1. Kamu menyayangiku, dan aku juga

Kamu bukan orang lain

Kamu bukan orang lain via http://quotesmessages.net

Hubungan ini sangat aku kagumi, mengapa? Selain memang sudah dalam usia matang, kamu juga mengajarkan bagaimana caranya pulang. Bagaimana mahkluk hidup tidak semua bernapas dengan paru-paru tetapi ada juga insang. Bagaimana cara berdiri kembali ketika aku merasa terbuang? Mengajarkan bahwa drama-drama kehidupan patut disederhanakan. Sepertinya kita memang dua insan, yang dibesarkan tidak terlalu berjauhan, dan tidak terdapat banyak perbedaan.

 

 

 

 

 

 

2. Berkunjunglah kerumahku, maka kau akan tahu wajah calon mertuamu

Akan tiba suatu masa, dimana kamu ingin keluargamu juga mengenalnya. Memohon restu barangkali mereka juga suka. Membuktikan pada mereka bahwa pilihanmu memang sedehana, tetapi istimewa. "Ibu, perempuan/laki-laki ini yang selama ini membuat keluarga besar bertanya-tanya. Inilah orangnya."

Memang tidak sesederhana kelihatannya, paling tidak beberapa tahapan dari "harapan" indah di masa depan sudah kamu lewati satu tahap. Ya, orang disekitarmu mulai mengenalnya. orang tua mu mulai mengenalnya sebagai sosok yang bukan biasa untuk hidupmu. Sosok calon menantu nya.

 

 

 

 

 

 

3. Keluargamu menyukainya, yeayyy!

Ada yang lebih membahagiakan dari penghargaan sebuah usaha? Yeayyy keluargamu menyukai pilihanmu. Dia pilihan yang tepat. Ayahmu menyukainya.

Bahagia yang sesungguhnya salah satu nya adalah bahwa kamu dapat membagi kebahagiaanmu pada orang-orang yang kamu sayangi. Kamu bahagia, orang yang kamu sayangi bahagia. Kurang apalagi? Kebahagiaan hidup mulai terasa memenuhi rongga-rongga dada. Beberapa saat kemudian muncul beberapa istilah tahapan baru seperti berikut ini.

"ehh, besok jadi nonton SO7? Adikku ikut gabung yaa?"

"aku sudah booking online tiket masuk kawasan wisata weekend ini buat kita." // "booking berapa?" // "dua aja kan buat kita. ada lagi?" // "ehh bapak ibuku kan juga mau ikutan, 4 sekalian yaa"

"bungkus aja ya bakso nya makan disini tempatnya penuh, ibu bapak kamu masih makan bakso kan? mau dibungkusin berapa sama adik juga?"

 

 

 

 

 

 

4. Kok sepertinya ada yang kelupaan yak?

Pada saat kamu sedang menikmati masa-masa berbagi kebahagiaan dengan keluargamu, kemudian kamu teringat akan sesuatu. Bagaimana bisa kamu hanya berbagi pada satu keluarga? Kalian kan berasal dari keluarga yang berbeda. Ada keluarga lain yang harus ikut dalam harapan indah kalian di masa depan. Ya, keluarga nya!

 

 

 

 

 

 

5. Saatnya berkunjung kembali, dan membangun harapan

Pada suatu sore, berbekal sisa-sisa tenaga setelah seharian, akhirnya dia mengajakmu berkenalan pada suatu sosok yang membuatmu sempurna mengaguminya. Calon ibu mertua. Kamu mungkin sempat merasa canggung, tetapi pasanganmu menguatkannya. Tidak perlu membawa-bawa, cukup siapkan senyum dan bahasa tubuh mu seperti biasa. Ibuku akan menyukainya. Ya, seperti itulah sosok yang membuatmu bertahan melewati tahap-tahap hubungan, dia selalu mampu meyakinkan.

 

 

 

 

 

 

6. Hari berikutnya kalimat pertama yang kamu utarakan adalah: "Bagaimana Ibu?"

"Bagaimana ibu? apakah suka sama aku?"

Hari lain sepulang kerja, kalimat pertama yang keluar biasanya adalah "Bagaimana kerjaan hari ini?" Hari ini cukup berbeda, ya karena kamu kemarin baru ketemu dengan sosok yang akan menjadi ibu mu juga. Harapan.

Harapan sepertinya tidak punya ukuran, jadi setiap orang bebas mempunyai harapan sebagaimana mau terbang. Bagaimana kamu membayangkan indahnya kebersamaan dua keluarga yang mendukung kalian pada usia matang. Bagaimana kamu membayangkan akan semakin ramai saja konser SO7 private kalian. Membayangkan bagaimana susahnya membawa semakin banyak bungkusan makanan untuk dibawa pulang. Ahh indah nya kebersamaan.

 

 

 

 

 

 

7. Aku menyayangimu dan ibumu

Lelaki yang kamu kenal cukup mampu menyakinkan, tiba-tiba membutuhkan waktu sedikit lebih lama menjawab pertanyaanmu, "Bagaimana ibu?'

Sebagai insan yang sudah hampir atau bisa dikatakan matang, kamu paham makna dari sikapnya. Kamu tahu jawabannya dan memilih untuk diam sekedar mencari tenang.

Sedikit lebih lama, kemudian sosok yang masih membuatmu bangga membuka kata-kata, "keadaan mengharuskan kita sedikit lebih sabar, apakah kamu mau berjuang bersama untuk ibuku? meyakinkannya lebih hebat, membuatnya jatuh cinta pada mu lebih kuat? membuatnya yakin bahwa anak kesayangannya bersama orang yang tepat?"

 

 

 

 

 

 

8. Pada akhirnya kita memang harus bahagia, setidaknya untuk hari ini

"hai, selamat pagi. Semoga hari mu menyenangkan"

"Selamat siang, jangan lupa makan"

"Sibuk banget ya hari ini?"

"Selamat tidur jangan capek-capek"

Kata-kata yang terlontar untuk sosok yang membanggakan tetap sama. Kalian hanya perlu bersabar. Bukankah waktu akan selalu menjawab?

 

Untukmu, untuk kalian, untuk semua yang masih ada harapan, bersyukurlah. Entah pertanyaannya, "Apakah Masih Ada Harapan, Ibumu dan Ibuku Akan Segera Menjadi Besan?" atau bukan - berharapalah -

Berharap selalu gratis, dan mengharapkanmu selalu membahagiakan, tidak peduli bagaimana denganmu.

 

 

 

 

 

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya