Beberapa akhir ini sering dikampanyekan gerakan anti pacaran di sosial media. Berbagai alasan dimunculkan sebagai penguat gerakan anti pacaran. Di samping alasan agama, alasan yang dimunculkan bekisar dari efek negatif yang terlalu banyak ketimbang efek positif dalam pacaran. Selain itu, pacaran juga dikaitkan sebagai simbol pergaulan bebas yang bisa mengarahkan pada sex bebas.

Sebagaimana ciri dari sebuah isu, pasti ada pihak yang pro maupun kontra. Yang kontra juga mempunyai alasan yang cukup rasional untuk berpacaran. Kebanyakan alasannya karena mencari pasangan hidup itu tidak mudah. Perlu mengenal terlebih dahulu sebelum memutuskan ke jenjang yang lebih serius. Butuh waktu untuk saling mengenal sekaligus mempersiapkan diri. Tak mungkin kan, membeli kucing dalam karung. Maka, pacaran menjadi cara yang cukup jitu untuk mendapatkan jodoh.

Dengan berbagai pihak yang pro dan kontra agaknya perlu untuk saling menghargai satu sama lain. Tidak perlu saling menghujat. Yang anti pacaran tidak perlu menghujat yang pacaran. Yang pacaran pun tidak perlu mengolok-olok yang anti pacaran. Bagaimanapun urusan jodoh itu hal privasi setiap orang.

Terlepas dari berbagai pro kontra yang terjadi sepertinya perlu dijelaskan lebih detail tentang proses-proses mendapatkan jodoh. Yah, kalau cara pacaran mungkin sudah pada tahu ya. Bukan untuk mendukung yangnpro untuk anti pacaran, melainkan untuk menjelaskan cara-cara menikah yang sebenarnya lazim terjadi di masyarakat. Boleh kok yang jomblo mengikutinya. Tapi jomblonya yang sudah berani melepas kejombloannya lho....

1. Perjodohan

perjodohan via http://www.havoi.com

Sepintas cara ini merupakan cara kuno dan tradisional bagi generasi sekarang. Namun jangan salah mereka-mereka yang dijodohkan malah kadang bisa bertahan pernikahannya. Tengok saja bapak ibu kalian yang dulu dijodohkan. Mereka yang dijodohkan pasti melepas kepura-puraan selama pernikahan. Satu sama lain akan jujur. Sehingga ketika sudah menikah akan lebih mudah untuk penyesuaian.

Meski dianggap kuno, cara ini terbukti efektif untuk menghapus status jomblo seseorang. Tentu tak perlu menghabiskan uang untuk merayu pacar. Lha wong mereka gak saling mengenal. Boleh dicoba kok misal bisa minta ke ortu…hehe. Memang biasanya perjodohan lebih sering terjadi antar keluarga yang sudah kenal dekat. Namun, satu hal yang pasti mau tidaknya perjodohan dilanjutkan atau tidak itu hak masing-masing pasangan. Kalau memang merasa tak cocok ya sudah berhenti.

Di beberapa daerah yang masih memegang tradisi yang kuat, perjodohan menjadi hal yang lumrah. Malahan hak prerogatif dan mutlak ada di tangan orang tua. Ya tak masalah, toh anaknya juga pada mau dan pada langgeng sampai punya cucu. Mungkin karena mereka sudah pasrah dan masih berpikiran tradisional serta tidak neko-neko tentang urusan jodoh jadinya ya gampang-gampang saja. Kalau dibanding yang modern tentu lebih banyak kriteria ini itu yang malah menyulitkan. Yang penting kan bahagia sampai surga. Ciee

2. Bantuan Orang Lain.

Advertisement

Nah, ini sering terjadi bagi yang sudah waktunya menikah. Minta bantuan orang lain untuk mencarikan jodoh. Orang lain itu bisa saudara, kawan, atau orang-orang dekat. Yang jelas orang yang dimintai bantuan itu harus orang yang bisa dipercaya. Bisa memberi info dengan detail tentang sosok calon yang diinginkan. Tentu pada gak mau kan kalau dibohongi. Yang jelas cara ini cukup riskan jika orang yang diminta bantuan tidak jujur. Harus selektif. Sebaiknya ada kroscek terlebih dahulu terhadap info-info yang disampaikan.

Ada juga yang secara tidak sengaja dikenalkan oleh orang lain dan langsung cocok. Mungkin bahasa keren sekarang semacam "mak comblang". Intinya pastikan saja semua info yang diberikan dikroscek. Jangan sampai gelap mata. Hanya karena sudah kebelet nikah dan gak kuat ngampet, langsung menerima info dari orang lain tanpa dicerna.

Pada intinya tidak masalah meminta orang lain untuk mencarikan pasangan yang tepat. Hanya saja memang kredibilitas dan kejujuran orang tersebut harus bisa dipegang. Orang yang dimintai tolong pun bisa lebih dari satu orang. Yah, asalkan orang tersebut juga bisa menjaga rahasia dan privasi masing-masing. Buat jomblo, boleh dicoba kok….

3. Bantuan Ahli Spiritual

Keberadaan ahli spiritual dalam perkara pencarian jodoh begitu besar. Tak hanya dalam salah satu dua saja, tapi juga semua agama ataupun kepercayaan memberi porsi besar untuk urusan jodoh. Dari ahli spiritual yang bermetode modern ataupun tradisional

Yang modern misalnya ada banyak pengajian-pengajian yang berisi tentang bekal pernikahan. Ada juga training pra nikah atau semacam pembekalan yang bahkan difasilitasi oleh Kantor Urusan Agama (KUA). Untuk yang tradisional mungkin pernah dengar ungkapan "cinta ditolak dukun bertindak". Orang-orang jaman dahulu kadang menggunakan semacam cara-cara kuno untuk mendapatkan jodoh hingga menikah. Berbagai bentuknya misal semacam mantra, jampi-jampi, hingga pelet. Di zaman sekarang, praktik tersebut kadang masih sering ditemui. Kondisi masyarakat yang masih plural dan belum tersentuh modernisasi akan menyuburkan model macam ini. Kalian para jomblo mau mencoba??

4. Biro Jodoh.

Nah yang ini lebih modern. Zaman sekarang saat ada segolongan orang yang kesulitan melepas label jomblo, biro jodoh menjadi salah satu solusi jitu. Dari yang ada kantornya hingga on line tersedia. Biasanya biro jodoh ini menampung sekian biodata dari orang-orang yang ingin menikah. Ketika dirasa cocok maka antar calon pasangan akan dipertemukan. Untuk kelanjutan jelas akan diserahkan ke masing-masing untuk memutuskannya. Kalaupun menolak dan mencari lagi itupun gak masalah.

Kelemahan dari biro jodoh ini jelas terletak pada kredibilitas biro terebut. Kredibilitas orang-orang dalam biro menjadi taruhan besar karena bertugas menjodohkan orang lain. Tak sedikit pula yang malah tertipu dengan biro jodoh abal-abal yang kadang memungut biaya. Selain tidak kredibel, kerahasiaan dan kebenaran biodata juga patut menjadi perhatian. Jangan sampai karena keinginan dapat jodoh yang begitu kuat malah membuat teledor. Karena bisa juga sih, biro jodoh yang tidak bertanggung jawab malah akan menyeret pesertanya pada perbuatan kriminal. Pokoknya hati-hati dan selalu kroscek kredibilitas biro jodoh yang akan dipilih. Namun, jika kalian memang ingin mencoba bisa dicoba aja. Lewat on line kan ada…

5. Ikut Training dan Seminar

Yang model gini lagi booming di beberapa tempat. Acara training, seminar pra nikah, atau semacamnya merupakan kombinasi antara biro jodoh dan ahli spiritual. Format acara biasanya cukup padat. Ada banyak materi pra nikah yang disampaikan. Materi disampaikan lebih dari satu pertemuan. Bahkan tak jarang lebih dari 5 pertemuan. Tak hanya materi, pendampingan mental spiritual pun diberikan oleh para pakar yang sudah berpengalaman. Tak jarang juga ditambah amalan-amalan sesuai agama masing-masing. Setelah materi dirasa cukup, akan dilanjut dengan proses perkenalan. Tentu proses ini tergantung dari keputusan peserta yang ikut. Jika memang tidak berkenan alias hanya ikut materi, maka tak akan lanjut. Namun bila ingin lanjut karena dirasa sudah siap, maka akan dilanjut dengan perkenalan.

Biasanya penyelenggara acara semacam ini lebih kredibel dari pada yang lain. Hal itu dikarenakan mereka mengikutsertakan para pakar yang ahli sekaligus melakukan pembinaan dan pendampingan. Tak jarang mereka juga menerima keluhan ataupun menjadi konselor pasca nikah.

Nah, kekurangannya jelas acara ini mahal karena mengundang pakar yang kompeten. Waktu yang dibutuhkan juga lama. Yah, dari pada lama menjomblo mending lama ikut belajar kan?

Tuh kan ada banyak cara untuk mendapatkan jodoh. Kalian yang pengen lewat pacaran ya tak masalah. Yang pengen lewat seperti yang dijelaskan di atas juga tak masalah. Justru yang paling penting yaitu menyiapkan diri untuk menjemput jodoh. Entah menyiapkan mental, dana, tempat tinggal, dan renik-renik lainnya. Serta tak usah banyak kriteria pasangan yang aneh-aneh dan muluk-muluk yang malah menyulitkan diri buat dapat jodoh.

Terlalu banyak kriteria pasangan memang kadang yang malah membuat seseorang kesulitan melepas status jomblo. Terlalu banyak kriteria juga menunjukkan ketidaktahuaan tentang diri alias "nggak ngaca pada diri". Jadi minimalkan kriteria terus pilih cara mencari jodoh yang kamu yakini.

Mau pakai apapun dan kriteria apapun yang paling penting mengisi hari-hari pasca nikah. Romantisme sebelum nikah merupakan hal semu yang bersifat sementara. Namun, setelah menikah cinta yang dibangun akan bermakna hakiki. Gitu mbloo…