Surga di bawah telapak kaki Ayah.

"Surga di bawah telapak kaki Ibu", terus Ayah dimana? Di pundaknya kali yah (joke)

Pengorbanan seorang Ibu memang tiada habisnya. Sudah mengandung 9 bulan lamanya, lalu harus melawan sakitnya melahirkan sampai harus mempertaruhkan nyawanya, dan belum usai sampai disitu, Ia harus merawatmu lagi hingga besar. Wajar bila banyak yang mengagumi sosok Ibunya.

Lalu bagaimana dengan Ayah? Mungkin kamu melupakan jasa-jasanya, mengabaikannya, atau mungkin hanya tidak kamu sadari saja bahwa Ia juga sangat berjasa padamu. Ini 7 alasan kenapa kamu juga perlu memberikan perhargaan kepada Ayahmu :

1. Saat Ibu mengandungmu, Ayah mencari nafkah untuk Ibumu dan Kamu kelak.

Ia tidak duduk diam di rumah

Ia tidak duduk diam di rumah via https://www.lalabu.com

Ayah pahlawan yang tak terlihat. Ia mungkin tidak bisa 24 jam di rumah bersama Ibumu, tetapi di luar sana Ia sedang bekerja banting tulang untuk kehidupan keluarganya. Apapun pekerjaannya, Ia adalah seorang pahlawan.

Kamu tidak tahu, mungkin Ia tidak merasakan lelah seperti Ibu yang berat badannya harus bertambah karena mengandungmu, tapi Ia berkeringat karena beban pekerjaannya, dan mungkin juga harus menahan lapar.

2. Saat Ibu sedang Berjuang melahirkanmu, Ayahmu Berdoa agar Kalian Selamat

Advertisement

Ayah mungkin tidak harus bertaruh antara hidup dan mati saat kamu lahir, tetapi Ia tidak henti berdoa kepada Tuhan agar Ibumu dan kamu selamat. Ia berdoa agar kamu sehat dan Ibumu tetap sehat juga. Saat kamu lahir dengan sehat, berjuta syukur dia panjatkan kepada Tuhan karena doanya terjawab. Mungkin Ia juga sempat menangis haru karena itu.

3. Saat Ibu merawatmu di rumah, Ayah masih harus pergi bekerja

Dia harus bekerja untukmu dan ibumu

Dia harus bekerja untukmu dan ibumu via http://www.nationmultimedia.com

Ayah mungkin tidak bisa mengikuti perkembangan bayi kecilnya dengan signifikan karena Ia harus berkerja. Ibumu pasti bahagia ketika melihatmu pertama kali bisa menyapanya dengan kata "mama", atau melihatmu pertama kali bisa merangkak. Bagaimana dengan Ayah? Ia mungkin melewatkan momen itu.

Pulang ke rumah saat petang dan mungkin kamu sudah tertidur. Ia hanya bisa mendengarkan cerita dari istrinya tentang perkembanganmu setiap hari. Tapi Ia bahagia, tidak mengeluhkan itu hingga kamu besar. Mungkin Ia juga tidak menceritakan moment itu kepadamu hingga saat ini. Hal yang kamu tahu hanya Ibumu yang menyusuimu di rumah waktu kamu kecil, tidak pedul bagaimana Ayahmu dulu.

4. Ayah juga pernah menangis karena kamu

Ayah peduli banget sama kamu

Ayah peduli banget sama kamu via https://www.i.reddit.com

Advertisement

Laki-laki itu sulit sekali mengeluarkan air mata mereka. Mungkin karena mereka lebih mengandalkan pikiran dibanding perasaan ketika mereka bertindak. Tapi, bukan berarti mereka tidak pernah menangis. Termasuk Ayah, Ia pernah menangis karena kamu. Ketika kamu jatuh sakit, rasanya Ia seakan gagal menjagamu dengan baik.

Terlebih kamu para gadis, ketika kalian disakiti oleh laki-laki lain dan menangis karena mereka, percayalah saat itu hati Ayahmu juga hancur berkeping-keping. Ia hanya tak menunjukannya padamu. Mengapa demikian? Ia mau kamu melihatnya sebagai sosok Ayah yang kuat yang bisa menjadi penopangmu ketika kamu rapuh meskipun Ia juga rapuh.

5. Ayah harus putar otak ketika kamu harus sekolah

Pengorbanan Ayah memang tiada bandingnya

Pengorbanan Ayah memang tiada bandingnya via https://www.linkedin.com

Pekerjaan dengan gaji seadanya saja tidak mungkin cukup ketika kamu beranjak besar. Biaya hidup semakin meningkat, biaya sekolahmu juga tidak murah. Saat itu Ayahmu harus kerja lebh ekstra lagi dari sebelumnya.

Ia harus tetap bisa memberi makan keluarganya, tetapi juga harus mencari uang tambahan untuk sekolahmu. Ayah selalu mau anaknya lebih sukses dari dia, jadi yang harus Ia lakukan adalah menyekolahkanmu dengan baik.

6. Dia menjadi Ayah yang paling "sombong" ketika kamu berhasil

Bahagianya Ayahmu saat kamu berhasil

Bahagianya Ayahmu saat kamu berhasil via http://www.pulse.ng

Percayalah, keberhasilanmu dalam hal apapun dan sekecil apapun, itu merupakan kebanggaan untuknya. Kamu mendapat ranking di kelas, menjadi juara lomba, atau hanya sekedar lulus dari sekolahmu saja. Ayahmu akan menjadi orang yang paling "sombong" saat itu. Ia akan menceritakan kepada saudara dan teman-temannya bahwa kamu telah berhasil.

Mungkin orang lain melihat itu hal yang biasa saja dan mengganggap Ia sombong, tapi itulah Ayahmu. Ia bangga dengan hal kecil yang kamu lakukan. Mungkin ia juga sempat menangis haru karenamu.

7. Ayah tidak menuntut penghargaan darimu.

Dia bahagia dengan hal-hal kecil yang kamu berikan

Dia bahagia dengan hal-hal kecil yang kamu berikan via http://laurasantosphotography.com

Ia tidak perlu menceritakan padamu bagaimana susahnya Ia mencari uang. Ia tidak perlu menceritakan padamu bagaimana lelahnya Ia. Cerita lelah-lelahan itu sudah kamu dengarkan dari Ibumu. Ayahmu hanya menceritakan bagaimana keberhasilannya di kantor, atau menceritakan bahwa Ia sudah sangat kenyang (meskipun mungkin tidak).

Itu karena Ayah mendidikmu untuk jadi pribadi yang kuat, yang tidak hanya tahu mengeluh saja. Sampai mungkin kamu lupa bahwa Ia juga banting tulang. Ayah tidak mengharapkan penghargaan darimu. Tapi kamu bisa melakukan hal-hal kecil yang bermakna untuknya. Mungkin hanya dengan memberikan pujian kepadanya ketika Ia pulang kantor, atau membuatkan segelas kopi hangat sambil menemaninya minum sebentar di teras? Percayalah, Ia bahagia ketika kamu melakukan itu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya