Kangen. Kangen. Kangen.

Terkadang kata sesederhana ini bisa jadi sulit diucapkan. Saat jarak dan kesibukan jadi penghalang. Hatimu sudah berteriak kencang ingin meluapkan rasa. Namun otak dan lidahmu berkata, jangan dulu — tahan saja. Jangan memberatkannya.

Advertisement

Semakin dewasa bahkan rasa kangen harus dipikirkan berulang kali sebelum diungkapkan jadi kata dan dibiarkan menguar ke udara. Perasaan paling nyata macam ini bisa terdengar egois sekali. Dan kamu lebih memilih untuk menanti.

Rindu memang menghangatkan hati. Tapi rindu juga memberatkan, sesekali

Karena kangen kadang egois sekali via www.lyndsaylondonblog.com

Dia bukan pergi untuk alasan macam-macam. Kamu jelas tahu bahwa dia meninggalkanmu sebab urusan kewajiban.

Melepas punggungnya pergi menjauh memang bukan hal yang mudah dilakoni. Rasanya kamu ingin menyublim jadi udara. Atau memasukkan diri dalam kantung kemejanya. Bukan karena apa-apa. Kamu hanya ingin kalian bersama.

Advertisement

Mengatakan bahwa kamu rindu memang lebih sering menghangatkan hati. Namun mengungkapkannya sering-sering juga harus diakui memberatkan langkah kaki. Padahal kamu selalu ingin jadi pasangan yang menguatkan selama ini.

Mengungkapkan rindu membuatnya mengkhawatirkanmu di sini. Padahal cinta yang dewasa adalah cinta yang mandiri

Cinta yang dewasa adalah cinat yang mandiri via www.kellyhornberger.com

Cinta yang dewasa adalah cinta yang bertahan dalam berbagai keadaan. Meski sedang banyak pekerjaan dan sebenarnya butuh pelukan. Walau tak bisa langsung bercerita dan ditanggapi saat butuh dukungan.

Rindu, jelas lebih mudah diungkapkan. Namun pertanyaannya apakah ia menguatkan? Apakah rasa yang bebas dikeluarkan memampatkan pondasi yang dibangun mati-matian?

Rasanya rasanya jawaban atas pertanyaan itu lebih banyak tidaknya. Mengungkapkan rindu sering-sering hanya membuatnya mengkhawatirkanmu di sini. Lebih baik kamu bertahan menghadapi semua sendiri. Sebab kamu sungguh mengerti. Ini bukan cinta anak kecil lagi.

Waktu kata ‘Kangen’ terdengar egois sekali, kamu memilih bersabar dan menanti

Akhirnya kamu memilih bersabar dan menanti via storyboardwedding.com

Rindu? Pasti.

Tapi bukan berarti rindu tidak bisa dihadapi. Rindu kalian kali ini adalah rindu yang bisa dijinakkan dengan kesibukan. Rindu yang akan mereda selepas disapih dengan penjelasan dan kesabaran. Rindu kali ini bukan rindu keras kepala. Dia mau diajak bekerjasama dan mendengar seperti manusia dewasa.

Ada masa saat mengungkapkan rindu terdengar egois sekali. Ungkapan kangen hanya memberatkan langkahnya yang mesti mencintaimu dalam sabar dan sunyi. Kalian tidak dipertemukan hanya untuk saling memberatkan macam ini.

Untuk itu, kamu memilih menanti.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya