Ketika kita sudah tergelincir dalam naungan takdir, terperosok ke dalam usia yang tidak lagi cocok mengenakan dua kuncir muncullah pertanyaan pemecah keramaian dan penyebab keheningan. Pertanyaan yang jika digabung dengan konsumsi opor santan sangat tidak baik untuk kesehatan jantung.

Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain ingin utarakan. Namun kita bisa berdamai dengan mereka dengan cara yang elegan. Berikut tanggapan-tanggapan yang bisa kalian berikan ketika menanggapi pertanyaan yang cukup mematikan:

1. Beri pengertian bahwa pernikahan bukan ajang balapan

Pernikahan itu bukan garis finish, karena hidup bukan arena racing. Hidup tidak kemudian menjadi penuh pelangi dan bertabur unicorn setelah menikah. Ada tanggung jawab yang lebih besar ketika pernikahan disahkan. Ada masa yang mungkin tidak mengenakkan yang harus kita antisipasi.

Advertisement

Ada bibir-bibir kecil kelak yang harus kita beri makan dan kaki-kaki kecil yang harus kita bimbing, karena semua akan dipertanggungjawabkan. Sejatinya pernikahan tidak butuh kuantitas, hanya kualitas.

2. Pernikahan bukan tempat di mana mimpi terhenti

Self Awareness

Self Awareness via https://cdn.shutterstock.com

Orang banyak bilang jika berdua lebih baik ketika kita menghadapi segalanya, tetapi di beberapa kasus malah berdua terasa lebih berat untuk maju ke depan. Ini karena ada perbedaan visi yang tidak bisa disatukan. Pernikahan itu perjalanan yang panjang menuju kebaikan.

Ada beberapa yang memang layak untuk dikompromikan, tetapi beberapa mimpi sangat layak untuk diperjuangkan. Pasangan yang tepat butuh dicari dengan cermat, sehingga tidak ada mimpi yang terkubur hanya karena berbeda pendapat.

3. Pakai analogi mie instant semacam ini, yuk!

Woman eating noodles

Woman eating noodles via http://onlinebizinformation.com

Advertisement

Sesuatu yang sakral tidak bisa serta-merta direalisasikan bagai mie instant yang lima menit diseduh kemudian matang. Karena yang spesial butuh waktu untuk benar-benar layak dimakan. Rawon yang nikmat dimasak sehari sebelum disajikan, terus dipanaskan hingga siap di meja makan. Ada beberapa hal yang harus direncanakan matang-matang.

4. Bukan sekadar menikah, masih ada banyak hal yang harus kamu tuntaskan dulu, sebelum akhirnya fokus pada urusan rumah tangga

man writing blog post in coffee shop

man writing blog post in coffee shop via https://www.freshegg.co.uk

Ada angan yang memang tidak bisa disegerakan, bukan karena tidak ingin, tetapi ada prioritas lain yang ingin dikedepankan. Ada tanggung jawab lain yang menuntut untuk diselesaikan. Semua orang butuh proses yang tidak sama, karena setiap orang mempunyai prioritas yang berbeda.

5. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia, karena menikah bukanlah perkara usia saja

woman executive petar chernaev

woman executive petar chernaev via https://www.accountingweb.com

Semakin dewasa, ada banyak pelajaran hidup yang bisa diambil dan direnungkan. Pembelajaran ini tidak datang hanya saat kita dalam fase menikah. Semua orang punya kemampuan untuk mengambil hikmah dari semua fenomena yang sudah diberikan oleh semesta. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia ketika kita mau belajar dan menjadi lebih baik lagi. Semua kegagalan dan semua pencapaian merupakan hal yang bisa kita ramu menjadi suatu kebaikan di fase kehidupan kita berikutnya.

6. Kamu pun perlu memahamkan mereka, bahwa di setiap proses kehidupanmu ada peran Tuhan, termasuk soal jodoh dan pernikahan

Anthill 7: On Belief

Anthill 7: On Belief via https://images.theconversation.com

Jadi begitu Budhe, kita harus percaya dulu bahwa manusia itu kapasitasnya hanya sebatas perencana. Pemilik semesta itu sang pengambil keputusan yang terhebat di waktu yang paling tepat. Kalau kematian saja tak terhindarkan, apalah susahnya mewujudkan pernikahan kalau itu memang sudah digariskan kan? Ketika pemilik semesta mengiyakan, kita harus yakin pasti semua jalan dilebarkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya