Di usia yang sudah dewasa ‘katanya’, memang sudah harus bisa bersikap sebagaimana layaknya orang dewasa.

Tapi pernahkah kamu berpikir kalau usia 20 lebih itu kadang melelahkan? Pernah merasa kalau 20 itu masih muda? Memang benar, usia yang produktif. Lalu sempat kepikiran hal-hal yang lebih besar selain bersikap dewasa?
Mungkin ini juga yang kamu rasakan di usia yang ‘katanya’ masih hijau.

1. Selalu merasa belum cukup setelah apa yang dicapai hingga detik ini

Saat hasil tidak memuaskan, jangan berhenti

Saat hasil tidak memuaskan, jangan berhenti via https://pinterest.com

Hayo, siapa yang selalu ngrasa capaianmu selama ini tidak memuaskan? Sebagian rasa tidak puas mungkin bermuara dari penyesalan masa lalu. Entah itu karena tidak memulai sesuatu dari usia belasan. Hingga akhirnya diusia kepala dua apapun yang dilakuin masih saja tidak berbuah-buah manis.

Advertisement

Tapi ini adalah ujian kesabaran untuk menuai sesuatu yang baru saja kita tanam. Kuncinya sabar dan tetap konsisten. Hasilnya akan memuaskan di waktu yang tepat.

2. Sudah harus bertanggung jawab atas konsekuensi tindakannya

Harus memahami konsekuensinya

Harus memahami konsekuensinya via https://pinterest.com

Ya, ini sudah pasti dirasakan bagi kaum muda 20-an yang bukan lagi anak kecil bebas berbuat apa saja. Semakin bertambah dewasa, kamu akan legal melakukan sesuatu karena memang sudah dewasa dimata hukum ataupun masyarakat.

Advertisement

Orangtua pun sebenarnya sudah melepaskan anaknya yang sudah gedhe, untuk bekerja dimana, meneruskan sekolah sesuai keputusan si anak sendiri. Tapi karena sudah berani memutuskan sendiri harus ambil konsekuensi dan tanggungjawab sendiri pula. Orang dewasa lain tidak mau memaklumi akibat negatif karena kecerobohanmu. So, lebih bijak dalam mengambil keputusan ya gaes.

3. Khawatir masa depan tidak secemerlang cita-cita masa kecil

Cita-cita masa kecil tinggal kenangan

Cita-cita masa kecil tinggal kenangan via https://pinterest.com

Setiap anak muda punya impian yang berbeda-beda. Namun kadang masalahnya, impianmu semakin ke sini semakin harus realistis. Pernah bukan, waktu kecil berkeinginan jadi orang-orang besar dan terkenal?

Di usia yang logika semakin mahir, tentunya jalan yang diambil juga menyesuaikan mana yang menurutkmu masuk akal. Sampai pada titik kamu bertanya, bagaimana kalau masa depanku tidak sesuai yang kurencanakan dulu?

Well, semua bisa berubah seratus delapan puluh derajat tanpa kamu sadari. Termasuk masa depanmu tidak bisa kamu prediksi. Tapi kamu bisa mencoba dan terus berusaha yang terbaik untuk dirimu kelak.

4. Ingin kembali di usia remaja

Usia belasan yang menyenangkan

Usia belasan yang menyenangkan via https://pinterest.com

Kata dua puluhan mungkin usia yang tanggung bila dikatakan remaja terlalu tua, namun dibilang dewasa juga masih seperti daun muda. Tak jarang karena tekanan, istilahnya beban yang semakin berat, membuat kita berangan-angan ingin menjadi anak-anak remaja belasan tahun lagi.

Yang belum memikirkan beban real di masa mendatang. Benar atau enggaknya, duapuluhan itu penentu masa di usia tigapuluhanmu, loh! Boleh-boleh saja kita bertingkah seperti remaja belasan, tapi cukup di ranah orang-orang terdekat saja. Biarkan pribadi dewasamu dikenal luas untuk branding dirimu.

5. Sadar bahwa waktunya serius bukan main melulu

Harus mulai sungguh-sungguh

Harus mulai sungguh-sungguh via https://pinterest.com

Kalimat santai tapi serius sudah menjadi mantra sendiri bagi anak-anak muda kepala dua dalam menjalani aktivitas. Tapi dibalik kalimat itu, serius memang jadi kata kunci bila kamu sudah memasuki usia segitu. Mana bisa terus-terusan bercanda dan melakukan kesalahan berulang-ulang?

Setidaknya kamu sadar hidup bukan permainan belaka, namun kamu harus tahu cara mainnya. Butuh banget yang namanya mengerjakan sesuatu dengan kesungguhan hati. Mau dibercandain terus-terusan tanpa diseriusin?

6. Menemukan passion sejati yang pas di hati

Apa passionmu?

Apa passionmu? via https://pinterest.com

Kalau sudah bisa mengendalikan emosi dan perilaku sendiri, waktunya menganalisis diri apa yang benar-benar kamu inginkan. Di sini antara idealis dan realistis saling merebutkan proporsi terbaiknya.

Namun, kejatuhcintaanmu terhadap sesuatu di usia dua puluhan terbilang beruntung. Misalnya kamu hobi sesuatu sejak kecil, maka akan kamu rasakan benar di usia kepala dua bahwa hal itu menyenangkan semakin membuatmu nyaman. Enjoy is the key. Beberapa masih bingung menemukan passion-nya? Angka 20-an masih ada sembilan angka, sampai 29, jadi take it easy.

7. Mikirin jodoh alias kapan nikahnya

Jodohku dimana ya?

Jodohku dimana ya? via https://pinterest.com

Hal mengenai pasangan pasti terpikirkan di usia 20–an. Hey! Itu hal yang wajar kok. Topik tentang calon suami atau calon istri tidak terhindarkan di masa usia ini. Memang secara angka, usia ini lumrah untuk menikah, kadang beberapa hal perlu dipikir lagi.

Tapi kalau nikah muda masih ngeri bagi sebagian anak muda, jangan jadikan prioritas utama dulu. Karirmu masih bisa kamu suburkan lagi. Buat yang sudah siap mental dan siap calonnya, ya gak maslah buat nikah. It’s about choice in your life. Ingat poin untuk bertanggung jawab? Praktikkan!

Boleh merasa masih muda, tapi ingat waktu terus berjalan, kawan. Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk masa depan yang kamu inginkan. Kalau usia 20-an mu bermanfaat, jangan heran usia 30-an dan 40-an kamu masih bisa mengenang dengan tenang masa muda yang telah kamu lalui. Jadi, jangan menyerah ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya