Provinsi Kalimantan Timur merupakan provinsi yang memiliki sungai paling luas ke dua di Indonesia setelah sungai Kapuas di kalimantan barat. Ialah sungai mahakam. Sungai Mahakam mengalirihampir semua daerah perkotaan maupun desa-desa yang terletak di hulu Kalimantan Timur.

Di Kalimantan Timur, ada banyak desa yang tak terjangkau melalui transportasi darat, sehingga jalur transportasi satu-satunya harus di tempuh dengan transportasi air. Selain sungai Mahakam, ada banyak pula sungai-sungai kecil lain yang menjadi penghubung antara desa di hulu sungai Mahakam dengan kota besar di Kalimantan Timur. Transportasi air yang umum digunakan adalah perahu bermesin yang di sebut longboat, ketinting atau ces. Bahan bakunya di buat dari kayu yang masih“agak” melimpah di daratan hutan kalimantan. Masyarakat asli Kalimantan timur, suku Kutai, terbiasa menyebutnya dengan sebutan ces. Entah darimana asal mulanya, yang pasti sebutan itu melegenda turun menurun di sebut untuk sebutan sang perahu bermesin. Ada juga yang masih menggunakan kapal yang punya setir mirip kapal-kapal besar pada umumnya. Namun bahan bakunya tetap sama : kayu, yang masih “agak”melimpah di daratan hutan kalimantan.

Mata pencaharian utama penduduk di hulu sungai Mahakam adalah bertani, nelayan, berkebun dan pegawai negeri. Rata-rata di setiap desa juga sudah mempunyai sekolah negeri tingkat SD, SMP dan SMA. Ya, walaupun dengan fasilitas yang seadanya, namun mengenyam bangku pendidikan dasaradalah tetap hak setiap anak bangsa di manapun berada, di segala penjuru nusantara . Ya, walaupun jauh sekali kualitas pendidikan dan prasarananya dengan daerah perkotaan, namun semangat juang mereka adalah tetap sama adanya. Lantainya boleh kayu, lapangan tanah dan halaman belakang adalah sawah serta hutan belantara. Namun cita-cita dan angan untuk negeri adalah obor menyala yang di pegang di tangan kanan patung liberty di USA, puncak paling tinggi menara Eiffel Paris dan ujung jembatan terakhir dari tembok raksasa China.Tak kalah dengan  lantai keramik, ruang berkipas angin dan ber-AC serta “bel listrik” sekolah-sekolah di wilayah perkotaan.

Namun  karena itu pula, rata-rata siswa yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi pun tak banyak. Satu angkatan bisa hanya 2 sampai 5 orang.Tentu karena biaya yang di keluarkan untuk melanjutkan kuliah pun juga tak sedikit. Kontras dengan mata pencaharian utama penduduk di hulu sungai ini.Mengenyam bangku kuliah adalah suatu taraf yang “tak mudah" bagi sebagian besar orangtua pada anaknya. Maka, “anak desa” yang beruntung bisa menyandang gelar“mahasiswa” yang berasal dari daerah di hulu sungai Mahakam ini, paham betul bagaimana makna perjuangan ini. Perjuangan Menuju Asa, kata mereka.

1. Transportasi

Pengemudi Ces atau Ketinting khas Kalimantan via https://www.google.co.id

Seperti yang telah disebut diatas, transportasi adalah masalah utama dan vital penduduk di wilayah hulu sungai Mahakam. Transportasi yang cepat, hemat serta efisien adalah hal yang telah lama di idam-idamkan para penduduk di hulu sungai mahakam ini.

Perjalanan yang memakan waktu cukup lama, antara 5 sampai 8 jam membuat mereka berpikir dua kali untuk melakukan perjalanan lintas daerah. Belum lagi dengan akses transportasi air yang kemudian berganti dengan transportasi darat untuk bisa sampai ke daerah perkotaan sangat menguras banyak tenaga, dan tentu biaya. Bayangkan, satu kali perjalanan pulang bisa memakan biaya dari Rp. 200.000 sampai Rp. 600.000. Maka jika melakukan perjalanan pulang pergi alias PP, bisa mencapai Rp. 1.200.000. Setara dengan satu tiket pesawat Balikpapan-Jakarta kelas Eksekutif.

Advertisement

Beruntung baru-baru ini, salah satu jembatan yang di klaim terpanjang di Indonesia (jembatan Martadipura dan jembatan penghubungnya di desa Liang Kota Bangun) telah berhasil membuka akses dari kecamatan Kota Bangun dengan wilayah desa terdekat seperti Kecamatan Kenohan dan Kecamatan Kembang Janggut. Akses jalan daratnya masih mirip dengan permukaan bulan, alias berlubang-lubang di sana sini. Namun apresiasi patut di sematkan pada pemerintah daerah Kutai Kartanegara yang telah berupaya sekuat tenaga demi terbukanya salah satu akses jalan darat ini.

2. Listrik & Jaringan Selular

Saat pemadaman bergilir via https://www.google.co.id

Masalah listrik juga merupakan masalah klasik penduduk wilayah hulu sungai Mahakam. Listrik hanya akan beroperasi di malam hari. Sementara di siang hari, panas matahari adalah cukup menjadi sinar penerangan abadi. Walau akhir-akhir ini telah di bangun pembangkit listrik tenaga limbah kelapa sawit, sehingga listrik bisa di rasakan warga di siang hari (Misalnya di wilayah Kecamatan Kembang Janggut dan Kenohan)namun kadang hasilnya tak maksimal.

Apalagi jika kebetulan produksi perkebunan sawit yang banyak beroperasi di wilayah hulu sungai Mahakam sedang tidak bagus. Keadaan gelap gulita akan menghantui penduduk di malam hari. Pun tidak semua desa punya pembangkit listrik tenaga limbah kelapa sawit. Masih banyak yang mengandalkan tenaga listrik PLN milik pemerintah. Alhasil jika mesin PLN sedang rusak, maka pemadaman bergilir dan tidak adanya listrik di siang hari adalah ciri khas warga yang bermukim di hulu sungai Mahakam.

Advertisement

Sementara itu, ada pula beberapa desa yang masih kesulitan untuk mendapatkan jaringan selular telekomunikasi handphone. Walau tower-tower saluran telekomunikasi beberapa telah dibangun, rupanya tak cukup memadai untuk menjangkau desa yang terletak agak jauh di belakang.

3. Kegitan MCK disungai

Serunya berenang disungai via http://www.kompasiana.com

MCK (Mandi, Cuci, Kakus) di sungai seperti pemandangan biasa warga yang bermukim di hulu sungai Mahakam. Di beberapa desa sebenarnya sudah ada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan sebagian kecil warga sudah punya kamar mandi dan WC di dalam rumah.

Namun entahlah, beberapa warga yang rumahnya dekat dengan bantaran sungai, lebih memilih untuk MCK di sungai tersebut. Mungkin karena telah terbiasa selama berpuluh-puluh tahun hidup dan tergantung pada kekayaan sungai. Karena rata-rata PDAM di wilayah hulu sungai Mahakam pun baru beroperasi sekitar 20 tahun belakangan.

4. Fasilitas Pendidikan Dasar Yang Terbatas

Kalau hujan boleh pakai sendal di dalam kelas.. hihi via https://abasanakgembala.blogspot.co.id

Seperti yang telah disebutkan di atas, akses yang jauh, berarti pula akses pendidikan yang terbatas. Tak ada listrik di siang hari berarti pula tak bisa mengoperasikan komputer untuk belajar bidang studi Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK).

Alhasil, belajar bidang studi Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah dengan membayangkan sedang meng-klik tombol windows atau menekan tuts-tuts keyboard. Tak ada listrik juga berarti tak ada LCD. Tak ada slide yang bisa ditampilkan. Buku-buku terbatas, perpustakaan tak memadai. Standar kurikulum pun seadanya. Kipas angin atau AC? Ah, kan ada kipas angin alami. Semilir angin yang menggoyangkan rumput tinggi ilalang di samping gedung sekolahdan masuk lewat jendela kelas. Sejuk.

5. Makanan “Kota” yang Langka

Jangan harap bisa menemukan ini biarpun sampai tengiler-ngiler via https://kebabonline.wordpress.com

Jangan harap bisa menemukan nasi mawut, mi kuah, capcay, siomay, batagor bahkan pentol bakar dengan mudah di wilayah hulu sungai Mahakam. Apalagi kebab turki, spagheti, atau risol mayo. Bisa saja, tetapi beli dulu bahannya di kota, lalu masak atau panggang sendiri pentolnya di tungku kayu sederhana.

6. Malam Hari Berarti Waktunya “Televisi Dan Hibernasi”

Tak ada sarana hiburan yang memadai. Tak ada tempat hangout yang keren. Bagi warga di hulu sungai Mahakam, Televisi adalah satu-satunya hiburan “mewah” yang ada di tiap rumah. Televisi adalah segala-segalanya. Penyambung informasi apa-apa yang terjadi nun jauh di barat sana, dengan mereka yang ada di sini. Cukuplah untuk mereka. Lalu tak lebih dari jam 22.00 WITA, pertanda jam istirahat malam dimulai. Warga akan terlelap sampai suara kukuruyuk ayam dan cuitan burung-burung di pagi hari akan membangunkan.

7. Kembali

Pergi Untuk Kembali. via http://huytamsapa.violet.vn

Kembali?

Akankah para “anak desa” yang bergelar “mahasiswa” ini akan kembali setelah mereka lulus nanti?

Kembali ke Desa di Hulu Sungai Mahakam mereka?

Entahlah.

Disana ada orangtua yang sangat mereka cintai. Masa kecil yang sangat mereka rindukan. Handai taulan dan kerabat yang ingin mereka pulang.

Namun kota terlalu gemerlap. Terlalu banyak cahaya. Malam tak sepi. Bukan waktu untuk berhibernasi. Cahayanya tak hanya matahari, tak hanya ia sinar abadi penerangan alami. Kesemuanya telah sedikit demi sedikit mengubah pandangan, visi misi dan angan obor menyala serta destinasi dari jembatan panjang Perjalanan Asa mereka.

Akankah kembali?

Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Akankah mereka benar pergi untuk kembali, atau pergi lalu hilang memperjalankan diri, kembali.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya