6 Pemahaman Keliru tentang Feminisme. Yuk, Ketahui Dulu Maksudnya Biar Nggak Salah Menilai Lagi~

pemahaman keliru feminisme

Berdasarkan sumber dari Wikipedia, Feminisme adalah serangkaian gerakan sosial, gerakan politik, dan ideologi yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendefinisikan, membangun, dan mencapai kesejahteraan gender di lingkungan politik, ekonomi, sosial maupun pribadi. A Validation Of The Right Woman oleh Mary Wollstonecraft adalah karya tulis feminis awal yang berisikan kritik terhadap Revolusi Prancis yang hanya berlaku bagi kaum laki-laki namun tidak berlaku bagi kaum perempuan. Di Indonesia pun terdapat kritik pemikiran serupa mengenai ketidaksetaraan dalam menempuh pendidikan yang lebih diutamakan untuk kaum laki-laki daripada kaum perempuan, dan pelopor dari pemikiran tersebut adalah Raden Ajeng Kartini.

Critical Legal Studies yang banyak memberikan kritik terhadap pembentukan peranan hukum, pola hubungan sosial dan ketentuan hukum yang membentuk hierarki secara tidak mendasar juga dipandang sebagai sempalan gerakan feminisme pada abad ke-20-an. Meski telah melalui sejarah yang panjang, sampai saat ini feminisme masih menimbulkan kekeliruan dan kesalahpahaman

1. Melemahkan laki-laki untuk mencapai kesetaraan bagi perempuan

Photo by Samantha Sophia

Photo by Samantha Sophia via https://unsplash.com

Melalui dekonstruksi maskulinitas, feminisme memang bertujuan untuk mencapai kesetaraan gender. Namun, hal ini berbeda dengan melemahkan peran laki-laki lho! Padahal ini sebuah kekeliruan mengingat feminisme adalah gerakan untuk perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan gender yang seharusnya mereka dapatkan, baik dalam lingkup sosial, ekonomi, budaya maupun pribadi. Bukannya memperkuat salah satu jenis kelamin dengan mengorbankan jenis kelamin yang lain.

Feminisme adalah gerakan yang tujuannya bukan hanya untuk kaum perempuan namun untuk semua kalangan. Feminisme mengajarkan tentang kesetaraan gender, kesetaraan sosial dan tidak mengajarkan ideologi kebencian.

2. Alat pembangkangan kaum perempuan

Photo by Andrea Piacquadio

Photo by Andrea Piacquadio via https://www.pexels.com

Kalangan awam mengatakan feminisme adalah perantara perempuan untuk melakukan pembangkangan. Bekerja saat seharusnya mengurus rumah tangga, toleransi berpakaian dan berbusana, juga kerap kali dijadikan bahan untuk melemahkan kaum perempuan. Padahal sejatinya hak-hak perempuan memang patut diperjuangkan. Hak untuk bekerja dan untuk memiliki properti sekarang bukan hanya untuk laki-laki namun telah berlaku sama untuk kaum perempuan.

Toleransi berbusana juga tampaknya menjadi penyimpangan hak terhadap perempuan. Cat Calling pun sering dilakukan laki-laki ketika perempuan memakai pakaian yang minim. Hal yang harus kita garis bawahi adalah setiap perempuan memiliki hak untuk berpakaian dan berbusana sesuai keinginannya, dan sudah sepatutnya kita menghargainya dan bukannya dijadikan sasaran objektivitas.

3. Perempuan menentang dan membenci pernikahan

Photo by Lanty

Photo by Lanty via https://unsplash.com

Pernikahan terasa menakutkan bagi seorang perempuan karena pernikahan seringkali dijadikan alat untuk mengendalikan, hingga kehilangan hak-haknya sebagai seorang perempuan serta menghilangnya ketidaksetaraan peran perempuan dan laki-laki di pernikahan. Laki-laki mampu bekerja, perempuan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Untuk laki-laki dan perempuan mengapa tidak melakukan keduanya saja?

Maraknya kasus kekerasan, kemiskinan, kesenjangan ekonomi di rumah tangga juga telah banyak dilaporkan terjadi karena pernikahan di bawah umur. Tanggapan mengenai perempuan yang tidak menguntungkan dari investasi ekonomi, juga salah satu faktor terjadinya pernikahan di bawah umur tersebut. Memiliki pernikahan yang membahagiakan bukan hal yang tidak mungkin kita dapatkan dan menikahi seseorang yang memang mengerti hak-hak dan kewajiban satu sama lain setelah pernikahan juga salah satu penentu keberhasilan pernikahan.

4. Hanya membantu perempuan untuk mendapatkan hak yang mereka inginkan

Photo de Inzmam Khan provenant de Pexels

Photo de Inzmam Khan provenant de Pexels via https://www.pexels.com

Feminisme dianggap hanya membantu kaum perempuan, faktanya feminisme adalah untuk semua orang. Saat ini pun banyak penggerak feminisme selain perempuan. Laki-laki pun juga berhak mendapatkan kebebasan untuk keluar dari lingkaran maskulinitas, bebas berekspresi untuk memilih karier mereka sendiri, merawat diri ke salon, menggunakan produk kecantikan, bahkan menangis saat hatinya terluka.

Feminisme juga membantu kaum laki-laki menyadari bahwa laki-laki tidak selalu harus menduduki jabatan tertinggi jika itu bukan hal yang diminati, dan perempuan juga tidak selalu harus di bawah laki-laki, perempuan pun bisa menduduki jabatan tertinggi.

5. Dengan feminisme, perempuan bisa mendapatkan gaji setara dengan laki-laki

Photo by Christina @wocintechchat.com

Photo by Christina @wocintechchat.com via https://unsplash.com

Akibat dari budaya patriarkial yang sangat kental, sistem sosial masyarakat modern memiliki struktur yang pincang, hingga menguntungkan pihak laki-laki dan cenderung merugikan pihak perempuan. Mau tak mau sebagian perempuan menerima dan membuat prespektif mereka rendah terhadap diri mereka sendiri. Beruntunglah banyak yang menyadari hak-hak perempuan untuk diperjuangkan dan mendapatkan kesetaraan.

Penggerak feminisme pun telah berjasa besar dalam penyetaraan gaji antara perempuan dan laki-laki. Pada tahun 1965 dalam Equal Pay Right berhasil membuat perempuan menikmati kondisi kerja yang lebih baik dan memperoleh gaji sama dengan laki-laki untuk pekerjaan yang sama, dan pada tahun 1964 dalam Equal Right Act berhasil membuat kaum perempuan memiliki hak secara penuh dalam segala bidang kehidupan.

6. Perempuan memiliki hak atas tubuh sendiri

Photo by Alicia Petresc

Photo by Alicia Petresc via https://unsplash.com

Kerap kali ditentang karena dianggap membenci pernikahan, tidak mengerti peran, hingga menjadikan perempuan menjadi membangkang adalah sederet tanggapan kuno mengenai feminisme untuk perempuan. Anggapan mengenai perempuan yang tidak sempurna karena tidak memiliki atau melahirkan anak dari rahimnya sendiri adalah sebuah kekeliruan, setiap perempuan memiliki hak untuk bereproduksi termasuk juga memiliki hak atas tubuh mereka sendiri

Kontrasepsi dijual secara luas termasuk di Indonesia, tetapi sayangnya kontrasepsi masih terbatas dan hanya di peruntukkan oleh laki-laki saja. Sedangkan kontrasepsi untuk perempuan hanya bisa dilakukan setelah pernikahan dan hal inilah yang membuat perempuan tidak memiliki hak atas tubuh mereka sendiri. Apalagi jika seorang perempuan menjadi korban pemerkosaan dan terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Padahal melakukan aborsi tak salah dilakukan selama masih memenuhi ketentuan hukum yang berlaku, namun sayangnya masyarakat menganggap aborsi justru hal yang tidak baik dilakukan.

Feminisme adalah wajah berbeda yang terwujud dari ekspresi dan pemikiran-pemikiran kaum perempuan dan laki-laki yang memiliki tujuan membangun kesetaraan gender untuk perempuan di semua aspek kehidupan. Namun sayangnya masih banyak kekeliruan yang terjadi karena pemahaman masyarakat yang masih awam.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

une femme libre