1. Tentukan destinasi sematang mungkin, biar tenaga, waktu dan uang kalian nggak mubazir!

Yakinlah, nge-rancang perjalanan yang ideal bersama si dia tidak akan menjadi sulit jika kita adalah pribadi yang open minded. Hmm… tidak mesti benar-benar open minded, tapi cukuplah jangan sok tahu. Diskusikan destinasinya! Jangan sekalipun menentukan destinasi tanpa meminta pendapat si dia, meski destinasi itu menurutmu sangat cocok masuk ke dalam tulisan “10 Destinasi Teromantis Abad Ini untuk Pasangan Milenial”.

Mengetahui pendapat si dia tentang sebuah destinasi dapat menjadi krusial. Mengapa krusial? Karena dengan berdiskusi, kita dan si dia bisa menimang-nimang kemungkinan terbaik hingga terburuk destinasi itu. Bisa saja dia telah pernah ke sana dan memiliki pengalaman tidak mengenakkan. Atau bisa jadi fisiknya tidak mendukung karena belum pernah menjalani medan tertentu.

Destinasi bukan hal terpenting dalam perjalanan kalian. Tapi dengan mengetahui destinasi, persiapan traveling kita dan dia akan lebih matang. Dengan berdiskusi pula, kita dan si dia dapat menggambarkan ekspektasi masing-masing tentang perjalanan yang akan dilakukan. Lagi pula, apa sih susahnya komunikasi? Kalian kan pasangan, tho?

2. Bagi-bagi tugas sebelum pemberangkatan dan setelah sampai di lokasi liburan. Ya, hitung-hitung ngetes kekompakan

Karena kita dan dia tidak menggunakan jasa travel agent atau ikut rombongan open trip, maka kalian harus berbagi tugas merancang perjalanan. Mulai dari berburu tiket, menyusun itinerary, perbekalan makanan dan gadget hingga memilih tempat menginap. Misalnya kita udah biasa tidur larut malam, jadi bisa lebih diandalkan untuk memburu tiket-tiket promosi, yang konon katanya lebih banyak bertebaran di sepertiga malam.

Atau, jika si dia merupakan pembaca peta yang handal, tukang kepo kelas wahid, maka dia dapat kita percayakan untuk menyusun itinerary dan menemukan penginapan murah yang masih nyaman ditinggali. Terlebih, jika dia melek dengan situs-situs pemberi kupon atau diskon akomodasi perjalanan dan penginapan.

Dengan berbagi tugas, kita dan dia dapat memupuk kepercayaan satu sama lain.

Kita dan dia dihadapkan dalam situasi untuk menghargai pendapat, berkompromi dengan ego dan menjunjung tinggi tanggung jawab. Terkesan begitu muluk? Tidak juga. Semua hal itu akan kalian rasakan efeknya dengan sendirinya ketika petualangan sedang berjalan.

3. Ingat tujuan kalian berlibur itu apa. Jangan melakukan hal yang tidak ada dalam daftar rencana!

Ada pasangan yang gagal merasakan kebahagiaan selama traveling karena mereka cenderung memikirkan dan menghabiskan energi untuk hal-hal yang sejatinya sepele, seperti “Kok nggak sampai-sampai”, “Ah, delay!”, “Makanan/minuman/kasurnya nggak enak”, atau “Kok busnya jelek?”. Atau terkadang mood jelek tiba-tiba muncul akibat kondisi fisik yang keletihan, jika kita dan dia traveling dalam waktu lama (seperti berminggu-minggu).

Tidak dipungkiri memang, mood baik tidak otomatis muncul setiap hari meski dalam kondisi sedang liburan.

Saat situasi ini mulai menghampiri, ingat kembali bahwa destinasi bukan hal terpenting dalam perjalanan kalian. Esensi terpenting dari perjalanan kalian adalah tentang merasakan pengalaman baru, bukan? Jika pesawat delay, tak perlu menggerutu berlebihan karena itu merupakan bagian dari petualanganmu. Kita bisa berkeliling bandara, mencoba berbagai fasilitas mulai dari WiFi gratis, menemukan spot foto yang Instagramable atau malas-malasan di kursi pijat gratis.

Lagian, asuransi perjalanan yang cukup terjangkau (mulai puluhan ribuan rupiah) kini sudah mulai banyak dijual oleh perusahaan-perusahaan asuransi. Berguna bila sewaktu-waktu pesawatmu delay.

4. Berteman dengan traveler lain juga perlu, biar kalian nggak bosan berduaan melulu

Terbuka

Terbuka via https://iprice.sg

Para traveler menurut saya sebetulnya dapat masuk ke dalam golongan perantau karena spirit yang sama, yakni mau meninggalkan daerah asalnya untuk tujuan tertentu. Bedanya, traveler tidak selalu “merantau” dalam durasi lama. Jadi karena sama-sama berada di luar zona nyaman, tidak ada salahnya kita dan si dia terbuka dan ramah pada traveler lain.

Banyak hal yang akan didapat bila berinteraksi dengan traveler lain. Misalnya, kalian dapat berbagi referensi tempat asyik di daerah yang kita kunjungi. Atau kalian bisa minta tolong untuk mengambil foto kita dan si dia berdua, tanpa harus menggunakan tongsis (terkadang beberapa tempat tidak mengizinkan penggunaan tongsis, loh!).

Jadi meskipun kalian hanya berpetualang berdua, jangan berpikir kalau tak ada interaksi dengan orang lain sepanjang perjalanan kalian.

5. Jangan terpaku pada itinerary saja!

itinerary

itinerary via https://iprice.vn

Let it flow. Jika itinerary kalian terlalu padat, coba kurangi dan sisipkan satu atau setengah hari leyeh-leyeh di penginapan agar fisik tak drop. Itinerary memang penting, tapi bagaimanapun itu bukan lembaran kitab suci yang harus ditaati. Jangan biarkan itinerary menyiksa petualangan kita dan dia.

Apapun yang kalian temukan selama traveling, entah itu enak maupun tidak, adalah seni dari petualangan itu sendiri. Tinggal bagaimana cara kita dan si dia untuk menikmatinya. Dibawa santai, aja! Pernah dengar pepatah “Alam terkembang menjadi guru?" Traveling ini merupakan salah satu bahan pelajaran yang berharga dari alam.

Sudah siap liburan dan menghabiskan waktu berdua belum nih, guys?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya