Meski Menyakitkan, Kadang yang Bisa Kamu Lakukan Hanyalah Mencintai Dalam Diam

Mencintai dalam diam

Cinta memang bermacam-macam bentuknya. Seseorang barangkali tidak bisa memilih kepada siapa ia akan jatuh cinta. Tetapi bagaimana dia memperlakukan cinta itu, masing-masing orang punya caranya. Ada yang dengan keberanian besar menyatakannya, lalu berbahagia. Ada yang menyatakannya, tetapi dia bertepuk sebelah tangan. Ada juga yang memilih untuk menyimpan cintanya dalam hati. Bukan berarti lantas dia tidak bahagia. Tetapi justru hanya menyimpan cintanya dalam hati dan berpura-pura menjadi sahabat terbaik si dia, sudah membuatnya cukup senang.

Advertisement

Jika sudah sampai di tahap itu semuanya memang menjadi pilihan. Tapi bagaimanapun juga, menyimpan perasaan dalam hati tak selamanya mudah. Apapun yang kamu rasakan hanya bisa kamu simpan sendirian. Sedihnya, sakitnya, bahagianya, tak bisa kamu tunjukkan.

Untuk kamu yang memilih memendam perasaan, hal-hal inilah yang sebenarnya kamu rasa tapi tak pernah bisa kamu tunjukkan kepada dunia…

Di depannya kamu hanya bisa memandang, sekaligus menyembunyikan apa yang sebenarnya sungguh kamu rasakan

Kamu terbiasa hanya memandangnya dari jarak tertentu | Photo by Finn Hackshaw via unsplash.com

Dia bukan orang yang jauh. Bukan pula orang yang hanya bisa kamu lihat di layar kaca. Keberadaannya begitu dekat denganmu. Di hadapannya, kamu bisa menjelma menjadi sosok sahabat yang hangat dan riang gembira. Tapi memang hanya sebatas itulah yang bisa kamu lakukan.

Advertisement

Memandanginya dalam jarak dekat, memujanya diam-diam, sekaligus menyamarkan segala rasa yang kamu punya. Perasaanmu ambigu. Terkadang kamu ingin dia menyadari perasaanmu, tapi seringnya kamu khawatir segalanya akan berubah saat dia tahu.

Pertanyaan “Apa kabar?” yang kamu lontarkan, bukan hanya basa-basi saja. Sesungguhnya yang kamu inginkan adalah menjadi bagian dari hari-harinya

Karena takut perasaan sebenarnya terungkap, jadi hanya sebatas berani bertukar sapa | Photo by Mason Wilkes via unsplash.com

Menanyakan kabarnya mungkin sudah menjadi rutinitasmu. Mungkin juga itu yang pertama kamu pikirkan ketika bangun tidur. Tetapi kamu salah langkah. Karena sudah menjadi rutinitas, dia menganggapmu hanya basa-basi layaknya teman.

Padahal dalam hatimu, kamu itu jelas bukan sekadar basa-basi. Yang kamu inginkan sesungguhnya adalah mendengar setiap detil hari-harinya tanpa kecuali. Bagimu, dia adalah sosok yang selalu membuatmu khawatir, cemas, senang, ragu, rindu, segalanya bercampur jadi satu.

Advertisement

Dia tidak pernah tahu bahwa meski tak pernah lebih dari teman, dia selalu bisa membuat hari-harimu lebih bahagia

Kamu bisa tersenyum-senyum sendiri dengan pikiran tentang dia di kepalamu | Photo by Karl JK Hedin via unsplash.com

Mungkin hari-harimu begitu sebenarnya begitu membosankan. Kamu mengerjakan hal yang sama setiap harinya. Dan lagi, semuanya tidak lancar-lancar saja. Terkadang ada hal-hal yang membuatmu kesal hingga rasanya nyaris meledak.

Memulai hari saat membuka mata di pagi hari terkadang menjadi hal yang begitu berat. Tapi hanya dengan menyebutkan namanya, dan mengingat bahwa hari ini kamu akan bertemu dengannya, dan mungkin ngobrol sedikit tentang segala sesuatu, membuat semangatmu kembali. Hanya dengan melihatnya saja, sudah cukup untuk membuatmu tersenyum gembira.

Dia pun tak menyadari sering diam-diam membuatmu patah hati. Tapi, toh kamu tetap bisa bertahan untuk seseorang yang kamu sayangi

Patah hati pun dijalani sendirian karena dia tak pernah tahu | Photo by Bruno van der Kraan via unsplash.com

Memandanginya dalam diam memang tak selamanya membuatmu semangat dan bahagia. Ada kalanya kamu harus meredam luka saat melihatnya jalan berdua dengan orang lain. Ingin rasanya kamu mengatakan bahwa tanganmulah yang seharusnya dia genggam. Bahwa kamulah yang seharusnya ada di sisinya. Tapi yang bisa kamu lakukan hanya menggigit bibir dan menahan perih yang sudah bukan sekali atau dua kali datangnya. Tak apa. Toh sampai saat ini kamu masih kuat menahannya.

Seringkali kamu hanya bisa menunjukkan senyum palsu, kala mendengar cerita tentang gadis-gadis di sekitarnya itu

Kamu hanya bisa tersenyum getir di sampingnya | Photo by Radu Florin via unsplash.com

Menjadi sahabat sekaligus orang yang mencintainya sedalam-dalamnya terkadang memang tak mudah. Ada kalanya dia bercerita tentang gadis-gadis yang ada di sekelilingnya. Tak jarang pula dia mencurahkan kegalauan hatinya tentang gadis yang dia suka. Saat itu, kamu hanya tersenyum, dan menyemangatinya untuk mengejar cinta. Padahal hatimu sudah berdarah-darah, sambil tak henti-hentinya kamu bertanya dalam hati: tidak bisakah kamu melihatku? Di sini, di hadapanmu? Selalu di sisimu?

Sekalipun kamu merasa jadi orang yang paling mengerti dirinya. Dia tak pernah merasakan yang sama

Kamu yang paling mengerti keresahannya dan tertawa paling keras atas jokes-jokes garingnya | Photo by Vince Fleming via unsplash.com

Saat dia melucu, kamu akan menjadi orang yang paling keras tertawa. Saat dia mendapatkan kesuksesan, kamu juga orang yang paling bahagia. Bukan cuma itu, mungkin kamu juga orang yang paling terluka saat melihatnya duduk terdiam, merenungi segala kesialan yang berjalan tak sesuai rencana.

Barangkali, kamu lebih mengerti dirinya lebih dari dirinya sendiri. Menghafal kebiasannya saat sedang patah hati, ataupun saat dia tertarik pada sesuatu, sudah khatam kamu hafal. Bagaimana tidak? Segala sesuatu tentang dirinya tak pernah luput kamu perhatikan.Tapi kenyataanya, dia justru tidak tahu bahwa kamulah orang yang paling mengerti dirinya.

Kamu berharap hatimu seperti sebuah buku. Dengan begitu, dia akan mudah membaca segala tentangmu

Kamu terus berpikir cara terbaik mengungkapkan perasaanmu | Photo by Leonardo Sanches via unsplash.com

Perasaanmu kepadanya memang begitu ambigu. Ada kalanya kamu khawatir dia mengetahui perasaanmu, dan karena itu dia justru berubah. Tetapi ada kalanya pula kamu ingin dia bisa memahami perasaanmu. Kamu tahu dia suka membaca. Kamu selalu berandai-andai jika perasaan manusia sesederhana buku, tentu dia akan dengan mudah membaca perasaanmu. Barangkali setelah itu, dia bisa memiliki perasaan sama, dan kalian akan bahagia berdua. Tapi lagi-lagi, itu hanya seandainya.

Kadang perasaanmu memang tak tertahankan, tapi berterus terang jelas bukan hal yang bisa kamu lakukan

Tapi entah kenapa sangat sulit untuk terus terang | Photo by Jake Young via unsplash.com

Menahan rasa sekian lama terkadang membuatmu begitu sesak. Kamu membaca berbagai kisah cinta, yang meyakinkanmu bahwa menyatakan cinta terlebih dahulu tidak apa meski kamu perempuan. Toh dunia sudah berubah menjadi begitu kasual. Perempuan menyatakan cinta duluan tidak selalu dianggap murahan, karena mereka hanya ingin kepastian.

Seringnya kamu ingin percaya itu semua. Kamu selalu membayangkan, betapa mudahnya jika kamu diberi sedikit keberanian untuk menemuinya, dan mengajaknya bicara empat mata. Tapi semakin kamu pikirkan, semakin kamu enggan. Bagaimanapun kamu tidak bisa menyatakan cinta duluan. Bagimu, masih saja tidak benar kalau perempuan menyatakan cinta duluan. Meskipun alasanmu yang sebenarnya adalah, bahwa kamu takut ditolak dan tak bisa lagi berada di dekatnya meski sekadar berteman.

Ada kalanya kamu merasa begitu putus asa. Haruskah perasaan ini diteruskan, sekalipun tak terlihat sedikitpun ada harapan?

Berpikir kapan akhirnya menyerah | Photo by Joshua Rawson-Harris via unsplash.com

Luka itu begitu nyata dan sakit rasanya. Ada kalanya kamu merasa putus asa itu saat kamu tak kunjung melihat ada harapan dia akan mengetahui perasaanmu. Sudah sekian lama berjalan, sekian banyak perhatian yang kamu berikan diam-diam, tapi dia masih sibuk dengan dunianya sendiri. Kamu pun mulai bertanya-tanya, apakah rasa ini harus diteruskan? Terkadang tekadmu sudah bulat ingin melupakan. Kamu sudah bertekad untuk melanjutkan hidupmu yang telah lama berhenti di dirinya. Tekad itu begitu mantab, sampai akhirnya kamu bertemu dengannya, dan kembali jatuh cinta. Kini kamu sadar bahwa, sebenarnya dalam jatuh cinta, kamu tak punya pilihan.

Mencintainya dalam diam memang sedikit menyakitkan. Tapi tak apa karena itu pun sudah membuatmu cukup bahagia

Masih ada bagian dari dirimu yang ingin tetap bertahan di posisi sulit ini | Photo by Ting Tian via unsplash.com

Mencintai seseorang terkadang memang menyakitkan. Karena segala sesuatu tentang dirinya begitu kamu pikirkan. Apalagi jika orang yang kamu cintai tidak pernah tahu perasaanmu. Sehingga senang dan sedihmu hanya bisa kamu simpan sendirian. Orang bilang membiarkan diri sendiri tersakiti adalah masokis. Tapi bagaimana jika, mencintainya dalam diam sudah cukup membuatmu bahagia? Menatapnya diam-diam, dan memastikan dia baik-baik saja, sudah cukup menjadi pelipur lara.

Cukuplah sekadar tahu kalau kamu memang mencintainya. Sekarang, lebih baik berdoa agar kelak ada akhir yang lebih indah untuk kalian berdua

Sambil tetap menyalakan harapan lewat doa | Photo by Irina Vinichenko via unsplash.com

Kamu bisa memilih untuk menikah dengan siapa, tapi kamu tak pernah bisa memilih kepada siapa kamu akan jatuh cinta. Untuk saat ini kamu cukup tahu bahwa kamu mencintainya, dan tak masalah meski dia tidak pernah menyadari itu semua. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Sementara takdirmu masih menjadi rahasia, kamu tak henti berdoa kepada-Nya agar suatu hari nanti, akhirnya akan lebih manis dari ini. Entah bagaimana nanti, tapi kamu yakin Tuhan selalu punya rencana.

Mencintai diam-diam memang tak pernah mudah. Tapi tak apa, jika itu cukup membuatmu bahagia. Meski terkadang sakit, toh kamu masih kuat bertahan. Yakinlah bahwa suatu saat pasti ada jawaban.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE