5 Alasan Masuk Akal Memaafkan Sahabat Jauh Lebih Susah Dibanding Memaafkan Musuh. Sakitnya Beda

Memaafkan Sahabat

Kalau bicara soal sakit hati, kamu mungkin sudah sering tersakiti, atau diam-diam tersakiti oleh sikap orang yang nggak kamu suka. Mungkin juga karena sikapnya yang sering menyakiti itu yang membuatmu sulit menyukainya. Tapi rasa sakit hati itu terasa biasa saja dan mudah kamu maafkan. Beda ceritanya bila yang menyakiti hatimu adalah sahabatmu sendiri

Advertisement

Amarahmu begitu membara, sampai rasanya kamu nggak bisa bertemu dia selamanya. Butuh waktu yang sangat lama untuk bisa memaafkannya, meski mungkin kamu bisa tetap berteman dengannya. Kamu pun heran sendiri, kenapa bisa begitu ya? Kenapa memaafkan kesalahan musuh atau orang yang nggak kita suka jauh lebih mudah ketimbang memaafkan kesalahan sahabat sendiri? Mungkin ini beberapa alasan yang masuk akal untuk menjelaskannya.

1. Sahabat adalah orang yang kamu percaya atas banyak hal. Kesalahannya bagai kejutan yang nggak kamu duga datangnya, dan itu jauh lebih sakit rasanya

sahabat adalah orang dipercaya (photo by marusya21111999) via pixabay.com

Sahabat baik adalah orang yang paling mengerti dirimu setelah kamu sendiri. Kamu mengandalkannya, menceritakan segala tentang hidupmu, dan mempercayakan banyak hal kepadanya. Kamu yakin dia bukanlah orang yang bisa menyakitimu ataupun mengecewakanmu. Jadi, ketika dia melakukan kesalahan yang melukaimu, itu merupakan sesuatu yang nggak pernah kamu antisipasi. Itu seperti kejutan buruk yang membuatmu shock. Kamu mungkin juga bingung karena nggak pernah berpikir hal-hal seperti ini akan pernah terjadi.

2. Sedang kesalahan orang yang tak kamu suka itu sudah kamu antisipasi. Meski sikapnya melukaimu, kamu sudah siap untuk itu

oang yang kamu suka sudah biasa melukai via www.peoplealchemy.co.uk

Berbeda dengan orang-orang yang nggak kamu sukai atau bahkan musuhmu. Bukan lagi mengantisipasi, namun, rasa nggak suka itu bisa membuat segala hal yang mereka lakukan terasa salah di matamu. Jadi, ketika mereka melakukan kesalahan atau menyakitimu, kamu hanya berpikir “lagi-lagi begini”. Ketidakcocokan di antara kalian, atau mungkin permusuhan di antara kalian, membuatmu sudah mengantisipasi sikap-sikap buruk yang mungkin dia lakukan. Itu membuatmu lebih mudah menerima kenyataan.

3. Jauh lebih sulit memahami sikap sahabatamu yang menurutmu keliru. Sedang orang yang nggak kamu suka, sikap buruknya mudah kamu mengerti

sulit memahami sikap sahabat yang mengecewakan (Photo by Gonzalo Arnaiz) via unsplash.com

Jika musuh atau orang yang nggak kamu suka menyakitimu, kamu bisa dengan mudah memakkluminya. Kamu mungkin menyadari bahwa relasi di antara kalian memang nggak sebaik itu, jadi sikapnya juga sederhana bagimu. Atau mungkin sebenarnya kamu malah nggak peduli? Jauh berbeda dengan sahabatmu. Dengan segala kedekatan kalian, kepercayaan yang kamu berikan, kok bisa dia melakukan hal yang menyakitimu seperti itu? Sikapnya ini sulit sekali kamu mengerti. Bahkan, sulit juga untuk kamu percayai.

4. Kamu nggak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh orang yang nggak kamu suka. Tapi sikap sahabatmu yang menyakiti membuatmu otomatis mengoreksi diri sendiri

kamu jadi mengoreksi diri sendiri (Photo by Ethan Sykes) via unsplash.com

Apa yang membuatmu mudah memahami sikap orang yang nggak kamu suka, membencimu, atau bahkan musuhmu, mungkin karena sebenarnya kamu nggak peduli dengan apa yang dia pikirkan. Sedangkan untuk memahami sahabatmu, kamu sulit menemukan alasan kenapa dia melakukan hal itu. Hal ini, membuatmu otomatis mengoreksi diri sendiri. Apakah yang sudah kamu lakukan sampai sahabat baikmu melakukan hal yang demikian? Apa jangan-jangan kamu memang pantas disakiti dan diperlakukan seperti itu?

5. Jika disakiti oleh orang yang nggak kamu suka, kamu akan bersikap “ya udah lah ya”, sedang kepada sahabatmu rasanya ambigu. Luka yang kamu rasa meninggalkan trauma

Advertisement

meninggalkan trauma (Photo by Ethan Sykes) via www.pexels.com

Ketika orang yang nggak kamu suka, membencimu, atau musuhmu menyakitimu, kamu hanya akan kesal dan marah sebentar nanti juga lupa. Karena prinsipmu soal hal ini adalah “ya udah lah ya”, toh kamu juga nggak berminat berhubungan lebih dekat atau mengenalnya lebih jauh. Berbeda dengan sahabat baikmu sendiri. Setelah rasa terkejut, nggak percaya, dan sakit hati yang membuatmu oleng itu, perasaanmu ambigu. Dia minta maaf, dan kamu pun ingin memaafkan. Tapi di hati kecilmu ada ketakutan dia akan mengulangi perbuatannya di masa depan.

Meski demikian, sesulit apa pun, memaafkan seseorang, mau dia orang yang nggak kamu suka atau sahabat baikmu sendiri akan lebih baik untuk dirimu sendiri. Karena menyimpan dendam dan amarah itu sebenarnya melelahkan sekali bukan? Dengan memaafkan seseorang, sebenarnya kamu juga sedang memaafkan dirimu sendiri.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pecinta harapan palsu, yang berharap bisa ketemu kamu.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE