Cinta memang seringkali memabukkan. Meski begitu, cinta bisa dibedakan dengan obsesi. Mulai dari durasinya, perasaan meledak-ledaknya, hingga motivasi untuk bisa bersama si dia. Obsesi itu ketika kita begitu menginginkan sesuatu. Setiap hari yang kamu pikirkan hanya bagaimana cara mendapatkannya. Kamu pun melakukan segala cara untuk mendapatkannya.

Obsesi ini ternyata bisa terjadi juga dalam sebuah hubungan yang sedang berjalan lho. Awalnya kamu santai saja dengan penjajakan yang dijalani. Tapi lama-lama kok kamu makin terobsesi dengan hubungan itu ya? Apa-apa soal doi, ini itu yang kamu pikirkan cuma dia. Kapan dong kamu mau memikirkan dirimu sendiri? Mencintai pasangan itu sewajarnya saja, kalau sampai terobsesi, justru kamu sendiri yang rugi. Yuk, lihat dulu tanda-tandanya.

1. Kamu merasa ada yang kurang dan bete kalau lagi nggak sama dia. Mau ngapa-ngapain juga malasnya rasanya

Bete kalau nggak ada dia (Photo by Bruce Mars) via www.pexels.com

Advertisement

Dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang kamu pikirkan cuma dia. Hari ini mau ngapain lagi ya sama dia? Nonton sudah kemarin, jalan-jalan ke mal sudah mulai bosan, hmm, apa berburu kuliner saja ya? Semua rencana yang kamu buat selalu soal bersamanya. Lalu ketika tiba-tiba dia nggak bisa ketemu, atau mungkin ada pekerjaan di luar kota, mood-mu langsung terjun bebas. Kamu jadi bete seharian, mau melakukan apa-apa juga malas rasanya. Yah, mungkin karena kamu terlalu terbiasa apa-apa sama dia. Atau bisa juga, kamu lupa cara menjalani hari tanpa dia.

2. Kamu ingin tahu terus dia sedang apa dan di mana. Dia nggak ada kabar selama 2×1 jam sudah membuatmu panik dan telepon terus jadinya

ngechat teruuus (photo by Helena Lopez) via www.pexels.com

Selain membuat mood-mu terjun bebas, kamu juga sering dihinggapi kecemasan dan kekhawatiran berlebihan ketika nggak sedang bersamanya. Rasanya kamu selalu ingin tahu keadaannya, sedang apa dia, dan dengan siapa. Mungkin karena itulah, kamu terus-terusan berusaha menelepon atau mengirim pesan. Pun, kamu jadi nggak sabaran. Lewat satu atau dua jam dia nggak membalas, kamu mulai heboh dan berpikir yang enggak-enggak. Kamu lupa bawa urusannya bukan hanya kamu, dan urusanmu bukan hanya dia.

3. Kamu makin sering jalan sama teman-teman yang lain. Kalaupun ikutan jalan, yang kamu omongin nggak pernah jauh-jauh dari soal pacar

makin jarang jalan bareng teman (photo by Sake Le) via www.pexels.com

Sudahkah kamu dikatai “bucin!” oleh teman-temanmu? Lantaran sekarang kamu jadi orang paling sibuk, yang kalau mau ngajakin jalan harus membuat janji sebulan sebelumnya dulu. Padahal kesibukanmu itu hanya pacaran. Setiap hari dan setiap ada waktu luang selalu kamu habiskan dengannya, sampai kamu jarang ikut acara kumpul-kumpul dengan teman. Kalaupun ikut, kamu malah membuat mereka bete karena yang kamu ceritakan nggak jauh-jauh dari pacar. Si dia begini, si dia begitu. Padahal nggak semua temanmu pengen dengar cerita soal itu lho.

4. Kalau dipikir-pikir, to-do listmu sehari-hari selalu soal dia. Hal-hal yang dulu kamu suka sekarang mulai jarang kamu lakukan lagi

Dia terus, dia mulu, dia lagi (photo by Leah Kalley) via www.pexels.com

Advertisement

Sebagaimana orang lain, kamu punya daftar hal-hal yang kamu sukai dan hobi. Dulu biasanya kamu memanfaatkan waktu luang, dan bahkan sengaja meluangkan waktu untuk melakukan hobi. Namun, sekarang to-do list harianmu hanya terpusat pada si doi. Hobi dan hal-hal yang dulu kamu sukai kini nggak menarik lagi. Apalagi dia juga kurang menyukai hal itu. Malahan kamu sering ikut dan mencoba-coba hobinya yang sebenarnya nggak kamu banget. Wah, sayang banget ‘kan hobi sendiri yang kamu sia-siakan?

5. Setiap kali mau melakukan apa-apa, kamu selalu bilang dulu padanya. Pokoknya segala sesuatu harus “seizin” dia

Apa-apa harus seizinnnya (Photo by Pixabay) via www.pexels.com

Mau beli baju, tanya dulu model yang dia suka. Mau potong rambut, tanya dulu boleh apa nggak. Bahkan saat memakai lipstick pun kamu selalu mengingat warna apa yang dia sukai. Pokoknya semua hal yang kamu lakukan pada dirimu harus “seizin” dia. Ketika dia mengkritik atau bilang nggak suka dengan penampilanmu, rasa panik itu langsung muncul dan kamu nggak nyaman seharian. Intinya sih, kamu ingin kelihatan menarik di depannya. Sampai-sampai kamu melupakan kenyamanan dan gayamu sendiri, karena ingin menjadi yang dia inginkan.

6. Tanpa sadar, kamu sering ngoyo untuk menarik perhatiannya. Termasuk lewat pertengkaran-pertengkaran kecil yang semestinya tak perlu ada

Caper lewat ngambek (photo by Vera Arsic) via www.pexels.com

Obsesimu padanya membuatmu ingin selalu menjadi pusat perhatiannya. Kamu langsung sebal ketika dia sibuk sendiri dengan pekerjaan, main game, atau malah nongkrong dengan teman-temannya. Karena itu, kamu selalu berupaya keras untuk menarik perhatiannya. Bukan lagi dengan mengikuti dia ke mana pun, tapi juga dengan membuat pertengkaran-pertengkaran kecil yang semestinya nggak perlu. Kamu pun mulai pasang aksi-aksi ngambek yang sebenarnya hanyalah caper. Seandainya kamu tahu, sikap ini justru bisa membuatnya ilfil lho.

7. Kamu nggak bisa bayangin gimana kalau kalian berpisah pada akhirnya. Duh, mikirin kemungkinan itu saja sudah bikin kamu patah hati

takut kehilangan (photo by Pixabay) via www.pexels.com

Setiap hubungan pasti memiliki dua kemungkinan: berhasil atau gagal. Mungkin ketika bersamanya, kamu merasa sangat cocok. Lantas kamu punya harapan besar bahwa hubungan itu bisa sampai ke pelaminan. Namun, di sini kamu memiliki ketakutan besar akan kehilangannya. Kamu membayangkan betapa hancurnya bila kamu nggak lagi bersamanya. Kamu merasa itu mustahil, karena kamu nggak mungkin bisa hidup tanpa dia. Karenanya, sekarang kamu berusaha sekuat tenaga dan melakukan segala cara untuk membuatnya bertahan di sisimu.

Mencintai seseorang memang membawa banyak risiko. Mulai dari risiko cemas, cemburu, marah, dan takut kehilangan. Namun, terlalu ketat mengingat sampai melupakan diri sendiri itu juga bukan solusi. Mencintai pasangan itu sewajarnya saja, sebab kalau berubah jadi obsesi jadinya nggak sehat juga. Hidupmu bukan hanya tentang dia. Ingat bahwa kamu juga punya cita-cita dan hobi sendiri. Jangan mengabaikan dirimu sendiri hanya karena kamu enggan kehilangannya.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya