Gaslight atau gaslighting, memang hanya sebuah kata yang diambil dari judul sebuah film di tahun 1940-an. Dalam film itu diceritakan bahwa seorang suami membuat sang istri gila dengan memanipulasi pikirannya. Tindakan ini sesungguhnya sangat bisa kita temukan di dunia nyata. Entah dalam ranah hubungan kerja, persahabatan, dan tentunya asmara.

Menurut Psychology Today, gaslighting adalah sebuah upaya mengontrol hidup seseorang dengan memanipulasi pikirannya. Gaslighting terdiri dari mental bullying, kebohongan, dan juga suatu bentuk dominasi. Seorang gaslighter akan melontarkan kebohongan berulang-ulang hingga akhirnya si korban meragukan mana yang benar dan mana yang salah. Jika hal-hal di bawah ini terjadi, kemungkinan pasanganmu adalah seorang gaslighter. Hati-hati.

1. Dia sering memberi pujian dan kata-kata manis. Terutama di awal-awal hubungan, ataupun saat kalian sedang mengalami pertengkaran

Jago merayu via www.123rf.com

Advertisement

“Aku bersyukur banget. Karena setelah sekian lama perjalanan hidupku, akhirnya aku ketemu kamu.”

Untuk bisa mengontrol seseorang, pertama-tama tentu harus memikat hatinya. Karenanya, seorang gaslighter kemungkinan besar adalah mereka yang jago menyusun kata-kata manis, merayu dengan agresif, dan membuat seseorang terpikat dengan mudah. Bisa juga dengan sikap yang sangat mengayomi, sehingga kamu mudah merasa nyaman dan berpikir bahwa akhirnya kamu menemukannya, si belahan jiwamu di dunia.

2. Kebohongan demi kebohongan mulai dia lontarkan untuk menutupi kesalahan. Mulai dari yang sepele hingga hal-hal yang besar sekali

bohong terus kayak pinokip (Image by Roland Schwerdhöfer) via pixabay.com

“Kamu pelupa banget deh. Kemarin aku udah bilang kan?”

Advertisement

Lalu, untuk memanipulasi, dia akan mulai akrab dengan kebohongan-kebohongan tentang hal-hal sehari-hari. Mulai dari yang sepele, sampai hal-hal yang besar. Bagaimanapun juga, kebohongan yang dilontarkan berulang-ulang lama-lama akan kamu percayai juga bukan? Karena dia sering menyebutmu pelupa, lantas kamu merasa dirimu memang seorang pelupa.

3. Dia sering menyepelekan masalah yang terjadi. Seolah-olah kemarahanmu itu lebay sekali

Gitu aja marah! via www.123rf.com

“Astaga, kamu marah cuma gara-gara hal kayak begini?”

Sama seperti pasangan lainnya, hubungan kalian juga tak luput dari masalah. Ada kalanya kamu berusaha bersikap terbuka dengan mengungkapkan apa yang jadi keberatanmu ataupun menyampaikan kemarahanmu. Tapi responsnya selalu menggampangkan dan menyepelekan segala sesuatu. Seolah-olah kemarahanmu itu terlalu sepele dan sikapmu itu yang lebay. Apakah kamu mengalami ini juga?

4. Dia sering berusaha memutarbalikkan fakta dengan menyinggung-nyinggung kekuranganmu

menyinggung kekuranganmu via www.123rf.com

“Nggak mungkin aku yang salah. Nggak! Tuh, tuh, kamu selalu gitu kan? Kamu kan pelupa banget!”

Seorang gaslighter adalah sosok yang cermat. Dia memanfaatkan kedekatan kalian untuk mencari tahu apa kekuranganmu, dan menjadikan hal itu sebagai senjatanya. Saat sebuah masalah terjadi, dia tidak akan mau disalahkan, dengan cara menyerangmu tepat di kekuranganmu. Dengan begitu, kamu akan berpikir “Oh iya juga ya…”

5. Dia menjadikan dirinya sebagai satu-satunya orang yang ada untuk kamu, dan menyakitkan bahwa kamu tak punya yang lain selain dirinya

seolah kamu hanya punya dia (photo by starflames) via pixabay.com

“Cuma aku yang bisa terima kekuranganmu apa adanya, sayang. Orang-orang itu cuma manfaatin kamu doang!”

Manipulasi hubungan adalah salah satu caranya untuk mengontrolmu. Mungkin dia akan menjelek-jelekkan orang-orang di sekitarmu–baik teman ataupun keluarga–dan membuatmu mereka itu toxic people yang harus dihindari. Sebaliknya, dengan sikapnya yang manis, dia akan membuatmu merasa bahwa dirinyalah satu-satunya orang yang kamu punya dan paling mengerti kamu. Bahwa kamu nggak akan bisa hidup tanpanya.

6. Ketika melakukan kesalahan, dia akan minta maaf. Tetapi juga menyertakan pembelaan berupa “Aku begini kan juga karena kamu…”

aku begini karena kamu begitu via www.123rf.com

“Ya kan aku nggak akan begini kalau kamu nggak gitu! Jangan nyalahin aku dong!”

Setiap masalah yang terjadi, dia akan menyalahkanmu dengan argumen yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal pun. Pokoknya semuanya salah kamu. Kalaupun pada akhirnya terbukti bahwa dialah yang salah, dia akan memutar faktanya kepadamu dengan cara membuat alasan “aku nggak akan begini kalau kamu nggak begitu”. Aktingnya begitu meyakinkan hingga kamu akan berpikir “Oh iya ya, mungkin sebenernya memang aku yang salah.”

7. Dia sering menuduhmu melakukan ini dan itu. Padahal, asal kamu tahu, tuduhan itu adalah proyeksi yang dia lakukan di belakangmu

sering menuduhmu melakukan hal buruk via www.123rf.com

“Kok kamu nuduh aku selingkuh? Padahal kamu yang sering jalan sama sahabatmu itu. Kamu yang selingkuh, kan?!”

Bukan hanya membuatmu merasa bersalah atas banyak hal, dia juga sering menuduhmu melakukan hal-hal buruk yang sebenarnya tidak kamu lakukan. Namun, karena dia menuduh itu berulang-ulang dengan bukti yang seolah-olah meyakinkan, kamu pun jadi bingung: jangan-jangan memang iya aku melakukan yang dituduhkan? Namun, terkadang, tuduhan yang dia berikan itu adalah hal yang sebenarnya dia lakukan. Menuduhmu akan membuatnya merasa lebih baik karena menghilangkan rasa bersalah.

8. Ketika kamu akhirnya mengonfrontasinya dengan bukti-bukti yang kamu lihat sendiri, dia justru mengelak dan membuatmu meragukan kewarasanmu

Membuatmu mempertanyakan kewarasan sendiri via www.123rf.com

“Kamu yakin yang kamu lihat itu aku? Kamu yakin kamu nggak cuma berhalusinasi? Kamu kan kadang suka mengada-ada. Soalnya aku sama sekali nggak merasa melakukan apa yang kamu tuduhkan.”

Dengan semangat membuktikan bahwa dia melakukan sesuatu yang buruk, lantas kamu pun menyelidikinya. Berusaha mengumpulkan bukti empiris yang bisa kamu jadikan senjata. Tapi ketika bukti-bukti itu kamu perlihatkan padanya, dia justru membuat skenario yang seolah-olah kewarasanmu dipertanyakan. Di sini dia akan menggabungkan segalanya. Mulai dari berbohong, menyinggung kekuranganmu, dan menuduhmu melakukan hal yang buruk.

Seorang gaslighter tak akan mau disalahkan, dan tujuan dari tindakannya tentu untuk menguasai dan mendominasi hidup korban. Gaslighting ini sangat berbahaya, karena bisa-bisa kamu tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kamu juga akan mulai meragukan kewarasanmu ataupun kemampuan berpikirmu. Sama seperti sang istri di film Gaslight yang akhirnya gila, bersama seorang pasangan yang gaslighter bisa mengancam kewarasanmu juga. Jadi, waspadai ya~

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya