Mengenang Cinta Ala Generasi 90an: Kalau Suka Langsung Bilang. Nggak Pake Kode-kodean!

Memiliki cinta monyet saat sekolah dasar. Ada?

Siapa yang lahirnya tahun 90-an? Siapa yang dulunya berangkat sekolah lewat depan rumah si doi, hanya demi bisa jalan kaki bersamanya? Siapa yang dulunya suka beli buku diary dan menuliskan tentang bagaimana keseharian si doi?

Bicara tentang kenangan anak 90-an pastinya banyak sekali. Atau mungkin yang sedang baca tulisan ini langsung scroll ke bawah saja, karena tak sabar membuka memori perjuangan cinta monyetnya. Hayo ngaku?

Inilah beberapa perjuangan cinta monyet generasi 90-an, yang blak-blakan, tanpa banyak kode-kodean. Yang jika ditolak tidak sebaper anak zaman sekarang.

1. Menulis surat yang ditaruh di buku atau kolong meja. Padahal setiap hari ketemu di sekolah

Surat kolong meja

Surat kolong meja via https://www.pexels.com

Advertisement

Siapa yang dulu waktu sekolah dasar suka sama teman sekelas, tapi beraninya cuma menulis surat tanpa diberi nama? Tidak seperti zaman sekarang, anak SD saja sudah punya smarthpone canggih, suka sama lawan jenis tinggal kasih kode lewat pesan WA. Anak generasi 90-an ngabisin stock kertas hanya untuk mencurahkan isi hatinya. Kalian juga?

2. Menuliskan namanya di meja dengan tipe-x atau tinta adalah cara mengukirkan rasa cintamu padanya

Menulis namanya di meja

Menulis namanya di meja via https://www.pexels.com

Siapa yang dulu waktu sekolah suka corat-coret meja dengan nama si doi dikasih simbol love juga? Sebenarnya sih tidak boleh, karena mengurangi kebersihan. Namun entah kenapa, inilah sisi kreatif anak 90-an untuk mengukir nama seseorang yang disukanya. Kalau tidak teman sendiri yang baca, yah siap-siap saja jadi bahan obrolan adik kelas.

3. Berbeda dengan sekarang yang baper dikit update di media sosial, menulis diary adalah obat terampuh untuk meluapkan perasaanmu terhadapnya

Menulis buku diary

Menulis buku diary via https://www.pexels.com

Siapa yang dulu suka nabung hanya gara-gara untuk beli buku diary? Sebenarnya, kalau menurut saya lebih aman sih menuliskannya lewat buku diary, aman dari kesalahpahaman apalagi teman makan teman, seperti yang banyak ditemui di zaman sekarang. Apalagi yang buku diary-nya ada gemboknya tuh. Pastinya aman deh. Tapi, jangan sampai lupa naruh kuncinya di mana, bisa-bisa dibaca sama orangtua tuh.

Advertisement

Dulu saya juga suka menulis buku diary. Sekarang masih tersimpan rapi. Suka ketawa sendiri waktu baca. Mungkin itu salah satu petunjuk jika suatu saat saya bisa jadi penulis. Penulis tentangnya. Hehehhe..

4. Alih-alih menyembunyikannya, jika salah satu teman tahu, satu negara bahkan bisa tahu

Semua temannya tahu

Semua temannya tahu via https://www.pexels.com

Saat suka sama seseorang, kebanyakan anak 90-an sulit menutupinya. Alih-alih menyembunyikannya, jika salah satu teman tahu, satu negara bisa saja tahu tuh. Namun, bagi anak 90-an itu sudah menjadi hal biasa. Justru semakin hari ada yang memojokkan, tiap hari pula ada peluang untuk bisa jauh lebih dekat. Apa di sini hanya saya saja atau kalian pernah mengalaminya?

5. Cara ampuh meluluhkan hatinya adalah dengan memintanya mengajarimu tentang kelebihannya. Zaman dulu belum kenal modus~

Advertisement
Minta diajari kelebihannya

Minta diajari kelebihannya via https://www.pexels.com

Apa yang membuatmu suka sama dia waktu sekolah dasar dulu? Karena dia ranking 1 di kelas? Jago main musik? Jago olahraga? Biasanya jurus anak 90-an untuk bisa dekat dengan doi, menyukai apa yang jadi hobi si doi. Sambil menelan minum air. Selain bisa belajar, bisa sekalian dapetin hatinya. Hahaha… Ini masa kecil. Bisa dibilang cinta monyetlah.

Intinya, sekonyol apapun cara kalian generasi 90-an, kepolosan kalian dalam menyukai seseorang setidaknya jangan membuat kalian bodoh untuk masa sekarang. Jangan sampai karena teman-teman sudah pada menikah, kita terburu-buru untuk memilih pasangan. Ingat umur. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Bukan sekedar hobi melainkan memberi arti.

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE