Menikah bukan hanya perkara rasa saling suka dan ingin memiliki, tapi ini tentang kelanjutan hidup untuk seumur hidup. Sebelum memutuskan, pikirkan dulu apakah kamu telah siap untuk memulainya atau belum. Ayo, nilai dirimu sendiri!

1. Mampu mengendalikan ego

Sigmund Freud dengan teori psikoanalisanya, ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas.

Advertisement

Sedang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ego adalah rasa sadar akan diri sendiri.

Seseorang yang telah matang tentu dapat mengendalikan dirinya sendiri. Setiap orang memiliki keinginan yang banyak sekali untuk dipenuhi, tapi jika ia bisa mengendalikannya tentu ia akan memilih mana yang prioritas dan menjadi kebutuhannya. Dengan begitu ia juga bisa memahami mana yang baik untuknya dan juga untuk keluarganya. Tidak hanya semata-mata melakukan apa yang dirinya mau.

Jika kamu telah menjadi orang yang rendah hati dan bisa mengalah dan mengenyampingkan keinginanmu maka kamu telah dewasa dan siap untuk memiliki sebuah keluarga.

2. Memiliki sikap penyayang

Penyayang via http://Slideshare.net

Advertisement

Secara naluriah dari lahir, semua manusia dianugerahi rasa sayang. Hanya saja tidak semua orang bisa mengolah rasa itu dengan baik karena setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda. Dan tidak pula semua orang di sekelilingmu memahami sikapmu.

Jika kamu bisa menjadi seseorang yang penyayang, yaitu bersikap lembut kepada siapapun terlebih anak-anak, memiliki rasa perhatian tehadap orang lain apalagi pada keluarga sendiri itu akan menjadi poin penting untuk menilai apakah kamu sudah siap berkeluarga atau belum.

Jika kamu masih saja masa bodoh terhadap orang lain, maka hal itu perlu diperbaiki agar saat nanti sudah menikah kamu sudah terbiasa menjadi orang yang bersikap penuh kasih sayang. Sikap itu dinilai secara universal bagi semua orang.

3. Sudah mulai belajar dan memahami tugas rumah tangga

Perempuan yang sudah banyak belajar bagaiamana mengerjakan tugas rumah tangga berarti ia sudah siap untuk menikah. Sudah tahu bagaimana memanajemen waktunya esok jika ia memilih untuk tetap menjalani pekerjaannya dan juga siap mengerjakan segala tugasnya di dalam rumah. Sudah mulai belajar sedikit-sedikit jika esok ia memiliki seorang anak, paling tidak sudah membaca artikel-artikel yang berhubungan dengan anak.

Apakah kamu sudah mulai mempersiapkannya? Jika sudah berarti kamu sudah ingin memulainya.

4. Sudah tidak lagi baperan

Perasaan memang sesuatu yang abstrak, tidak bisa didefinisikan dengan jelas seperti apa proses terjadinya. Hanya saja seseorang yang sudah dewasa dalam berpikir dapat mengendalikan perasaan yang tak beraturan. Rasa nyaman yang dirasakan tidak selalu dianggap sebagai sebuah rasa yang spesial. Bisa konsisten pada satu hati berarti kamu telah siap untuk menjalin hubungan ke jenjang pernikahan tapi jika masih sering goyang dan tertarik kiri-kanan berarti kamu belum siap untuk menikah.

5. Sudah memiliki penghasilan tetap

Tetap Berpenghasilan via http://GambarFotoBbm.blogspot.com

Tidak harus memiliki pekerjaan tetap yang penting tetap berpenghasilan. Meskipun perempuan bukan tulang punggung, setidaknya sebelum menikah ia bisa menyiapkan biaya menikah sekalipun setelah menikah nantinya memutuskan untuk tidak bekerja. Jika tetap memilih bekerja itu baik, setidaknya sampai diberikan seorang anak, seorang perempuan bisa membantu menyimpan uang untuk investasi masa depan anak-anaknya esok. Jika kamu telah bekerja itu bisa membantu kamu menjadi siap untuk melaksanakan pernikahan. Bagaimanapun finansial juga sesuatu yang diperhitungkan untuk memenuhi materi yang dibutuhkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya