Menikah adalah keputusan besar yang akan mengubah kehidupan seseorang. Menyatukan dua kepala tidak hanya berdampak pada halalnya bercumbu dan tidur bersama, tapi juga berarti menyatukan dua keluarga yang belum saling mengenal sebelumnya.

Sakralnya komitmen pernikahan membutuhkan proses saling mengenal yang dalam dari kedua belah pihak. Uniknya, sekarang mulai banyak fenomena pernikahan tanpa proses pacaran sebelumnya.

Bisa ya nikah tanpa pacaran sebelumnya? Saling kenalnya gimana dong?

Apakah Pacaran Jadi Satu-Satunya Jalan Untuk Saling Mengenal?

Pacaran dianggap sebagai proses saling mengenal via jerukoranye.wordpress.com

Fenomena pacaran sudah bukan jadi hal yang asing dalam masyarakat kita. Sebenarnya apa sih pacaran itu? Jika ditilik dari arti kata di KBBI “pacar” berarti “teman lawan jenis yang tetap dan memiliki hubungan berdasar cinta.

Advertisement

Jadi bisa disimpulkan bahwa setidaknya ada 3 komponen dalam hubungan pacaran:

  • Pertemanan
  • Hubungan yang tetap
  • Berdasarkan cinta

Jika dilogikakan, sebenarnya pacaran tidak lebih dari hubungan persahabatan. Bedanya, dalam ikatan pacaran hanya ada 2 pribadi berlainan jenis yang terlibat didalamnya. Aktivitas pacaran diidentikkan dengan sepasang muda-mudi yang menghabiskan waktu berdua.

Selfie jadi kegiatan wajib saat pacaran via www.tripoto.com

Ketika ada sepasang anak muda yang makan bersama di restoran, bergandengan tangan di pusat perbelanjaan, atau asyik selfie mengenakan ponsel — orang akan dengan mudah menyimpulkan bahwa mereka adalah pasangan yang sedang berpacaran.

Berkembangnya fenomena pacaran tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan manusia akan kasih sayang. Memberikan dan menerima kasih sayang membuat seseorang merasa aman dan dibutuhkan oleh pasangannya. Kasih sayang pulalah yang akan membuat sebuah komitmen bertahan.

Pacaran kemudian dianggap jadi media yang tepat untuk menyalurkan kebutuhan akan kasih sayang yang dimiliki. Ikatan ini kemudian bertransformasi jadi hubungan yang lazim dijalani oleh pasangan muda-mudi yang ingin menjajaki hubungan ke arah yang lebih serius.

Tidak Pacaran Jadi Langkah Awal Untuk Membangun Komitmen yang Bersih

Tidak pacaran jadi awal membangun komitmen yang bersih via lofukau.com

Menurut Agung Istu dan Vera yang sudah menikah selama 9 tahun, menjalani pernikahan tanpa proses pacaran sebelumnya adalah langkah awal untuk membangun kehidupan yang penuh berkah. Pasangan yang kini sudah memiliki 4 anak itu berproses menyiapkan pernikahan hanya dalam jangka waktu 3 bulan.

Agung dan Vera sebelumnya saling mengenal dari dari organisasi remaja masjid di kampung. Interaksi diantara mereka berdua sebatas kepentingan organisasi semata.

Bahkan Mas Agung dulu sempat jadi wakil ketua dan jarang datang, hehe. Sementara saya sekretarisnya,” kelakar Vera ketika menceritakan awal perkenalan mereka.

Agung dan Vera bersama keluarga kecilnya

Agung dan Vera secara tidak langsung dipersatukan oleh keadaan. Pada bulan November 2005, Vera sudah didesak untuk segera menikah oleh keluarganya. Sementara Agung yang baru menginjak usia 25 tahun memang memiliki cita-cita untuk menikah di usia tersebut.

Merasa tertarik pada Vera, akhirnya Agung mendatangi rumah Vera untuk menyampaikan keinginannya melamar. Lamaran diterima pada bulan April 2005; resepsi pernikahan kemudian dilangsungkan di bulan Agustus tahun yang sama.

Ketika ditanya kenapa memilih jalan menikah tanpa melalui proses pacaran, Agung menjawab:

Kalau pernikahan diawali dengan proses yang baik, pasti hasilnya penuh berkah. Kami  juga ingin menjadi sosok orang tua yang bisa jadi teladan untuk anak-anak kami nanti. Kalau kami ingin mereka tidak pacaran ya masak kami mau memberi contoh yang sebaliknya?

Lagipula pacaran itu cuma akan kelihatan baik-baiknya saja kok, saya yakin.

Rahmanita: “Pacaran Justru Bukan Tanda Kedewasaan

Pacaran bukan tanda kedewasaan via indonasional.blogspot.com

Rahmanita, seorang calon Psikolog Pendidikan yang akan menikah 10 Agustus mendatang juga punya kisah yang hampir serupa. Rahmanita dan calon pasangan akan menikah tanpa melalui proses pacaran sebelumnya. Mereka hanya saling mengenal dalam sebuah organisasi kampus.

Rahmanita, yang menyebut calon suaminya dengan “Beliau” mengaku sudah simpatik terhadap calon suaminya sejak awal perkenalan di tahun 2010. Dia menganggap calon suaminya memiliki jiwa kepemimpinan yang besar. Ini terlihat dari banyaknya tanggung jawab untuk memimpin organisasi yang diamanahkan padanya.

Hipwee sempat harus menunggu sebelum bisa melakukan wawancara dengan Rahmanita. Ia sedang sibuk membagikan undangan pernikahan untuk kawan-kawan satu organisasi. Saat ditanya apakah dirinya tidak cemas menjelang pernikahan, Rahmanita menjawab dengan kalem: “Enggak tuh. Aku juga bingung kenapa nggak deg-degan. Mungkin karena aku tidak sepenuhnya nggak kenal ya sama calon suami”.

Hanya butuh waktu singkat untuk mengenal calon suami via lukihermanto.com

Rahmanita yang seumur hidupnya belum pernah pacaran mengaku kaget ketika calon suami tiba-tiba menyampaikan keinginan untuk melamarnya. Melihat rekam jejak calon suami yang baik, tidak ada alasan bagi Rahmanita untuk menolak tawaran komitmen seumur hidup yang datang padanya.

Hipwee menanyakan tentang keputusannya untuk tidak pernah pacaran. Rahmanita menjawab bahwa dia bersyukur atas keputusannya untuk tidak pernah pacaran sebelumnya.

“Aku jadi punya banyak waktu mencapai hal yang ingin aku capai. Misalnya, organisasi. Disana aku bisa membangun mental, membentuk jaringan. It takes time and energy untuk berkomitmen dan profesional.

Itu tidak akan tercapai, menurutku, kalau aku pacaran. Ketika afeksi kita udah ke pacar, maka rasionalitas dan psikomotorik kita tidak akan berjalan.”

Menikah itu yang penting mentalnya via www.ricoademandana.com

Masih menurut Rahmanita, pacaran justru bukan tanda bagi kedewasaan. Hubungan yang dibingkai dalam skema pacaran tidak akan mengajarkan orang yang terlibat tentang komitmen.

“Nikah itu yang penting mental. Dengan menikah, kita harus menerima kelebihan dan kekurangan pasangan. Kita juga harus buktikan ke orang tua kalau kita mampu. And that’s what life is.

Pacaran tidak jadi tanda kedewasaan. Ya fun aja kan? Walaupun pasti ada berantemnya, tapi kalau nggak suka kamu bisa dengan gampang bilang putus. Sementara orang dewasa menghadapi kehidupan dengan serius. Nggak ada tuh ceritanya bermain-main dengan komitmen.”

Selepas menikah pada 10 Agustus mendatang Rahmanita dan suami akan bertolak ke Inggris bersama-sama. Mereka berdua mendapatkan beasiswa pemerintah untuk menempuh pendidikan Master di salah satu universitas ternama di Inggris.

Perjuangan Dalam Diam Untuk Menghentikan Maraknya Fenomena Pacaran

Ustadz Umam dan Ummi Nas berjuang untuk menghentikan fenomena pacaran via www.facebook.com

Ahmad Nur Umam (Ustadz Umam) dan Nasiroh Tamjis (Ummi Nas), sepasang suami istri yang juga aktif berperan sebagai konselor keluarga di Rumah Keluarga Indonesia (RKI) dan Jogja Family Centre (JFC) adalah segelintir dari banyak tokoh yang berjuang dalam diam untuk menghentikan makin maraknya kebiasaan pacaran.

“Kalau pacaran kan sudah-sudah dekat ke perzinaan, ya. Banyak kasus teman-teman saya yang anak baik-baik, kena kasus married by accident. Awalnya ya cuma ngobrol, jalan-jalan, nonton. Lama-lama terjadilah perzinaan. 

Kita memang sangat ingin berkontribusi di masyarakat umum untuk menghentikan perzinaan. Ajaran agama itu tidak pernah melarang sesuatu tanpa memberikan solusi. Nggak boleh zina, tapi sangat mendorong pernikahan.”

Proses pertama adalah dengan menukarkan biodata pihak putra dan putri via tomramzul.com

Pengalaman pasangan ini menyatukan mereka yang berniat menikah tanpa melalui proses pacaran sudah sangat banyak. Di kediamannya yang asri di Komplek Pesantren Da’arus Sholihat Yogyakarta, Ustadz Umam dan Ummi Nas menceritakan keberhasilan dan kegagalan proses perkenalan yang mereka dampingi.

“Pertama, calon putra dan putri harus membuat biodata dulu. Biodata itu harus dibuat dengan sejujur mungkin. Kalau perlu cantumkan juga penyakit yang diderita, penghasilan, sampai ke visi keluarga macam apa yang ingin dicapai.

Dari biodata yang ada kami akan mencarikan yang sesuai. Biodata putri akan diperlihatkan ke calon putra lebih dulu. Baru setelah pihak putra oke, biodata putra kamu berikan ke pihak putri. Ini untuk mencegah pihak putri sakit hati kalau ditolak. Putri kan biasanya perasaannya lebih halus,” jelas Ummi Nas.

Ustadz Umam dan Ummi Nas akan terus mendampingi sampai proses perkenalan keluarga via tomramzul.com

Ustadz Umam dan Ummi Nas akan mendampingi pasangan sampai perkenalan keluarga. Dari semua pasangan yang pernah mereka dampingi, jelas tidak semuanya berhasil sampai menikah. Tapi sampai saat ini belum ada pasangan yang didampingi untuk menikah tanpa pacaran memutuskan mengakhiri hubungan dengan perceraian.

“Kalau yang sampai bubar alhamdulillah belum ada ya. Tapi kalau yang gagal menikah tentu ada. Pernah ada kasus tiba-tiba pihak putra menghilang tanpa kabar, padahal pihak putri dan keluarga sudah siap lamaran.

Ada juga kasus orang tua yang merasa tidak dilibatkan. Dampaknya pasangan itu tetap menikah, tapi butuh waktu 8 tahun untuk benar-benar meluluhkan hati keluarga.”

Ustadz Umam dan Ummi Nas akan dengan senang hati memfasilitasi siapapun yang berniat mengawali hubungan pernikahan tanpa ikatan pacaran. Kamu bisa kontak ke Hipwee terlebih dahulu untuk mendapatkan kontak mereka.

Visi Misi yang Sama Jadi Titik Pembuka Untuk Berkompromi Setelah Menikah

Visi misi sama jadi pembuka pintu untuk melakukan kompromi via heilyra.blogspot.com

Barangkali akan terlihat aneh saat seseorang memutuskan menikah tanpa pernah intens berhubungan dengan pasangan sebelumnya. Tapi mereka yang menikah tanpa pacaran justru punya perspektif yang lebih luas untuk memaknai sebuah hubungan.

“Mau pacaran atau tidak, proses mengenal pasangan itu tidak berhenti sampai kapanpun. Sampai hari ini kami juga masih belajar saling mengenal satu sama lain.

Masih terus belajar kompromi. Bahkan kami masih belum sepakat mau punya anak berapa,” jawab Agung ketika ditanya tentang cara mengenal pribadi Vera.

Proses mengenal pasangan setelah menikah juga dipandang dengan optimis oleh Rahmanita. Baginya, selama visi-misinya sudah sejalan maka akan lebih mudah mengkompromikan berbagai perbedaan.

Visi misi besar akan membuat hal-hal remeh jadi tidak penting via www.laurenk.co.za

Saat hal-hal yang bisa dilakukan saat pacaran diletakkan dalam sebuah komitmen pernikahan, semua pertengkaran akan sangat kecil nilainya jika dibandingkan dengan visi yang ingin dicapai bersama. Kalau sudah punya visi dan misi yang jelas, kita akan lebih bisa berkompromi terhadap hal-hal yang tidak begitu prinsipil.

Pentingnya kesamaan visi misi juga dibenarkan oleh Ustadz Umam dan Ummi Nas. Mereka tidak akan memasangkan dua pribadi yang tujuan membangun keluarganya berbeda. Bahkan menurut mereka kecocokan sepasang calon pengantin bisa dilihat dari rekam jejak selama ini.

“Saya kira kalau latar belakang dan tujuan membangun keluarganya sama, akan lebih mudah bagi pasangan untuk menyesuaikan diri. Kompromi yang dilakukan tidak akan terlalu sulit.”

Menikah Karena Tuhan, Mungkinkah?

Menikah tanpa pacaran karena ingin mengejar berkah Tuhan via www.mymuslimwedding.co.uk

Dari beberapa pasangan yang Hipwee ajak berbincang, bisa diambil satu benang merah: mereka yang menikah tanpa pacaran memang ingin mengejar keberkahan dari Tuhan dalam komitmen seumur hidup yang akan dijalani.

Sebenarnya bagaimana sih konsep menikah karena Tuhan yang mereka yakini? Bukankah sebagai manusia kita dianugerahi hawa nafsu, yang membuat kepatuhan pada-Nya sering terbatas? Mungkinkah kita yang “biasa-biasa saja” ini bisa menikah karena Tuhan?

Rahmanita mengaku melalui proses panjang untuk mempersiapkan dirinya benar-benar siap menikah karena Tuhan. Sekali lagi, baginya, pernikahan memang masalah mental. Dan kesiapan mental justru tidak dia dapatkan dari pacaran.

“Aku sampai nangis-nangis segala untuk meyakinkan hati menikah karena Tuhan. Setelah proses yang panjang, akhirnya aku tahu kalau tujuan akhir pernikahan itu ya surga. Menikah sama siapapun tidak akan menentukan kemuliaanku di hadapan Tuhan.

Karena itu, aku harus membesarkan hati untuk menerima siapapun yang jadi suami nantinya. Siapapun dia, lewat pernikahan dengan dialah jalan ke surga akan terbuka. Aku cuma harus fokus untuk jadi istri yang sebaik mungkin.”

Butuh proses panjang untuk bisa menikah hanya karena Tuhan via www.aacreation.com

Setelah membaca testimoni diatas, kamu ingin mejajaki hubungan serius tanpa pacaran tapi keder karena “gak alim-alim amat”? Eits! Jangan khawatir. Menikah tanpa pacaran bukan eksklusif untuk kalangan tertentu, kok.

Menurut Ustadz Umam dan Ummi Nas, konsep menikah tanpa pacaran bisa dilakukan oleh siapapun. Bahkan mereka yang sudah pacaran sebelumnya. Kamu tidak harus jadi suci kok untuk menjajaki jalan menuju komitmen yang penuh berkah.

“Siapapun bisa menikah tanpa harus pacaran sebelumnya. Kami akan dengan senang hati membantu. Paman Nabi saja punya masa lalu yang kelam, kok. Apalagi kita yang hanya manusia biasa? Kita fokus saja pada masa depan. 

Kalau sudah berniat menikah tanpa pacaran ya berarti sudah ingin berubah jadi lebih baik. Yang sudah lewat ya sudah.”

Bagaimana dengan kamu? Kira-kira kamu sanggup nggak kalau harus menikah hanya karena Tuhan dan tanpa proses pacaran sebelumnya? Semua keputusan ada ditanganmu, ya. Semoga berhasil!