Sebagian dari kamu mungkin begitu mengidamkan sebuah hubungan yang romantis bersama si pasangan. Hubungan dimana rasanya dunia hanya milik berdua. Jalinan kasih sayang yang penuh kemesraan dalam bentuk perlakuan maupun dalam kata-kata yang diucapkan. Namun, nyatanya hubungan yang mungkin dianggap sebagai relationship goals-nya banyak orang ini, jutsru menjadi juga hubungan yang begitu dihindari untuk dirasakan secara berlebihan.

Ya, selain karena segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik untuk dilakukan, namun hubungan yang begitu romantis juga ternyata bukan sesuatu yang baik bagi kamu dan pasangan. Bukan tanpa alasan, pasangan yang cenderung terlihat romantis justru semakin rentan untuk untuk putus. Kenapa? Coba deh langsung saja simak beberapa alasannya di bawah ini.

1. Kemana-mana berdua memang romantis, tapi kalau setiap hari hanya melakukan itu-itu saja, memangnya tak bosan?!

Romantis sih, tapi gitu-gitu aja. via photography.nationalgeographic.com

Advertisement

Mereka yang romantis rasanya cenderung untuk melakukan hal yang itu-itu saja alias monoton. Agaknya jelas berbeda dengan pasangan yang “apa adanya”, dimana keduanya terbiasa untuk melakukan banyak kegilaan bersama-sama. Kalau si romantis, misalnya, hanya terbiasa pergi kencan dengan nonton, nongkrong di coffee shop, jalan-jalan ke mal, maka tidak menutup kemungkinan rasa bosan bisa segera terasa di dalam hubungan. Kalau sudah merasa bosan, apa juga bisa jadi alasan untuk menyudahkan hubungan.

2. Kejutan sesekali di momen tertentu memang manis sekali rasanya, tapi kalau sudah terlalu sering yang ada jadi hambar atau biasa

Biasa banget… via www.ranker.com

Memberikan kejutan mungkin bagi kamu sudah menjadi sesutau yang wajar sekali untuk dilakukan. Ya, pikiran itu pun pasti datang pula menghampiri si pasangan romantis yang akan memberikan kejutan dalam bentuk bunga mawar, makan malam romantis, atau hadiah yang begitu manis, misalnya. Kejutan-kejutan itulah yang biasanya akan dengan mudah ditebak.

Meski memang sudah jadi hal biasa, namun memberikan sebenar-benarnya kejutan yang tidak mudah tertebak rasanya juga butuh dilakukan. Nah, hal itu mungkin lebih bisa diungkapkan oleh pasangan yang justru sering terlihat bertengkar. Pasalnya romantisme yang ada seolah membatasi gerak pada hal-hal yang manis saja.

3. Romantis seringkali dikaitkan dengan rasa berlebihan atau lebay. Jelas ini jadi hal yang nggak baik pula dalam hubungan

Jangan lebay deh, ya. via i.huffpost.com

Advertisement

Seperti yang sudah disebutkan, segala sesuatu yang berlebihan tak pernah baik untuk dilkukan, termasuk juga dalam sebuah hubungan. Dan, pasangan romantis itu jadi pasangan yang seringkali dikaitkan dengan rasa tersebut, tidak jarang istirlah lebay dari orang sekitar mampir untuk menghiasi hubungan mereka. Di mana kesan agak lebay itu bisa saja datang dari sikap romantis dan perhatian yang dikasih tidak pada tempatnya.

Dengan kata lain, romantis pun perlu melihat tempat dan tingkat kedewasaan. Kalau romantis yang ada terus berdiri di titik yang sama, berarti hubungan yang dijalin pun tak bawa kemajuan yang berarti. Jadi, rasanya lebih baik dipertimbangkan lagi.

4. Adanya konflik yang harus dihadapi berulang kali pun rasanya bukan tak mungkin terus menemani

Romantis juga perlu kenal tempat dan waktu. via www.thewhistlernews.com

Kebanyakan pasangan romantis selalu mengindahkan kemesraan mereka, ya, memang serasa dunia hanya milik berdua. Sebab itu, sampai menjadi sebuah hal yang wajar untuk dilihat kalau mereka jadi orang yang tidak memedulikan lingkungan sekitar. Nah, kalau sudah begitu adanya, bukan tidak mungkin ada banyak orang yang merasa risih dengan keberadaan mereka dan mempermasalahkan (mungkin) perlakuan romantis yang tidak berkenan.

Meski memang itu jadi urusan pribadi, tapi seperti sudah menjadi budaya orang Indonesia yang kerap kali mencampuri urusan orang lain, termasuk menghakimi romantisme pasangan yang dinilai berlebihan. Kerisihan-kerisihan itu juga yang pada akhirnya bisa berbuah pada konflik. Iya, konflik yang harus dihadapi berulang kali, sampai memang keduanya bisa memperbaiki sikap romantis yang ada pada mereka. Selain akan bisa menodai hubungan dengan sekitar, pertemanan, hubungan yang dijalain juga bisa saja jadi goyang.

5. Adanya sikap dan perkataan yang berpura-pura juga akan jadi bumbu yang hangat menemani hubungan

Nggak tahu mana yang benar, mana yang palsu. via nouba.com.au

Adanya sikap dan perkataan manis untuk mengungkapkan romantisme pada pasangan bisa jadi menjadi sesuatu yang tak sehat untuk dilakukan. Karena bukan tidak mungkin sikap atau ucap romantis itu mengandung unsur bualan atau kepura-puraan. Bahkan dalam hal satu ini apa yang sebenarnya dan mana yang berpura-pura seperti akan sulit untuk dibedakan, terlebih dibuktikan. Apa kamu mau hal itu jadi bumbu yang hangat menemani hubunganmu? Hmm…

Itu dia sederet alasan kenapa pasangan cenderung terlihat romantis justru lebih rentan untuk putus. Mungkin memang agak janggal, tapi melihat kenyataan dari beberapa alasan itu, rasanya tak heran juga kalau hubungan yang dibangunnya harus kandas begitu saja. Jadi, alangkah lebih baik memang memiliki hubungan yang “apa adanya” dan tentu tidak berlebihan. Tapi, ya, semua memang akan kembali pada diri masing-masing, bagaimana menyikapi berbagai sikap dalam hubungan. 🙂

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya