Jatuh cinta itu perkara sederhana, sementara cinta sejati lebih dari luar biasa. Bukan sekadar perasaan suka, bukan pula euforia sementara. Cinta sejati tak pernah pergi, meskipun harus tinggal sendiri dalam hati yang terlalu sepi.

Apa kabar cinta sejatimu? Apa kabar dia yang jadi separuh jiwamu? Mari sejenak hening. Mengakrabi cinta lama yang masih hangat terasa…

Hei Kamu, Pria Sederhana yang Berhasil Membuatku Tergila-Gila

hei kamu, pria sederhana yang membuatku tergila-gila

hei kamu, pria sederhana yang membuatku tergila-gila via www.sincerelykinsey.com

Advertisement

“Sayang?”

Hahaha. Masih layakkah aku menyapamu dengan sebutan itu? Apa suaraku kini terlalu asing di telingamu? Maaf ya, nyatanya lidahku masih terlalu kaku saat harus menggunakan kata “kamu”. Ah, kamu pasti bisa memaklumi. Aku hanya belum terbiasa mengubah kebiasaanku sendiri.

Sayang…Eh, maksudku “kamu”! Apa kabar dunia warna-warnimu? Masihkah sibuk bergelut dengan pekerjaan yang dulu sering kamu ceritakan? Pekerjaan yang memaksamu bangun jam 6 dari Senin hingga Jumat. Pekerjaan yang membuatmu menggambarkan Jumat sore dengan satu kata – nikmat! Aku akui kamu memang paling pintar merayakan akhir pekan. Sederhana saja, kamu hanya akan tidur seharian sampai lupa makan.

Advertisement

Oh iya, apa kabar hobi dan kesukaanmu? Masihkan meluangkan waktumu untuk menulis? Aku ingat, kamu pernah menulis tentang hujan. Tapi, bukan cerita hujan yang bisa dengan sadis meletupkan emosi romantis. Kamu justru menuliskan Si Hujan sebagai tokoh antagonis. Karena hawa dinginnya memanjakanmu lelap tertidur di kasur; merelakan seember cucian yang sebelumnya sudah kamu tata rapi di tali jemuran kendur.

Hei, tahukah kamu bahwa aku menikmati waktuku bersamamu? Mencerapi cerita-cerita tentang momen bangun kesiangan, soal rekan kerja dan atasan, hingga perkara jemuran.

“Aku merindumu – merindu kesederhanaan saat bersamamu…”

Ini Aku – Aku yang Sempat Mendampingimu Beberapa Tahun Lalu

ini aku - aku yang sempat mendampingimu dulu

ini aku – aku yang sempat mendampingimu dulu via bridalmusings.com

Aku percaya. Tak mungkin kalau kamu sudah lupa. Sekalipun sekian tahun sudah berlalu, kita pernah berbahagia bersama – dulu! Tangan kirimu tak pernah lepas merangkul pundakku, pun lengan kananku yang selalu melingkar di pinggangmu.

Tapi, apa kamu mengingat kisah panjang jauh sebelum urusan pundak dan pinggang? Ya, cerita tentang perkenalan, proses pendekatan, hingga momen jadian. Apa kamu masih ingat semuanya?

Kamu adalah pria sederhana, aku pun wanita yang jauh dari predikat sempurna. Ketika itu, kita berkenalan setelah perantara seorang teman. Jasanya memang begitu saja kita lupakan, meskipun dialah yang mengantarkan kita pada sebuah pertemuan. Duh, lagi-lagi aku harus memilih kata “sederhana”. Tapi, apa mau dikata, pertemuan pertama kita memang terkesan sangat biasa. Sekadar berbekal  selembar tikar di warung lesehan, dua gelas kopi instan, dan sepiring camilan.

Siapa yang bisa menyangka? Momen sederhana itu justru membawa kita pada letup-letup rasa yang luar biasa. Setelah pertemuan itu, entah berapa kali kamu mengirimiku SMS setiap harinya? Dan entah berapa banyak pulsa yang kamu habiskan untuk mendengarku berkata: “halo, ada apa?”.

Ah, kamu pasti mulai risih saat aku mengingatkanmu pada momen-momen itu, ‘kan? Hehehe. Aku memang senang menggodamu; mengungkit-ungkit perkara siapa yang gencar mendekati lebih dulu. Ya, sudahlah, tak perlu pasang muka masam. Toh, akhirnya pun aku jatuh ke pelukanmu meskipun sempat pura-pura jual mahal.

“Aku mengaku jatuh, bahkan terjatuh sangat dalam. Anehnya, aku jatuh tanpa sedikitpun merasakan kesakitan…”

Dulu, Kita Pernah Begitu Keras Kepala Demi Bisa Bersama

pernah begitu keras kepala demi bisa bersama

pernah begitu keras kepala demi bisa bersama via www.sincerelykinsey.com

Awalnya, semua memang tampak baik-baik saja. Aku mengaku jatuh cinta padamu, kamu pun merasakan hal yang sama. Bahagia adalah ketika kita bisa saling menggengam tangan dengan erat. Saat aku meletakkan kepalaku di bahumu, yang buru-buru disambut usapan hangat tanganmu di rambutku.

Sayang, manusia tak pernah layak menjalani hidup yang begitu-begitu saja. Tak juga berhak melewatkan waktu yang berharga untuk hal-hal sederhana seperti saling pandang atau pelukan berjam-jam. Kita berdua memang patut ditempa. Komitmen yang kita bangun pun pantas di uji coba.

Aku ingat, saat bicaramu mulai terbata. Lidahmu kelu tak sanggup berucap lantaran tak tega. Aku tahu, kamu benci mengabariku perihal keputusan dipindah tugaskan yang menandakan perpisahan kita. Padahal, aku bisa menerima jika kita harus terpisah sementara. Ya ampun, tinggal terpisah pulau bukan masalah besar bagiku yang sudah baik-baik menempatkanmu di dalam hatiku.

Katamu,

“Bahagiaku itu ketika aku bisa bangun di pagi hari dan melihat wajahmu yang penuh minyak. Menikmati sisa-sisa aroma parfume di tubuhmu yang tak lagi enak…”

Kamu pasti masih ingat betapa keyakinanku membuat kita sempat merasa jumawa. Menganggap bahwa sebuah hubungan jarak jauh bisa dijalani tanpa perlu usaha ekstra. Nyatanya, minimnya pertemuan membuat kita jatuh bangun mempertahankan hubungan. Komunikasi yang tak lancar jadi penyebab ikatan yang mulai merenggang. Tapi, kita belum menyerah pada keadaan – kita masih semangat berjuang!

Tunggu! Apa semangat kita sama besarnya? Jika diibaratkan pendakian, akankah kita mencapai puncak sambil tetap bergandengan tangan? Ataukah salah satu justru memilih menyerah karena tak sanggup menahan lelah?

Aku Pernah “Sakit”, Tapi Cukup Baik-Baik Saja untuk Menjalani Hidup Seperti Biasa

aku pernah sakit, tapi aku baik-baik saja

aku pernah sakit, tapi aku baik-baik saja via background-pictures.picphotos.net

Terjawab sudah. Kamulah ternyata yang lebih dulu mengaku kalah. Kalah? Ya, kalah di arena perjudian yang hanya memberimu dua pilihan; bertahan bersamaku atau menjajal “dunia” baru tanpaku. Iya, aku paham jika hubungan jarak jauh bukan satu-satunya alasan. Setelah tahun-tahun dilewati bersama, kita pun menemukan berbagai remeh-temeh ketidakcocokan.

“Membayangkan perpisahan saja selalu membuatku mual. Rasanya seperti ingin muntah. Aku pikir aku bisa mati jika tak lagi bisa berdampingan denganmu…”

Tapi, lihatlah dimana aku sekarang?

Aku tak lagi menyandarkan kepalaku di bahumu. Tak pula sedang menyembunyikan wajahku di lipatan lenganmu. Sebuah momen pertemuan empat mata berhasil membuat sendi-sendiku lemas. Lidahku kelu, tapi telingaku samar-samar menangkap arah pembicaraanmu. Kamu mantap memilih pisah dan aku pun memilih mengangguk lemah. Bahkan, sebuah pelukan perpisahan yang kamu tawarkan pun tak sanggup aku sambut dengan mewah.

“Aku terjatuh lagi, tapi jatuhku kali ini sakit sekali. Aku tak mau siapa-siapa, kecuali diriku sendiri. Aku butuh kapas dan plester untuk menambal lukaku…”

Ya, aku tahu bahwa kamu tahu jika saat ini aku hanya sedang berusaha tegar. Aku yang enggan menangis di depanmu memaksa kakiku berdiri meskipun keduanya masih bergetar. Sudah pasti aku bukan orang pertama atau satu-satunya di dunia ini yang terpaksa merasakan momen putus cinta. Hatiku mungkin retak, tapi bisa jadi belum patah atau hancur berserak.

Sambil Menunggu Cinta yang Baru, Aku Masih Merawat Tempatmu di Hatiku

aku masih merawat tempatmu dihatiku

aku masih merawat tempatmu dihatiku via bridalmusings.com

Putus cinta begitu hebat mengobrak-abrik duniaku. Tapi, setidaknya aku masih menjalani hidup seperti biasa – mengunyah makanan atau pergi bekerja. Aku bersyukur tak ada penanda putus cinta yang kentara; selain sekadar kelopak mata yang membengkak tak biasa. Meski mataku sering tiba-tiba berair dan basah, demi diriku sendiri aku layak bersusah payah.

Yup, hidup tak selayaknya dijalani dengan sia-sia. Bahagia juga bukan sesuatu yang niscaya atau pemberian yang cuma-cuma. Aku layak melanjutkan hidup setelah sebuah bencana besar membuat duniku porak-poranda. Aku harus berbahagia meskipun bukan lagi kamu yang jadi alasannya. Bukan kamu poros kebahagiaanku, tempat terhormat ini sudah sah aku kembalikan pada diriku sendiri.

“Ah, rasanya baru hari kemarin aku mengenalmu. Ternyata kita sudah melewati sekian tahun bersama, pun sekian tahun setelah kata “putus” meluncur dari mulutmu…”

Sekian tahun? Ya, sekian tahun sudah terlewati. Tapi, sudahkan kamu menyembuhkan sakit hatimu sendiri? Mampukah kamu berbahagia dengan hidup yang sekarang dijalani? Beranikah kamu membuka hati dan menjajal cinta yang baru lagi?

Jawabku,

“Sudah!”

Aku berjanji siap menguatkan hati. Berusaha berdamai dengan masa lalu yang dulu dilakoni. Aku pastikan bahwa luka hatiku sekarang sudah kering; sudah siap jika harus dijajal dan ditempa lagi. Menyiapkan hati dan kembali memoles diri. Menunggu cinta baru yang tak lama lagi mungkin akan datang menghampiri.

Tapi, sebentar! Aku ingin membagi rahasiaku denganmu – selembar pesan yang kukirim pada Tuhan semalam…

“Tuhan, aku tak mengaku pun kau pasti tahu sejatinya isi perasaanku. Aku berujar siap menunggu cinta yang baru, tapi sampai detik ini masih kurawat baik-baik tempatnya dihatiku. Dia yang dulu nyaman menempatinya, entah sekarang sedang berdiam di hati siapa. Aku bersumpah tak pernah mengintip buku-buku catatan-Mu, tapi aku sekadar yakin bahwa dialah cinta sejatiku. Belahan jiwa yang Kau ciptakan untuk menggenapkanku. Maaf, aku tak bermaksud lancang atau mendikte kuasa-Mu. Aku hanya berharap Kau tak bosan-bosan mendengar doaku. Cinta baru yang Kau kirim untukku sudah pasti aku terima, pun bila dia yang Kau kembalikan, aku akan lebih berbahagia…”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya