Pernahkah terlintas di benakmu bahwa istrimu nantinya adalah seorang pengajar TPA/TPQ (Taman pendidikan Al Qur'an)? Ketika dibicarakan kepada teman-teman, kolega, saudara, atau seseorang yang baru kamu kenal mungkin tidak begitu membanggakan (bagi pandangan orang kebanyakan) di masa sekarang. Karena memang demikian, banyak orang(tua) yang lebih bangga dengan pekerjaan (sambilan) yang lebih mendatang banyak uang dan menunjang kehidupan (dunia). Namun di bawah ini ada 7 alasan mengapa muslimah pengajar TPA itu istri-able (baca: patut dan direkomendasikan untuk dijadikan istri).

 

1. Perempuan yang Bervisi ke Depan

Muslimah yang menatap lurus ke depan

Muslimah yang menatap lurus ke depan via http://doalangit.wordpress.com

Ketahuilah, dia adalah seseorang yang bervisi ke depan. Baginya kehidupan dunia adalah sementara, sedang tujuan akhir dari hidupnya adalah surga. Dia tidak menghabiskan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan untuk mengejar dunia, dia sering menyisihkan minimal 6 jam sehari untuk akheratnya.

Entah ibadah wajib, ibadah sunnah, maupun tarbiyah (pendidikan). Ketika mengajar TPA pun dia lillahi ta'ala, demi Allah semata sehingga Allah mengkaruniakan istiqomah di jalan-Nya selama bertahun-tahun. Betapa susah di zaman sekarang mencari orang yang mau bekerja bila tidak ada gajinya? Mana ada yang mau bertahan bekerja bila upahnya sedikit? Tapi, tidak bagi pengajar TPA. Baginya mengajar TPA bukanlah bekerja untuk dunia, tapi beramal untuk Penciptanya.

2. Muslimah Langka

mendampingi santri belajar

mendampingi santri belajar via http://komunitasjendela.org

Muslimah yang mau mengajar TPA adalah muslimah yang langka. Coba kamu survei dari teman di sekitar kamu. Paling banyak 3 dari 15 muslimah. Makanya dia cukup langka. Sekarang sudah jarang muslimah seperti itu. Kebanyakan lebih suka menghabiskan waktunya di depan layar kaca dan gadget, menonton TV ataupun jalan-jalan di sana sini.

Dia sungguh berbeda karena dia masih mau menyisihkan minimal 2 hari setiap pekannya, 2 jam setiap pertemuannya untuk menemani adik-adiknya, mengamalkan sunnah yang bisa bertambah walau dia sudah tidak berada di dunia. Beramal jariyah, membagikan ilmu yang berguna untuk di dunia dan akherat.
 

3. Calon Madrasah Keluarga yang Mumpuni

menyimak tilawah Al-Qur'an

menyimak tilawah Al-Qur'an via http://www.hidayatullah.com

Kamu tidak perlu merisaukan masa depan anak-anakmu nantinya. Anakmu akan terjamin pendidikannya, apalagi tentang pendidikan agamanya. Anak-anak yang bukan berasal dari belahan dirinya saja dia didik sebaik mungkin, apalagi anak-anakmu. Insya Allah anakmu tidak perlu ke TPA untuk bisa membaca Al Qur'an, lebih memahami Islam daripada teman sepermainannya, akhlaqnya mulia karena madrasah agama berada di dekatnya, menemani kesehariannya, dan mendidik sepanjang hidupnya. 

4. Menawarkan Keceriaan dan Aura Positif

keceriaan santri

keceriaan santri via http://pbs.twimg.com

Dia akan membuatmu ceria di setiap harinya. Nggak percaya? Cobalah memandang anak didik yang diasuhnya. Adakahkah yang bermuram durja? Adakah yang tidak ceria wajahnya? Adakah yang tidak bersemangat di setiap pertemuannya? Adakah anak didiknya yang tidak tersenyum kepadanya? Pastinya tidak ada kan? Dia akan sudah terbiasa menceriakan anak didiknya, berbagi senyum manisnya.

Pastinya kamu juga akan merasakan aura positif dari belahan jiwamu saat dunia dan (insya Allah) di surga. Anak didiknya saja merasakan nyaman dan teduh ketika berada di dekatnya, apalagi kamu.

5. Peletak Dasar Hakekat Hidup dan Kehidupan

suasana di TPA

suasana di TPA via http://www.lazis.uns.ac.id

Sungguh, muslimah pengajar TPA itu lebih terhormat daripada bupati, gubernur, ataupun presiden sekalipun. Mengapa? Biasanya para petinggi birokrasi itu diberikan kesempatan meletakkan batu pertama di setiap agenda pembangunan infrastruktur, namun pengajar TPA merupakan peletak dasar-dasar kehidupan setiap jiwa supaya bisa mengenal Tuhan-nya yang sekarang ini sudah sedikit (banyak) diremehkan oleh kebanyakan orangtua dan keluarga. Kalau dirasakan banyak orangtua yang lebih memprioritaskan pendidikan dan ilmu pengetahuan umum daripada pendidikan agama untuk bekal perjalanan di kehidupannya.

6. Pahlawan Era Abu-abu

Guru TPA di masjid

Guru TPA di masjid via http://lh6.ggpht.com

Ketika berbicara tentang pahlawan, dia adalah salah satunya. Pengajar TPA adalah penyelamat generasi muda yang mulai terlena oleh godaan dunia. Bukan rahasia lagi apabila anak-anak sekarang lebih doyan dengan gadget, game online dan dunia maya lainnya ketimbang mengkaji Al Qur'an. Ketika banyak anak-anak yang lebih sering menghabiskan waktunya di tempat hiburan, dia berusaha mengajak mereka memakmurkan dan mencintai masjid.

Di era informatika dan globalisasi ini semua hal seakan-akan tak ada batasnya, namun pengajar TPA berusaha menanamkan aqidah dan fiqih Islam sedini mungkin yang bermanfaat sebagai pembatas dan landasan berpikir mana yang benar dan mana yang salah ketika mereka mulai beranjak remaja, dewasa dan menghadapi dunia yang sebenarnya. Dimana dunia yang semakin lama semakin abu-abu dan bermuka dua saja.

7. Sosok yang Tidak Bisa Dilupakan

Muslimah pengajar TPA itu adalah orang yang akan dikenang sepanjang masa. Mengapa? Karena dia adalah orang yang membimbing santrinya yang semula buta huruf hijaiyah, terbata-bata mengejanya, tartil melantunkannya bahkan sampai hafidz Al - Qur'an (walau hanya 1 juz atau beberapa puluh surat). Mana mungkin orang yang memiliki peran begitu besar tidak terkenang di dalam relung hati para santrinya. Pasti mereka akan menyapa dia ketika tidak sengaja berjumpa, walau sudah berpisah beberapa tahun lamanya. Adakah diantara kita yang lupa dengan guru ngajinya?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya