Kecelakaan yang dialami Lion Air JT 610 setelah 13 menit lepas landas telah menuai banyak asumsi di masyarakat. Seperti kebanyakan aksiden lain, kita tidak bisa benar-benar tahu sebab hilang atau jatuhnya pesawat terbang dalam waktu singkat.

Dibutuhkan investigasi yang seksama untuk benar-benar bisa mengungkap penyebabnya. Tidak jarang, justru banyak masyarakat berasumsi pada satu dan lain hal sebagai faktor pencetus aksiden tersebut, seperti kesalahan pribadi pilot sebagai penerbang dan buruknya mesin pesawat.

Melalui unggahan video di Youtube-nya, Captain Gema Goeyardi, seorang FAA Jet & Multi Engine Flight Instructure, menguak hal-hal yang sebenarnya tidak banyak orang tahu mengenai proses hingga pesawat bisa lepas landas. Baik dari sisi pilot hingga teknis pesawat itu sendiri. Apa saja?

1. Pilot wajib melakukan checklist sebelum penerbangan

Hal yang sering kali muncul sebagai pertanyaan pasca aksiden pesawat adalah ‘apakah kondisi pesawat layak terbang?’ Untuk bisa mengungkap hal tersebut, tentu saja diperlukan investigasi lebih lanjut. Namun, perlu diketahui bahwa semua penerbang diwajibkan melakukan checklist sebelum mereka masuk ke pesawat dan lepas landas.

Checklist yang dilakukan meliputi Load & Trim Sheet yakni semua detil pesawat yang akan diterbangkan, seperti jumlah awak kabin, berat pesawat, berat bagasi, dan lain-lain. Kemudian, Fuel Uplift Record yakni detil pengisian bahan bakar. Dan Flight Dispatch Release yakni segala dokumen yang menjamin kelaikan terbang pesawat.

Advertisement

Semua hal dalam checklist ini harus melalui persetujuan Flight Operation Officer atau FOO dan tentu saja pilot itu sendiri.

2. Medex & Proficiency Test wajib dilakukan setiap 6 bulan sekali

Tidak hanya pada saat tes masuk akademi penerbangan atau bekerja di maskapai saja, pilot sebagai penerbang beserta seluruh kru seperti pramugari & pramugara serta teknisi juga diwajibkan rutin melakukan Medex alias Medical Examination dan Proficieny Test setiap 6 bulan sekali.

Aspek-aspek yang diperiksa dalam Medex meliputi cek laboratorium, tes audiometri, cek gigi, cek mata, rontgen, tes rekam jantung, EEG atau Elektro Ensefalograf, tes fisik, hingga tes kejiwaan melalui serangkaian psikotes. Sedangkan Proficiency Test sendiri dilakukan guna mengukur kemahiran bahasa Inggris di dunia penerbangan hingga keterampilan pengambilan keputusan atau Aeronautical Decision Making.

Advertisement

Kedua tes ini dilakukan guna memastikan bahwa kondisi pilot sendiri memang masih laik terbang, baik secara fisik, mental, maupun teknis.

3. Setiap pilot dilatih untuk hadapi keadaan darurat

Human faktor seringkali jadi hal yang juga dipertanyakan pada setiap kejadian hilang atau jatuhnya pesawat terbang, tidak terkecuali pada tragedi Lion Air JT 610 ini. Menyadari kondisi langit yang tidak berbatas dan sangat tidak terprediksi, sebenarnya pilot sudah dibekali seperangkat keterampilan secara personal maupun teknis untuk menghadapi kondisi darurat macam ini.

Keterampilan dan kemampuan ini terangkum dalam prosedur penanganan darurat bagi pilot untuk menghadapi Engine Failure maupun Inflight Emergencies, mencakup pembekalan QRH atau Quick Reference Handbook juga. Keterampilan itu mencakup bagaimana pilot mengendalikan ketinggian, melakukan manuver, kecepatan, hingga teknis-teknis lainnya.

4. Kegagalan salah satu mesin sudah diantisipasi

Voice of Indonesia

Voice of Indonesia via https://www.voaindonesia.com

Ada pesawat yang berjenis Single Engine dan ada pula yang Multi Engines. Pada kasus Lion Air JT 610 jenis pesawat yang digunakan adalah Boeing 727 dengan Multi Engines. Hal yang mungkin belum banyak diketahui bahwa pesawat berjenis Multi Engines sebenarnya sudah dirancang dengan antisipasi kondisi darurat di udara.

Ketika mengalami kondisi darurat yang menyebabkan salah satu mesin tidak berfungsi, perusahaan perancang sudah mendesain pesawat untuk tetap bisa terbang hingga sekitar satu jam di udara. Selain itu, perusahaan produsen juga biasanya mengeluarkan ‘Part 25 Air Transport’ yang meliputi prosedur pengendalian kecepatan, ketinggian, dan teknis lainnya dalam kondisi darurat. Sehingga, jika penerbang mengikuti prosedur ini, pesawat diharapkan bisa tetap bertahan di udara.

5. Pilot telah dilatih mengasah naluri ‘Personal Minimum’

Delta Force

Delta Force via https://news.delta.com

Hanya penerbang yang sudah mendapatkan ATPL atau Airline Transport Pilot License saja yang diperkenankan membawa pesawat komersil multi-engines dengan agenda terjadwal. Di Indonesia sendiri, butuh jam terbang setidaknya 1500 jam untuk mendapatkan lisensi tersebut.

Dan selama masa itu, pilot sebenarnya juga sudah dilatih untuk tidak hanya mengetahui tapi juga memiliki naluri ‘Personal Minimums’ masing-masing. Personal Minimum adalah kondisi minimal yang dibutuhkan pesawat untuk bisa lepas landas dengan selamat, mencakup Pilot, Aircraft, Environment, dan External Pressure.

Tidak cukup hanya memahami saja, pilot terus berusaha mengasah naluri pribadi mereka dan sangat amat berhak untuk menolak lepas landas jika merasa kondisinya memang tidak memungkinkan.

Bagaimana pun juga, tidak ada seorang pun yang mengharapkan kecelakaan terjadi. Yuk, kita berhenti menyebarkan kabar-kabar hoax yang sifatnya menuding satu sama lain. Semoga tim KNKT bisa segera mengungkap sebab jatuhnya Lion Air JT 610 ini, ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya