via unsplash.com

Aku masih sangat muda. Masih banyak pula mimpi dan target hidupku sebagai manusia. Masih banyak yang harus kukejar demi mengejar mimpi-mimpi itu. Aku pun perlu mencukupi kebutuhan hidupku sendiri dan keluargaku. Jikalau cinta semata yang kujadikan prioritas utama di hidup ini, apakah ada jaminan bila nanti aku tak akan kehilangan impian dan tak menyesal?

Aku cukup berterima kasih dengan semua kasih sayang yang kamu beri. Aku masih mau menjalani ini semua denganmu. Tapi tolong jangan berekspektasi banyak dengan harapanmu. Aku pun yakin bahwa masih banyak yang harus kita cari. Dan kita juga belum tentu berjodoh sampai akhir nanti. Kita belum tentu menjadi sepasang manusia yang kelak akan menghabiskan sisa umur bersama. Semuanya itu hanya Tuhan yang tahu dan mengaturnya. Tolonglah berlaku sewajarnya, sebagaimana aku adalah sahabatmu.

Dari aku,

Yang tak ingin kehilangan diri sendiri hanya demi mendapatkanmu

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mesin karaoke berjalan yang gemar film hantu

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE