#BelajarDiNegeriOrang-6 Perbedaan Kultur Akademik antara Jerman dan Indonesia Perlu Kamu Perhatikan Nih~

Jerman juga dikenal memiliki kultur akademik sendiri yang berbeda dengan negara lain, khususnya Indonesia.

Jerman merupakan salah satu negara tujuan favorit untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Jerman dikenal memiliki universitas yang berkualitas dan menarik bagi mahasiswa internasional. Ada beberapa bidang studi unggulan di Jerman seperti kedokteran, kimia, fisika, literatur, dan teknik. 

Selain memiliki bidang studi unggulan, Jerman juga dikenal memiliki kultur akademik sendiri yang berbeda dengan negara lain, khususnya Indonesia. Sebelum memutuskan kuliah di sana, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu beberapa perbedaan antara kultur akademik antara Jerman dan Indonesia sebagai berikut: 

Advertisement

1. Tidak malu bertanya

Photo by Felicia Buitenwerf from Unsplash

Photo by Felicia Buitenwerf from Unsplash via https://unsplash.com

Sistem pendidikan di Jerman itu berorientasi pada pola berpikir kritis, sehingga mereka didorong untuk tidak malu bertanya. Aspek ini sudah diterapkan dari sejak tahap pendidikan dasar. Oleh karena itu, mahasiswa di Jerman sudah terbiasa banyak bertanya dan berdiskusi. Mereka tidak takut dicap bodoh karena banyak bertanya.

Hal ini tentunya berbeda dengan kultur di Indonesia pada umumnya, dimana mahasiswa cenderung malu bertanya dan menerima apa saja yang disampaikan dosen. Jika nanti berkuliah di Jerman, jangan segan untuk bertanya ya!

Advertisement

2. Mengutamakan belajar mandiri

Photo by Jeswin Thomas from Pexels

Photo by Jeswin Thomas from Pexels via https://www.pexels.com

Kemandirian dalam belajar merupakan aspek yang dijunjung dalam sistem pendidikan di Jerman. Aspek ini diwujudkan dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas. Ketika mengajar di kelas, dosen umumnya akan menyampaikan poin-poin utama saja.

Akan tetapi, poin-poin yang lebih detail, seperti yang keluar dalam ujian harus dipelajari sendiri. Selain membaca buku referensi yang direkomendasikan dosen, kita juga sebaiknya aktif membaca referensi dari sumber yang lain.

3. Kehadiran kuliah tidak diprioritaskan

Advertisement
Photo by Pixabay from Pexels

Photo by Pixabay from Pexels via https://www.pexels.com

Poin nomor 3 ini berhubungan dengan poin nomor 2 di atas mengenai belajar mandiri. Umumnya, dosen di Jerman tidak mewajibkan mahasiswa untuk menghadiri kuliah. Mahasiswa masuk kuliah dengan kesadaran sendiri jika mereka merasa butuh.

Hal ini berbeda dengan di Indonesia dimana kehadiran kuliah menjadi keharusan dan masuk penilaian. Tidak sedikit juga dosen di Indonesia yang mengapresiasi mahasiswa yang rajin masuk kuliah dengan memberi nilai tambahan. Sayangnya, nilai tambahan bagi “si rajin” ini tidak berlaku di Jerman.

4. Sistem penilaian yang efisien

Photo by Avery Evans from Unsplash

Photo by Avery Evans from Unsplash via https://unsplash.com

Umumnya, ujian setiap mata kuliah di Jerman hanya dilakukan sekali saja di akhir semester. Periode ujian umumnya sudah ditentukan oleh kampus, dan di dalam periode tersebut ujian dilaksanakan untuk semua mata kuliah yang kita ambil. Sistem ini sebenarnya cukup efisien.

Akan tetapi, sistem ini juga membuat mahasiswa stress, karena kelulusan mereka ditentukan oleh satu ujian ini saja. Jika tidak lulus, umumnya dosen masih memberi kesempatan kedua dengan ujian lisan. Berbeda dengan Jerman, di Indonesia umumnya sistem penilaian mata kuliah terbagi ke dalam ujian tengah semester, ujian akhir, tugas, kuis, dsb dengan persentase yang berbeda-beda. Misalnya, jika nilai kita jelek di ujian tengah semester, kita masih bisa meningkatkan nilai di ujian akhir.

5. Tepat waktu

Photo by Black ice from Pexels

Photo by Black ice from Pexels via https://www.pexels.com

Orang Jerman itu dikenal tepat waktu atau dalam istilah bahasa Jerman disebut dengan “pünktlich”. Sebenarnya, kultur tepat waktu juga diterapkan di lingkungan akademik di Indonesia. Akan tetapi, sayangnya kultur ini tidak diterapkan di aspek lain.

Berbeda dengan di Indonesia, kultur tepat waktu di Jerman berlaku di semua aspek kehidupan. Tidak hanya dalam kuliah saja kita harus tepat waktu, tapi juga dalam bersosialisasi. Misalnya, jika kita membuat janji temu dengan teman, pastikan kita tidak telat ya!

6. Mengetuk meja sebagai pengganti tepuk tangan

Photo by Tumisu from Pixabay

Photo by Tumisu from Pixabay via https://pixabay.com

Ada satu kultur unik di lingkungan akademik di Jerman, yaitu mengetuk meja sebagai pengganti tepuk tangan yang disebut dengan „Akademisches Klopfen“. Di setiap akhir kuliah, presentasi, atau seminar, orang-orang akan mengetuk meja alih-alih bertepuk tangan. Kultur ini tentu sangat berbeda dengan di Indonesia. Jika kita mengetuk meja, bisa jadi kita dianggap berisik dan tidak sopan.

Keenam aspek yang dijabarkan di atas merupakan beberapa perbedaan kultur akademik di Jerman dan Indonesia. Semua aspek yang dijabarkan bersifat subjektif dan berdasarkan pengalaman pribadi. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian yang ingin kuliah di Jerman, dan untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan kultur di sana. Selain itu, sebagai mahasiswa, jangan lupa juga untuk bergabung di Qatar Airways Student Club agar kalian bisa mendapat benefit, seperti diskon tiket pesawat, dan benefit lainnya. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE