Pernah merasa kesal dan benci? Pernahkan, tapi jangan berlebihan. Sebab sesuatu yang berlebihan itu tak pernah baik. Memaafkan orang lain memang sukar, tapi kita dapat belajar untuk memaafkan. Tulisan ini dibuat mengandung tujuan, supaya kita lebih mudah disukai.

Dan semua perilaku ini membutuhkan pembelajaran. Artinya membutuhkan usaha, bukan hanya lalui lisan, melainkan juga tindakan, perbuatan, perilaku dan hati. Karena manusia cenderung menyukai apa yang di dalam hatinya baik. Bila di dalamnya busuk, pantas orang enggan mendekat.

Instrospeksi diri sebelum mencaci, sadar diri sebelum menghina, dan lihat dir sendiri sebelum meremehkan orang lain. Semoga kita akhirnya tak jadi melakukan keburukan, sebab ternyata kenyataannya kita memang tak sebaik itu.

1. Belajar Memperhatikan

Monkey via http://pixabay.com

Kita perhatikan dengan baik apa yang diucapkan oleh orang lain. Memperhatikan dengan keseluruhan fokus. Bukan hanya mendengar saja, masuk telinga kanan lalu keluar kuping kiri. Tapi mendengar serta belajar memperhatikan. Padahal dengan mendengar, kita dapat lebih memahami. Ketika teman bicara, kita sibuk main gawai, ini berarti kurang bisa menghargai.

Bukankah setiap orang ingin diperhatikan? Dan membutuhkan perhatian? Maka perhatikan orang dengan seksama, pelajari yang baik-baik apa yang disampaikan. Bisa jadi ilmunya akan kita terima. Karena ilmu dapat hadir dari manapun, kapanpun dan siapapun.

2. Belajar Menyetujui

Success via http://pixabay.com

Advertisement

Terkadang berat mengangguk setuju, terutama bagi pendapat yang kurang sesuai dengan kata hati dan pendapat kita. Tapi kita bisa belajar untuk itu. Kita bisa belajar menyetujui pendapat orang lain yang berseberangan. Bukan menjadi pribadi yang egoistis, melainkan mengalah untuk kepentingan bersama. Dan mengalah bukan berarti kalah, tapi menunjukkan bahwa kita kuat, bersedia menerima pendapatnya itu dengan hati yang lapang.

3. Jujur

Honesty via http://pixabay.com

Berkata kebenaran dan baiknya perilaku. Bedakan antara jujur dan polos. Jujur itu ada saringan, sebab ditambah dengan perilaku santun. Sementara polos tanpa saringan, apa yang A, diucapkannya A, tak jarang menyinggung hati.

Jujur itu hatinya bersih, perilakunya tulus. Tidak curang, tidak berpura-pura, ikhlas membantu orang lain. Dengan kejujuran, orang akan mudah menyukai kita. Sebab kita manifestasi dari pribadi yang manis.

4. Dapat Dipercaya

Lisannya terjaga, omongannya dapat dipegang. Bukankah kita membenci orang yang bermuka dua? Ketika dia ke si A, omongannya A. Datang ke si B, bilangnya B. Munafik, itu yang sering diucapkan orang saat marah ketika dikhianati. Orang munafik dibenci oleh Tuhan dan manusia.

Bagaimana agar kita dapat dipercaya? Kita dapat dipercaya bila kita memang mampu dalam memenuhi tanggung jawab itu. Perilaku, tindakan, pikiran kita, tak membahayakan orang lain. Amanah yang diberikan oleh Tuhan, akan sesuai dengan kemampuan kita. Maka kita berusaha untuk terus meningkatkan nilai dan kemampuan diri.

5. Berpikir Positif

Say Yes via http://pixabay.com

Ketika ada peristiwa negatif sekalipun menyedihkan hati, kita dapat belajar bersyukur dan berpikir positif. Sebab dengannya kita dapat menjadi tegar dan kuat. Ada orang yang selalu berpikir negatif kepada orang lain. Maka orang seperti ini, hidupnya akan penuh kepusingan. Sebab ia memikirkan sesuatu prasangka buruk, yang belum tentu benar. Jangan habiskan tenaga untuk berprasangka buruk pada orang lain. Prasangka buruk pada orang lain saja tak boleh, apalagi kepada Tuhan?

6. Tersenyum

Tersenyum merupakan kebaikan. Dan balasan dari kebaikan adalah kebaikan. Siapa yang tak suka melihat senyuman? Ah, apalagi senyumnya itu manis, bisa-bisa hati kita tertawan olehnya. Sebuah senyuman dapat mengubah pikiran negatif menjadi positif.

Dengan tersenyum, orang akan merasa nyaman dan hangat bersama kita. Tersenyum adalah bahasa universal untuk semua orang. Artinya dengan tersenyum dapat dipahami bahwa, kita ini orang yang baik, tanpa perlu menunjukkan. Kita ini ramah, tanpa perlu memperlihatkan.

7. Suka Menolong

Problem via http://pixabay.com

Menolong berarti meringankan kesusahan, kesulitan, yang dihadapi orang lain. Membantu orang lain supaya dapat melakukan sesuatu. Jangan sampai kita menjadi orang yang kalau butuh bantuan mendekat, kalau telah selesai kemudian pergi. Adanya kalau lagi butuh, ini akan membuat kita dibenci.

Jika ada yang membutuhkan bantuan, dengan sigap kita bersedia untuk membantu. Agar dapat secara otomatis menolong orang lain, maka lakukan kebaikan secara terus-menerus. Perilaku itu akan meresap ke dalam pikiran dan tubuh kita, hingga nantinya tergerak dengan sendirinya menuju kebaikan, menolong orang lain.

Jangan sampai kita inginnya menang sendiri. Kita inginnya berhasil sendirian, tidak memperdulikan yang lain, tak ingin membantu yang lain. Ini perilaku yang membuat kita tak disukai. Bila ingin berhasil, upayakan keberhasilan bagi orang lain. Bila tahu informasi penting, berikan kepada yang lain. Jangan pelit, dan inginnya sukses sendiri.

Kita memang tidak bisa menyenangkan hati semua orang, tapi jangan sampai banyak orang yang membenci kita, sebab lisan, perilaku dan sikap kita yang jelek. Semoga tulisan ini dapat mengubah kita menjadi pribadi yang disukai, dan hal itu membutuhkan proses.

Tulisan ini tak bermaksud menyinggung siapapun. Tulisan ini menjadi nasehat bagi diri saya sendiri. Bahagia bukan ditentukan dari luar, tapi dari dalam diri. Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat untuk kamu.