Perasaanmu sudah mulai buyar. Dia yang dulu kamu bela dan manjakan dengan cinta kini berubah, menjadi pribadi baru yang sulit untuk ditebak. Kamu bertanya-tanya, siapa gerangan yang mengubah semuanya. Siapa pula yang membuatnya lupa, bahwa ada cinta sebesar rasa cintamu. Hatinya mungkin berteriak keras, bahwa otaknya kini sudah mulai tidak waras.

Kamu khawatir. Kamu bimbang. Kamu gusar. Kamu heran, di mana Tuhan saat semuanya begitu memusingkan? Sementara ini kamu kacau, yang kamu bisa hanya meracau.

Bukan Tuhan yang seharusnya kamu salahkan. Tapi kamu dan dia, yang sebegitu sulitnya untuk mengatur laju perasaan.

Sayang dan cinta boleh saja ada, tapi perubahan rasa tetap bisa datang kapan saja

perubahan perasaan bisa datang kapan saja via entrepreneur.com

Jika tiba-tiba dia mengirimkanmu kalimat sepedih ini :

Advertisement

“Sayang, maafin aku. Aku sadar, kalau cinta itu nggak bisa dipaksa. Kemarin aku ketemu dia, teman lama yang sekarang jadi satu tempat kerja. Dia sekarang jauh beda, dan aku selalu nyaman dibuatnya. Apalagi kita sekarang terbentang jarak, dan pertemuan ini akan semakin sulit. Aku yakin kamu akan menemukan yang terbaik, Sayang. Maafin aku, ya. Kayaknya kita sampai di sini saja.”

Terima saja. Ya, terimalah dengan lapang dada. Bukan melarangmu untuk menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Tapi belajarlah menata hati, pun perasaanmu. Kamu sudah dewasa, mulailah bersahabat dengan kebiasaan menerima. Jika bukan dia yang jadi jodohmu, akan ada orang lain yang dengan setia dan bersabarnya menantimu.

Berpacaran lama bukan jaminan, jika ternyata selama ini tak pernah ada kenyamanan

ternyata, tak ada kenyamanan via india.com

Definisi nyaman itu macam-macam. Berada di pundaknya seharian juga bukan pertanda kalau kamu dan dia telah larut dalam perasaan. Pahami baik-baik, kenyamanan seperti apa yang sedang kamu cari.

Dia mungkin telah memberikanmu banyak bunga dan sebatang cokelat sehari sekali, tapi tak berarti dia rela untuk urusan hati. Seromantis apapun kata-katanya, kamu pun harusnya membuka mata kalau itu hanya sebuah kata.

Rasa nyaman itu tak bisa dicari, tapi berawal dari hati. Meskipun selama ini kamu dan dia selalu bersama, tak menutup kemungkinan bahwa pandangan mata akan bisa mengarah pada siapa saja. Siapa tahu, cintanya selama ini bukan hanya untukmu. Bukan menakuti, tapi kamu wajib mawas diri.

Lalu, apa kabar dengan seseorang bernama mantan? Ingat, kapan saja dia bisa datang

apa kabar dengan mantannya? via pixabay.com

“Kemarin aku ketemu Diva, Yang. Dia nyapa aku duluan di cafe. Aku pangling, sekarang dia jauh berbeda. Dia ngajak aku ngobrol, dan akhirnya aku bertukar nomor telepon. Bukannya aku bermaksud menyakiti, tapi tiba-tiba ada sebuah dilema yang menyerang hati. Aku suka (lagi) sama Diva. Aku harus gimana, Yang? Hubunganku sama Diva sudah sangat terjalin lama, dulu. Sorot mata Diva juga nggak bisa bohong. Aku yakin Diva masih sayang juga sama aku. Sayang, apa aku harus ninggalin kamu dan memilih Diva?”

Jangan dulu dibayangkan, karena pasti akan sangat menyakitkan. Jadikan penggalan kalimat tadi sebagai bahan renungan, agar kamu lebih hati-hati dalam membina sebuah hubungan.

Pacarmu ini manusia biasa. Selain jauh dari kata sempurna, dia juga bisa khilaf tanpa kamu duga sebelumnya

dia bisa khilaf kapan saja via desibucket.com

Tak perlu terlalu jumawa. Dia yang selama ini terlihat baik-baik saja, bisa saja khilaf tanpa kamu sangka-sangka sebelumnya. Bukan khilaf karena menggoda yang lain saja, tapi juga mengabaikan cintamu itu dengan teganya. Kamu perlu khawatir, agar suatu saat tak terjebak dalam buruknya nasib dan takdir.

Menjaganya mungkin menjadi jalan terbaik, pun termudah yang bisa kamu lakukan. Tapi itu semua juga tak menjamin, jika pacarmu ini tak pernah menganggapmu ada dan berharga. Tenanglah, masih banyak sosok baik yang siap kamu perjuangkan di luar sana.