Halo, apa kabar?

Kubayangkan kau akan terkejut membaca suratku ini. Kau pasti sudah paham, aku bukan orang yang pandai mengungkapkan perasaan lewat tulisan. Tanpa sebuah alasan yang kuat, mustahil aku mau susah payah menulis surat.

Oh iya, kau tentu masih ingat kisah kita dulu. Dan tulisan ini akan sejenak membawa kita kembali ke masa lalu. Tapi maaf, aku bukan ingin merutuki keadaan atau berharap cerita kita bisa diulang. Surat ini adalah peringatan, agar kau tak seenaknya bermain-main dengan perasaan.

Dulu aku seorang pesakitan. Ditinggal olehmu tanpa alasan, aku limbung tak tahu kemana harus ‘pulang’.

aku tak tahu kemana harus pulang

“Bagiku kau adalah rumah. Tempatku berkeluh kesah, tentang segala remeh temeh dunia yang semakin membuat jengah…”

Advertisement

Kau pernah jadi teman yang paling menyenangkan. Kau rekan yang selalu bisa diandalkan. Bersamamu, aku menemukan apa itu kebahagiaan. Setelah sebuah penyataan dan pertanyaan yang terdengar tulus keluar dari mulutmu, aku sepakat untuk merencanakan masa depan bersamamu.

Sayangnya, harapan-harapan indah itu hanya ada di dalam kepalaku saja. Kau justru memilih pergi, tanpa aku tahu apa yang jadi alasannya. Dan setelah kepergianmu, hidup rasanya tak bisa berjalan baik-baik saja. Kau hebat karena berhasil meninggalkan luka hati yang sakitnya luar biasa.

Betapa sakitnya jadi aku, kau jelas tak pernah tahu. Bisa bertahan sampai detik ini adalah pencapaian terbesar dalam hidupku.

kau tak pernah tahu, sakitnya jadi aku via dylandsara.com

Kita pernah jadi dua orang paling bahagia di dunia. Aku yang dulu membuatmu tergila-gila, dan kau yang menjadikan hidupku lebih berwarna. Kita bahkan sering bicara tentang masa depan, pernikahan, hingga soal menghabiskan masa tua bersama di sebuah rumah di pedesaan.

Bagiku, rencana-rencana itu terlalu indah jika tak diwujudkan. Pantas saja setelah kau pergi, hidupku jadi berantakan. Aku tak tahu kemana kaki-kakiku harus melangkah. Tanpa kau, hidupku rasa-rasanya sudah kehilangan arah.

“Dulu, kau adalah harapan yang aku semoga-kan. Kau adalah doa yang kurapal di sepertiga malam, dan ku-amin-kan berulang-ulang…”

Setelah berhasil berjuang sendirian, kini kau kembali datang. Gilanya, enak saja kau memohon agar cerita kita bisa diulang.

kini, kau seenaknya kembali datang via dylandsara.com

Perlahan, kesalahan demi kesalahan mulai bisa disadari. Mungkin, memang aku yang tak bisa mengendalikan diri. Menempatkanmu sebagai belahan hati, aku merasa tak butuh apa-apa lagi. Aku lupa bahwa perasaan adalah hal yang paling tak pasti di dunia ini. Aku lupa bahwa kau boleh saja bilang cinta hari ini, lalu esok bilang benci.

“Aku berharap kita bisa bertemu. Minum teh berdua dan mulai berdamai dengan masa lalu. Aku merindukanmu…”

Susah payah berdamai dengan diri sendiri, membaca pesan yang kau tinggalkan hanya membuatku geli. Kita bertemu? Membicarakan masa lalu? Rindu? Hey! Setelah kau meninggalkanku tanpa alasan, pertemuan denganmu adalah yang paling tak kuharapkan. Kau yang memilih pergi, maka selamanya jangan pernah berharap untuk kembali.

Aku sadar hidup lebih layak dijalani sendirian, tanpa pasangan yang nyatanya tak pantas dipertahankan.

hidup lebih baik dijalani sendiri via dylandsara.com

Meski pernah limbung lantaran ditinggalkan, toh sampai hari ini aku masih bisa bertahan. Mati-matian berusaha kembali menata hidup, aku sadar masih banyak hal yang bisa diperjuangkan. Pendidikan, pekerjaan, keluarga, teman-teman, dan bukan kau pastinya.

Kini aku bahagia hidup sendiri saja, tanpa pasangan yang ada di sisi sehari-harinya. Bukan berarti trauma atau tak percaya cinta, aku hanya lebih berhati-hati agar tak jatuh ke lubang yang sama. Bagiku, kau hanyalah sepenggal kisah pahit di masa lalu. Cukup sekali kau mampir di hidupku, tapi jangan berharap untuk datang dan kembali mempermainkan perasaanku.

Kau yang dulu memilih pergi, jadi jangan berpikir bisa seenaknya kembali lagi.

jangan berharap untuk kembali via dylandsara.com

Pilihan selalu datang sepaket dengan konsekuensinya. Kau pun cukup dewasa untuk bisa berpikir dan mengambil keputusan dengan bijaksana. Jika dulu kau memilih pergi, kuharap kau punya alasan kuat yang memang sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Dan sebelum memohon untuk kembali, seharusnya kau berpikir lebih dari seribu kali.

Di dunia ini tak ada wanita yang mau diperlakukan seenaknya. Setelah dihempaskan begitu saja, mustahil untuk kembali menjalani hubungan seperti sebelumnya. Aku mungkin sudah memaafkanmu, tapi bukan berarti kita bisa kembali seperti dulu. Terima kasih. Dan mulai hari ini semoga kau tak lagi mengganggu hidupku.

Kira-kira Jovial Da Lopez pernah ngajak balikan mantannya gak sih? Hihi

Tabik!