5 Fakta Kuliah di Sastra Jepang. Proses Belajarnya Menantang Plus Menyenangkan

kuliah sastra Jepang

Teruntuk kalian yang sudah atau akan melanjutkan studi di perguruan tinggi, gimana deg-degan nggak? Sebelum terjun ke jurusan yang kalian tuju ada baiknya untuk mencari tahu fakta-fakta tentang jurusan tersebut. Sekarang mari mengenali 5 fakta tentang berkuliah di jurusan sastra Jepang.

Siapa tahu kalian jatuh hati dengan jurusan ini~

Advertisement

1. Nggak semua mahasiswanya Wibu

cosplay - Photo by Donald Tong from Pexels

cosplay – Photo by Donald Tong from Pexels via https://www.pexels.com

Beberapa celotehan yang diterima oleh anak-anak sastra Jepang saat disapa oleh anak jurusan lain adalah…

“Wah sastra Jepang? Wibu dong!”

“Cieee Wibu!”

“Waduh Wibu nih, udah nonton berapa banyak anime?”

Advertisement

Wibu berasal dari kata Weeaboo yang secara umum berarti orang yang terobsesi dengan Jepang dan budayanya bahkan melebihi budaya mereka sendiri. Biasanya seorang wibu identik dengan pakaiannya yang diselaraskan dengan tokoh-tokoh anime yang mereka tonton.

Meskipun berkuliah pada jurusan sastra Jepang, tidak semua mahasiswanya Wibu lho! Mahasiswa yang masuk ke jurusan manapun pasti memiliki alasan yang berbeda-beda, bisa saja memang tidak diterima di jurusan lain, ingin mendalami bahasa Jepang, dan sebagainya. Jadi hindari nyinyir bahwa semua mahasiswa sastra Jepang Wibu ya!

2. Tidak selalu bisa baca kanji

Advertisement
hiragana, katakana, kanji

hiragana, katakana, kanji via https://unsplash.com

Yap, bahasa Jepang memiliki banyak aksara yaitu hiragana, katakana, kanji, dan romaji. Paradigma orang-orang bahwa mahasiswa selalu bisa baca kanji adalah salah besar.

Secara, kanji yang dimiliki bahasa Jepang jumlahnya ribuan! Untuk belajar sebegitu banyaknya kanji, pelajaran tentang kanji atau yang ada dalam mata kuliah hyouki saja dibagi menjadi banyak bagian, semester satu belajar 1000 kanji, semester dua 1000 kanji, dan seterusnya. Selain hurufnya yang banyak, goresan pada kanji juga banyak, belum lagi jika satu kanji memiliki makna yang sama, mendidih nggak tuh otak?

Dibutuhkan bakat tersendiri untuk dapat menghafalkan semua kanji, bahkan orang Jepang sendiri belum tentu bisa baca kanji lho! Merupakan hal yang lumrah bila ada orang yang menanyakan kanji namun anak sastra Jepang tidak tahu dan menggunakan kamusnya untuk mencari tahu kanji yang ditanyakan. Jadi, sekarang tahu kan baca kanji nggak semudah baca chat gebetan?

3. Belajar di sastra Jepang juga bisa menilai negara ini secara objektif

Berkuliah di sastra Jepang bukan hanya belajar tentang bahasanya saja, tapi budaya (nihon jijo) serta sejarah (nihon shi) masyarakatnya pun ikut dipelajari . Dengan mempelajari budaya Jepang, bukan berarti kita bisa terus menerus mengindahkan segala hal yang dilakukan oleh Jepang. Jepang juga sama dengan Negara lain yang memiliki kekurangan.

Misalnya saja, anak-anak muda Jepang yang malas menikah akan berakibat rendahnya angka kelahiran, sedangkan populasi lansia akan semakin meningkat. Dampaknya siapa yang akan meneruskan Jepang? Jadi, ketika belajar tentang Jepang, mahasiswa sastra Jepang juga diajari untuk meneladani dan mengkritisi setiap budaya yang ada di Jepang. Hal itu menjadikan mahasiswa sastra Jepang tidak memihak salah satu negara saja, namun dapat menilai sesuatu secara objektif.

4. Ini yang penting, selama kuliah, menghafal adalah kewajiban

menghafal adalah keharusan

menghafal adalah keharusan via https://unsplash.com

Tidak heran daya ingat anak bahasa bisa dikatakan bagus, karena mereka harus menghafalkan banyak huruf dan pola kalimat dalam suatu bahasa. Hal itu juga berlaku untuk mahasiswa jurusan sastra Jepang. Begitu banyak dan spesifiknya pola kalimat (bunpou) dalam bahasa Jepang mengharuskan mahasiswanya menghafal setiap ujian mata kuliah tersebut.

Jika tidak menghafal sebelum ujian? Siap-siap IPK anjlok sodara-sodara, karena kalau pola kalimat satu salah otomatis jawabannya salah juga sobat. Hiks, pedih sih tapi menantang juga!

5. Budaya senioritas bukan sekadar formalitas

senpai-kouhai

senpai-kouhai via https://blog.gaijinpot.com

Tingginya budaya senioritas di Jepang dapat tercermin juga dari kehidupan mahasiswa sastra Jepang lho. Mahasiswa sastra Jepang memanggil dosennya dengan sebutan sensei. Menyapa senior dengan sebutan senpai serta junior dengan kouhai sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Di awal menjadi mahasiswa baru, senioritas bukan sekadar formalitas tetapi keharusan untuk mendidik mental. Tenang saja, tidak ada perpeloncoan dalam kegiatan tersebut. Hanya saja mahasiswa sastra Jepang menyerap budaya tersebut agar lebih menghargai satu sama lain.

Kalau sudah dekat sama kakak kelas atau adik kelas mah ya tinggal sapa biasa aja. Seperti ini juga boleh,

“Hai kak!”

“Hai de, jadi boleh minta nomor whatsapp nggak?”

*Kalau modus kayak gitu siap-siap aja diajak baku hantam :))

Itulah fakta menarik tentang kuliah di Sastra Jepang. Buat kamu yang tertarik masuk jurusan ini, siap-siap ya! Akan ada banyak keseruan yang menunggumu!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE