Entah aku harus memulai dengan kalimat apa, menanyakan kabarmu sungguh terdengar basa-basi. Setiap hari kita bertemu, bertegur sapa, dan tinggal dalam atap yang sama. Kita bisa saling melihat masing-masing di antara kita baik-baik saja. Kita memang selalu menampilkan seolah semuanya tak ada masalah yang berarti dipandang mata. Saudaraku, ada sesuatu yang tersirat dan ingin kucoba untuk mengungkap.

Semoga kau tak keberatan bila kutuliskan beberapa kisah tentang kita.

 

Sadarkah kamu, tak ada lain teman untukku bermain ketika kecil selain dirimu. Kamu teman pertama dan satu-satunya di rumah.

Kamu kawanku yang pertama memberi kelembutan itu via www.sheknows.com

Konyol memang, aku selalu mencoba mengingat perjumpaan pertama kita. Kamu bilang, saat pertama bertemu denganku, aku hanya dua jengkal tangan ibu dan menangis kencang. Kamu yang waktu itu membawa es krim, menyangka aku menangis karena aku menginginkan es krimmu.

Advertisement

Peristiwa perjumpaan kita memang tak pernah kuingat, tapi aku selalu ingat kenangan kita saat bermain di halaman belakang rumah. Tahu kah kamu teman yang pertama yang kumiliki. Sampai hari ini pun, kamu masih menjadi satu-satunya temanku berbagi di rumah. Saat aku lelah dengan segala kesibukan dunia luar, aku selalu ingin pulang dan kembali konyol bersamamu.

Meski kamu begitu jahil dan sering membuatku menangis, aku sangat terinspirasi olehmu. Segala kegemaran dan cara berpakaian kutiru.

Kamu begitu senang membuatku marah. Meski begitu, aku tetap ingin bermain denganmu. via edition.cnn.com

Kita sepertinya ditakdirkan untuk bersama dalam pertengkaran. Menjahiliku dan membuatku menangis seolah hiburan yang menyenangkan bagimu sejak kecil. Mulai dari menyembunyikan boneka kesayanganku, membuatku selalu kalah saat bermain denganmu, hingga saat ini banyak hal yang kamu lakukan untuk membuatku kesal. Tapi, aku tak pernah ingin kehilanganmu.

Kamu selalu menjadi inspirasi di mataku. Banyak hal yang kamu lakukan selalu kutirukan. Ketika kamu sangat gemar mengoleksi komik, tak mau ketinggalan, aku pun juga mengoleksinya. Saat kamu mendekor kamarmu dengan poster-poster, aku pun tak ketinggalan melakukannya. Bagiku, kamu adalah tolak ukur sesuatu yang keren.

Begitu sulit berada di bayang-bayangmu yang penuh prestasi di sekolah. Banyak guru yang heran kenapa aku tak bisa secermelang dirimu.

Kamu selalu gemilang dengan prestasimu, sementara aku selalu jadi pupuk bawang. via galleryhip.com

Meski berbeda tingkat, kita bersekolah di sekolah yang sama. Siapa yang tidak mengenalmu di sekolah. Anak yang rajin dengan tulisan yang rapi dan berprestasi gemilang. Tak usah lah bertanya soal rangking, setiap ada lomba cerdas cermat, pasti lah kamu yang ditunjuk untuk mewakili sekolah.

Aku sangat ingin sepertimu, tapi apa daya kemampuan kita jauh berbeda. Jangankan mendapat rangking, setiap hari saja aku selalu pulang terlambat karena dihukum. Tak jarang ibu harus datang ke sekolah karena dipanggil oleh wali kelasku. Banyak guru terheran-heran dengan perbedaan kita. Aku yang begitu berbalik seratus delapan puluh derajat darimu.

Beranjak dewasa, segalanya berubah. Segalanya semakin sulit, termasuk hubungan kita. Kamu sering memandangku sebagai saingan terberatmu.

Entahlah, kenapa kamu menganggapku sebagai sainganmu.

Waktu pun berlalu, segala kisah masa kecil kita kini hanya kenangan. Begitu pula kebersamaan kita. Walau masih berada dalam satu rumah, kita sudah jarang bercengkerama. Kesibukan masing-masing dari kita menjadi penghalang. Tidak, tidak hanya karena kesibukan, tapi juga karena gengsi kita untuk saling bertegur sapa membicarakan hal-hal tentang kehidupan kita.

Aku tahu, dengan berbagai potensi yang pernah kamu miliki, kamu berangan-angan yang cukup besar dan angan-angan itu belum juga dapat kamu raih. Kamu begitu malu untuk mengakuinya, terutama padaku. Hidupmu tak semudah dulu, aku pun mengalaminya. Kita terlalu takut untuk membagi kesulitan kita. Seolah kita harus bersaing, kita tidak ingin terlihat lemah satu sama lain. Tak jarang, kamu memandangku sebagai saingan terberatmu hingga kamu harus selalu terlihat berkuasa di hadapanku. Kamu menganggap orang tua kita selalu memanjakan dan hanya memperhatikanku, sementara meletakkan semua tanggung jawab hanya padamu.

 

Pernahkah kamu tahu, ayah dan ibu selalu membanggakanmu di depan semua orang, termasuk aku. Begitu pula, aku, selalu menganggapmu yang terhebat.

Percayalah orang tua kita selalu membanggakanmu via www.howtohelpchildren.com

Saudaraku, satu hal yang tak pernah kamu tahu. Setiap kali, ayah dan ibu selalu bercerita kepadaku tentang kamu. Mereka tak pernah bercerita tentang keburukanmu. Di hadapanku, dan semua orang kurasa, mereka selalu membanggakanmu. Mereka selalu membicarakan semua hal tentang kebaikanmu. Katanya, meskipun kamu terlihat santai, kamu begitu terampil mencari relasi yang baik. Dengan caramu, kamu tahu cara merebut hati banyak orang. Tak heran jika kamu punya relasi yang kuat yang tak dimiliki banyak orang. Begitu, puji ayah dan ibu.

Aku pun juga merasakan hal yang serupa. Aku yang sangat sulit memulai pembicaraan dengan orang baru begitu kagum dengan caramu berkomunikasi. Kamu begitu cerdas membuat orang nyaman berbicara denganmu. Kamu memang tetap yang terhebat.

 

Seberat apapun masalah hidupmu, apapun jadinya kamu, aku akan selalu menjadi teman terdekatmu.

Apapun jadinya, kamu tetap idola bagiku via www.salon.com

Meski banyak talenta yang kamu miliki, aku tahu jalanmu tak selalu mulus. Begitu banyak tantangan yang harus kamu taklukan dan itu tak pernah mudah. Kamu harus berjuang keras untuk menggapai semua mimpi yang pernah kamu tuliskan. Yang perlu kamu ketahui, seberat apapun langkahmu, aku di sini masih menjadi teman yang ingin mendengarmu. Apapun jadinya kamu suatu hari nanti, aku tak pernah letih untuk menjadi teman yang terus mendukungmu.